jurnalistik.co.id – Sepekan pengalaman kerja bisa menjadi titik balik—bukan hanya soal “mencoba pekerjaan”, melainkan juga cara siswa memandang sekolah, kemampuan diri, dan arah pendidikan yang akan mereka ambil. Di Inggris, kebijakan juga mendorong sekolah menyiapkan kesempatan tersebut secara tatap muka dan mendalam.
Pemerintah Inggris merilis panduan hukum baru pada Juni untuk pelaksanaan dua minggu “in-person and immersive” work experience di masa mendatang: satu kesempatan antara Year 7 sampai Year 9, dan satu lagi antara Year 10 dan Year 11. Namun, kualitas dan kecocokan penempatan kerja bagi tiap siswa ternyata tidak selalu sama.
BBC News mewawancarai tiga siswa Year 10—setahun sebelum ujian GCSE terakhir—tentang bagaimana mereka menentukan bidang yang diminati, menghadapi proses mencari penempatan, serta apa yang mereka pelajari untuk pendidikan dan tujuan karier mereka kelak.
Perubahan sikap dan rasa tujuan setelah ditempatkan di Whipsnade Zoo
Kelsey menceritakan bahwa saat baru masuk sekolah menengah, ia berharap bisa berada di tempat lain. Ia kesulitan membangun pertemanan, berselisih dengan beberapa guru, dan sering berusaha menghindari datang ke sekolah.
Setelah mengikuti work experience selama seminggu di Whipsnade Zoo, Bedfordshire, pandangannya berubah. Kelsey mengatakan penempatan itu membuatnya “completely different person”—lebih percaya diri, memiliki “good group of friends”, serta merasakan tujuan yang lebih jelas tentang ke mana pendidikan bisa membawanya.
Menurutnya, ia mulai memahami keterkaitan langsung antara pelajaran di sekolah dan rencana karier. Ia berkata, “I realised why school matters, and how it links directly to the career I want,” dan menambahkan, “I’ve started revising properly and putting much more effort into my education because I know it’s the route to my future.”
Aspek praktis penempatan itu juga memberi rasa percaya diri. Kelsey bekerja bersama siswa lain untuk merancang kegiatan pengayaan untuk seekor harimau, lalu mempresentasikan gagasan mereka kepada publik—sesuatu yang sebelumnya ia bayangkan akan terasa menakutkan.
Ia menilai perlakuan di tempat kerja membuatnya merasa dihargai: “I wasn’t treated like a child, and I was trusted to do meaningful work.” Usai menyelesaikan penempatan, Kelsey berencana mengambil studi animal care di perguruan/kolese setelah GCSE, sebelum meniti karier sebagai animal behaviourist.
Dari rasa malu ke kepercayaan diri dalam pekerjaan kantor
Bagi Maddison, gambaran menuju pekerjaan berbasis kantor sudah tampak sejak awal. Ia memilih Central Employment North East, sebuah firma rekrutmen di Newcastle, karena ada koneksi keluarga: pamannya merupakan partner di sana.
Meski begitu, ia mengakui dirinya cenderung pemalu. Maddison berkata, “I’m quite a shy person,” dan sebelum berangkat ia diberi pesan oleh ibunya, “Confidence is key.”
Di tempat penempatan, ia cepat merasa nyaman ketika rekan kerja membuatnya merasa menjadi bagian dari tim. Pada akhir minggu, ia merasakan kepercayaan dirinya meningkat dan ia bisa membayangkan dirinya menjalani karier yang semula ia idamkan.
Berita Terkait
Pengalaman itu juga membuat Maddison semakin bersemangat kembali ke sekolah untuk memperoleh kualifikasi yang dibutuhkan bagi karier kantor. Ia menceritakan, “When I got home on Friday I told my mum I couldn’t believe it was already over,” dan menambahkan, “I wished I could leave school and start working there straight away.”
Menjelajahi dunia bengkel hingga menyadari pilihan yang belum tepat
Penempatan Azhe di Kwick Fix Auto Care, juga di Newcastle, bernilai dalam cara yang berbeda dibandingkan Kelsey dan Maddison. Alih-alih menguatkan rencana karier tertentu, pengalaman itu justru membantu Azhe menyimpulkan bahwa jalur menjadi mekanik kemungkinan besar bukan tempat yang tepat baginya.
Azhe harus menata sendiri penempatan yang akan ia ambil. Karena belum ada rute karier yang jelas, ia memilih kesempatan yang benar-benar membuka lingkungan baru. Ia mengatakan, “I decided to choose something I knew nothing about.”
Meski staf menjelaskan proses dengan jelas, Azhe mengaku kurangnya minat awal membuatnya kadang merasa “overwhelmed” oleh banyaknya informasi. Ia berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu memperbaiki kendaraan, dan bagian itu terasa frustrasi.
Namun ia memahami alasan di balik batasan tersebut. Azhe menyadari keselamatan dan kebutuhan pengalaman membuat siswa tidak bisa langsung diberi alat lalu dibiarkan bekerja begitu saja.
Bagi Azhe, penempatan itu juga menantang cara pandangnya tentang pekerjaan mekanik. Ia menegaskan, pekerjaan tersebut bukan sekadar urusan memperbaiki kendaraan: “It involves problem-solving, teamwork, communication and taking responsibility for people’s safety.”
Ia juga menemukan bahwa pekerjaan di bengkel jauh lebih menuntut secara fisik daripada yang ia bayangkan sebelumnya—jam kerja panjang berdiri sepanjang hari, serta harus tetap fokus sepanjang waktu. Pada akhirnya, Azhe kini berpikir lebih hati-hati tentang masa depan dan karier alternatif yang mungkin ia nikmati.
Kesempatan yang bermakna, tetapi aksesnya tidak merata
Erica Holt-White, research and policy manager di Sutton Trust, menilai pengalaman Kelsey, Maddison, dan Azhe—serta ribuan siswa lain—menunjukkan mengapa work experience yang benar-benar bermakna bisa memberi manfaat. Ia menekankan bahwa kesempatan ini sering sangat bernilai bagi anak muda yang tidak punya keluarga atau teman yang bekerja di industri yang mereka minati.
Erica berkata, “It gives them exposure to professional environments and the chance to meet people in careers they might otherwise never encounter.” Namun, menurut Sarah Atkinson, chief executive dari Social Mobility Foundation, akses terhadap peluang semacam itu tetap tidak merata.
Sarah menjelaskan bahwa banyak sekolah kini meminta siswa mencari penempatan sendiri. Ia mengatakan, “That creates significant inequalities, because young people without family or professional networks are far more likely either to miss out altogether, or to end up in placements that aren’t relevant to their ambitions.”
Keduanya juga sepakat bahwa work experience tidak harus selalu berujung pada karier yang sama dengan rencana masa depan. Nilai utamanya bisa muncul melalui pengalaman belajar, pengenalan lingkungan profesional, dan pemahaman diri.
Bagi Kelsey, pelajaran dari Whipsnade Zoo terus membentuk ambisi sekaligus cara ia mendekati sekolah. Nasihatnya untuk siswa yang lebih muda terdengar sederhana: “Take the opportunity when it’s offered – talk to people, ask questions and enjoy it because you’ll learn far more than you expect.”












