jurnalistik.co.id – Charli XCX membahas berbagai hal dalam percakapannya dengan Jack Saunders dari Radio 1, mulai dari soal kebohongan dalam wawancara sebelumnya hingga bagaimana rasanya menjalani kehidupan setelah merilis Brat. Dalam obrolan itu, ia juga menyinggung Love Island sebagai “waktu mematikan” dari rutinitas kreatif.
Wawancara Saunders membuka pembicaraan dengan pertanyaan langsung: “Was that the truth, or was it a lie?” Charli mengakui bahwa jawaban yang ia berikan di sesi terakhir memang tidak sepenuhnya sesuai kenyataan.
Ia menjelaskan, “Yeah, it was a lie,” sambil merinci bahwa saat menjawab Saunders ia sebenarnya sudah menyelesaikan banyak proses album yang sedang disiapkan. Charli menyebut ia telah “finished the record pretty much” dan karena itu jawaban sebelumnya pada dasarnya ia lakukan “to your face basically.”
Charli menambahkan, “I knew when I said yes to Reading and Leeds it was going to be about this next album.” Pernyataan itu mengaitkan keputusan tampil di Reading and Leeds dengan arah proyek berikutnya, yakni album baru yang akan dirilis.
Album tersebut berjudul Music, Fashion, Film. Charli menyebut album itu dirampungkan pada tahap yang dekat, dan pergerakannya dilakukan dengan perencanaan yang matang sebelum peluncuran. Saunders kemudian mengarahkan pembahasan pada alasan mengapa rencana artis kerap disembunyikan dari publik.
Soal strategi menahan informasi saat kampanye album
Menurut Josh Moss, publicist yang juga pernah menangani artis seperti Maisie Peters, Bruno Mars, dan SOMBR, pada fase awal kampanye, artis tidak selalu memberikan banyak bocoran. Ia menjelaskan ada banyak perencanaan serta strategi yang dibangun untuk “album roll out.”
Moss menambahkan bahwa kondisi perhatian audiens saat ini cenderung lebih singkat, sehingga artis berusaha menjaga agar antisipasi tetap hidup sebelum dan sesudah perilisan. Salah satu cara yang ia soroti adalah “drip-feeding information.”
Dalam pandangan itu, penahanan informasi bukan sekadar permainan, melainkan bagian dari upaya membangun momentum. Namun, Veronese menilai situasi tersebut juga bisa dipengaruhi cara artis berkomunikasi ketika ditanya hal yang tidak siap mereka jawab.
Maria Veronese, yang menjalankan perusahaan media training Mediapro, mengatakan metode Charli mungkin tidak mengejutkan penggemarnya. Ia menyebut, “She’s fun, she’s Brat and it’s what we expect of her really,” dan menegaskan bahwa itulah yang disukai oleh basis penggemarnya.
Berita Terkait
Lebih jauh, Veronese menilai banyak orang mengikuti pelatihan media karena gugup saat harus mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka katakan. Ia menjelaskan bahwa pelatihan membantu mereka melewati berbagai skenario, termasuk teknik menjembatani respons, agar “we’re not telling them to lie.”
Proses penyatuan sampul Music, Fashion, Film
Dalam wawancara yang sama, Charli XCX turut membahas bagaimana ia menyusun sampul untuk Music, Fashion, Film. Di album itu, terdapat foto hitam-putih yang menampilkan John Cale, Marc Jacobs, dan Martin Scorsese.
Charli menggambarkan prosesnya sebagai pengalaman yang berat: “I will say it was an absolute nightmare.” Ia menyebut momen tersebut hampir mencapai tenggat, “We were really down to the day before that deadline and you know, they’re busy guys.”
Ia mengatakan saat itu terasa seperti kesempatan yang sulit diulang: “I felt it was one of those moments where I was like this is a once in a lifetime moment, this is probably never going to happen again.” Namun di sisi lain, ia menilai hasilnya tetap membawa perasaan yang manis dan intens: “It was really sweet and overwhelming.”
Ia juga menginginkan album ini terasa sebagai sesuatu yang baru dan berbeda. Charli menyatakan, “The way that Music, Fashion, Film sounds was like a very sort of deliberate response to the way that Brat sounds,” dan menambahkan bahwa keduanya “They’re sort of polar opposites.”
Music, Fashion, Film dirilis pada bulan Juli sebagai kelanjutan dari Brat. Brat, menurut artikel tersebut, menjadi fenomena budaya, digunakan dalam kampanye presiden Kamala Harris pada 2024, hingga memicu Collins English Dictionary memperbarui definisi “Brat.” Karena itu, diskusi tentang mengapa follow-up yang sangat dinanti dijaga ketat sejak awal pun muncul.
Apakah Charli bisa menjalani hidup “normal” setelah Brat
Setelah kesuksesan Brat yang besar, Saunders menanyakan apakah Charli merasa bisa memiliki kehidupan yang lebih “normal.” Charli menjawab dengan nada tegas, “I can’t just sort of go home and like unplug and be like a different person.”
Ia menambahkan pengecualian yang ia anggap paling nyata: “Apart from when I’m watching Love Island.” Charli lalu menjelaskan bahwa saat menonton Love Island, ia merasa benar-benar sedang “off” dari hal lain: “I will say, that is my one time where I’m like, I’m actually off now. I’m not thinking about fonts or whatever.”
Di akhir percakapan, Charli menegaskan bahwa ia tidak ingin perubahan besar pada hidupnya. Ia menyatakan, “I love the life that I have, I wouldn’t change it for anything else.”












