Daerah

Cerita Theresia: Sarjana Perikanan yang Jalani Karier sebagai Admin Bertahun-tahun

×

Cerita Theresia: Sarjana Perikanan yang Jalani Karier sebagai Admin Bertahun-tahun

Sebarkan artikel ini
Cerita Theresia, Sarjana Perikanan yang Jalani Karier sebagai Admin Bertahun-tahun Regional 21 Juni 2026
Ilustrasi: Cerita Theresia, Sarjana Perikanan yang Jalani Karier sebagai Admin Bertahun-tahun

jurnalistik.co.id – Setelah 12 tahun berlalu sejak menyelesaikan studi perikanan, Theresia Syukur (Tyke) akhirnya menemukan cara bertahan lewat pekerjaan yang jauh dari bidang yang dulu ia tekuni—sebagai admin dan akuntan di Labuan Bajo.

Di rumahnya yang berlokasi di Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, ia menyampaikan rutinitas pekerjaannya saat ditemui Kompas.com pada Jumat petang (20/6/2026).

Tyke kini bekerja sebagai freelance admin dan akuntan pada dua perusahaan swasta di Labuan Bajo sekaligus. Ia baru saja kembali dari tempat kerja ketika percakapan berlangsung.

“Kerja cuma lima jam sehari. Gajinya kecil, tapi yah lumayan dari pada tidak ada,” ucapnya sambil menghela napas.

Ia menceritakan, selama ini ia tidak pernah sekalipun bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Hingga Juni tahun ini, Tyke menempuh jalannya sendiri setelah lulus dari jurusan Perikanan.

Dalam perjalanan tersebut, ia pernah beralih bekerja di sejumlah tempat, mulai dari LSM, NGO, hingga hotel kecil di Labuan Bajo. Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan yang dijalaninya sekarang datang setelah hampir 1 tahun menganggur pada 2025 lalu.

Tyke menyebut, keputusan memilih jurusan Perikanan di Universitas Undana Kupang sempat muncul secara kebetulan. Orangtuanya memintanya mengambil perguruan tinggi negeri agar biaya pendidikannya terjangkau.

Menurut Tyke, ia juga mempertimbangkan minat pada jurusan saat itu. “Saya cari jurusan yang sepi peminat. Dulu saya pilih SKM, Keguruan, dan Perikanan. Perikanan yang masuk,” katanya.

Setelah berhasil masuk lewat SNMPTN, Tyke menyelesaikan kuliah pada jurusan Perikanan dan lulus pada tahun 2014. Setelah lulus, ia kembali ke Labuan Bajo dan mulai berganti pekerjaan beberapa kali.

Pada fase awal, Tyke memulai langkahnya dari tawaran yang datang kepadanya. Ia menerima ajakan untuk bekerja sebagai admin dari salah satu lembaga advokasi di Labuan Bajo.

Namun, Tyke mengakui bahwa pada saat itu ia belum memiliki dasar kemampuan sebagai admin. Karena itu, ia memutuskan untuk belajar secara otodidak seiring waktu berjalan.

Ia juga sempat mengikuti tes CPNS sesuai bidangnya, tetapi tidak sampai selesai. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses panjangnya mencari pijakan pekerjaan yang bisa ia jalani.

Di tengah rangkaian penyesuaian itu, Tyke pada akhirnya menempuh karier sebagai admin dan akuntan di berbagai tempat, sebelum kembali mengerucut pada pekerjaan yang ia jalani sekarang secara freelance di Labuan Bajo.

Meski perubahan yang ia alami jauh dari latar studi awal, Tyke menegaskan bahwa pekerjaannya saat ini adalah bentuk keberlanjutan hidupnya dari hari ke hari. Dalam keterbatasan waktu kerja dan besaran penghasilan yang ia sebutkan, ia memilih bertahan dan terus bergerak bersama tuntutan pekerjaan di kota tersebut.

Setelah lulus pada 2014 dan kembali ke Labuan Bajo, Tyke menggambarkan bahwa ia menjalani transisi pekerjaan secara bertahap. Dari ajakan pertama untuk menjadi admin, ia kemudian membangun kemampuan dasar melalui proses belajar sendiri, sambil menyesuaikan diri dengan kebutuhan tempat kerja yang ia datangi.

Ia juga menuturkan bahwa perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada masa ketika ia sempat mencoba mengikuti tes CPNS sesuai bidangnya, tetapi berhenti sebelum tahap akhir. Ketika peluang kerja ikut menyempit, Tyke akhirnya menghadapi hampir satu tahun menganggur pada 2025 lalu sebelum kembali menemukan jalan untuk bekerja.

Kini, rutinitasnya sebagai freelance admin dan akuntan berjalan dengan pola yang sudah ia kenali. Pekerjaannya ia jalankan pada dua perusahaan swasta di Labuan Bajo sekaligus, dengan waktu kerja sekitar lima jam per hari. Meski ia menyebut penghasilan tidak besar, ia tetap memilih mempertahankan ritme tersebut karena dianggap lebih memungkinkan dibanding tidak bekerja.

Bagi Tyke, pilihan untuk bertahan di pekerjaan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan studi perikanannya berangkat dari kebutuhan keseharian. Ia menjadikan perubahan karier sebagai cara untuk tetap bergerak bersama tuntutan hidup di kota tempat ia bekerja, sambil menerima bahwa keberlanjutan sering datang dalam bentuk kesempatan yang perlu diambil pelan-pelan dari waktu ke waktu.