jurnalistik.co.id – Di musim panas, sandal kerap jadi pilihan untuk menahan kaki terasa sejuk saat cuaca panas. Namun, soal kenyamanan tidak selalu sejalan dengan keamanan bagi kaki.
Flip-flop memang lama identik dengan alas santai ketika cuaca terik. Tahun ini gaya pakaiannya bahkan mengikuti tren yang lebih “rapi”, termasuk model bertumit kecil (kitten heel) yang dinilai mudah digunakan.
Menurut fashion expert dan trend forecaster Angela Baidoo, sandal jenis flip-flop tetap digemari karena praktis. Ia mengatakan, “It’s not a high heel and it’s really kind of easy to just slip in and slip out of,” sambil menekankan karakter yang gampang dilepas-pasang.
Meski begitu, reputasi flip-flop tidak sepenuhnya baik karena dianggap minim penopang. Banyak orang khawatir alas yang terlalu ringan membuat kaki lebih cepat bermasalah, terutama saat dipakai terus-menerus.
Soal dukungan telapak dan risiko setelah beralih
Pendapat yang sering beredar menyebut flip-flop buruk untuk kaki. Dalam konteks dukungan, Baidoo mengakui keterbatasan desain tersebut, terutama soal penopang.
Ia menyatakan, “In terms of arch support and joint support, it’s not the best style.” Di saat yang sama, Baidoo juga melihat kebiasaan baru: sebagian orang mulai menyesuaikan flip-flop agar lebih sesuai dengan kebutuhan kaki karena alasnya mudah dipakai.
Sementara itu, podiatrist Dr Helen Branthwaite—yang juga chief clinical adviser di Royal College of Podiatry—menolak generalisasi bahwa flip-flop selalu merusak kaki. Ia menegaskan, “it’s not accurate” untuk mengatakan flip-flop itu buruk.
Menurut Branthwaite, persoalan muncul ketika seseorang langsung berpindah dari sepatu yang lebih terstruktur ke flip-flop dan memakainya dalam intensitas tinggi. Ia menjelaskan bahwa kondisi itu membuat telapak menerima beban yang lebih besar dari kebiasaan.
Akibatnya, Branthwaite menyebut risiko cedera bisa meningkat karena kaki dipaksa beradaptasi lebih dari semestinya. “The foot does start to change shape and tends to splay a little bit over time,” ujarnya.
Ia juga memakai analogi sederhana untuk menggambarkan perbedaan bentuk dan fungsi saat tekanan berulang terjadi. “A good analogy is if you were to wear a corset all the time and then took the corset off, everything would sort of all hang out, so to speak,” kata Branthwaite.
Alternatif yang lebih suportif untuk dipakai di panas
Kalau tetap ingin memakai sandal, Baidoo menyarankan memilih flip-flop yang lebih suportif, misalnya tipe seperti FitFlop. Model ini disebut lebih kokoh dan memiliki bentuk kontur yang lebih “terarah”, berbeda dari flip-flop tipis yang dibuat dari potongan busa.
Untuk tren alas Gen Z, ia menyebut pola pergeseran dari sandal model “sliders”. Baidoo mengatakan, “Sliders are out and Crocs are in for Gen Z,” seraya menilai Crocs sangat nyaman.
Ia menambahkan alasan yang relevan dengan tampilan ortopedi: “They might be “anti-fashion shoes” but they’re “really comfy” and designed “orthopaedically.” Ia juga menyebut sandal beralas yang dikenal memberi keuntungan serupa, seperti Birkenstocks.
Berita Terkait
Selain itu, sepatu berbahan kayu (wooden clog) dikatakan mulai kembali diminati. Baidoo menyebut model ini dipakai dokter dan koki yang berdiri lama sepanjang hari, sehingga faktor ketahanan dan kenyamanan jadi bagian dari pertimbangannya.
Untuk pilihan lain, Baidoo mengaitkan Scholl slider mules sebagai alas yang sudah lama dikenal bersifat ortopedi. Ia bahkan mengaku dulu sempat punya sepasang dalam suede berwarna pink.
Wedges juga disebut menjadi opsi ketika cuaca panas. Baidoo menjelaskan bahwa bagi sebagian klien di kategori plus-size, wedge justru memberi rasa nyaman karena sepatu menyediakan penopang dari seluruh bagian alas.
Ia mengatakan, “When I speak to some of my friends and some of my clients who work in the plus-size category, the wedge actually provides a form of comfortable footwear. And it provides a nice kind of silhouette for the ankle. You’ve got the support all the way through the shoe.”
Sandal model nelayan, minimalis, hingga cara “masuk” yang benar
Bila mencari alternatif dengan tampilan khas, ada juga sandal bergaya fisherman. Baidoo menggambarkannya seperti gaya yang mungkin pernah terlihat pada era 1970-an, dengan catatan memakainya bersama kaus kaki.
Ia juga menyebut cara pemakaian yang lebih bervariasi. “Men can wear it as an alternative to a loafer. It’s not as casual as a flip-flop, which might not be suitable for certain environments. It’s a really cool kind of style to adopt for women too,” ujar Baidoo.
Tren lain yang juga dibahas adalah minimalist barefoot shoes. Namun, Branthwaite menekankan prinsip bertahap, bukan langsung memaksakan.
Ia mengingatkan, “it’s all about easing into them.” Maksudnya, jangan membeli lalu langsung menantang diri dengan aktivitas berat seperti jalan jauh; ia mencontohkan, “In other words, don’t buy a pair and then decide to go on a 5-mile hike.”
Tips praktis agar kaki lebih bahagia
Dalam pengasuhan kaki, Branthwaite menekankan agar perhatian tidak berhenti pada tampilan sandal. Ia menyarankan untuk memperhatikan telapak sepatu dan bahan pembuatannya, karena itu akan memengaruhi cara kaki bergerak dan langkah yang diambil.
Ia juga mengajak melakukan pertimbangan sederhana: jika flip-flop bisa ditekuk hingga menjadi dua bagian, tanyakan pada diri sendiri apakah kekuatan kaki cukup untuk menerima beban ekstra yang biasanya ditahan oleh sepatu yang lebih mendukung.
Selain struktur alas, kondisi kulit juga perlu dicek. Branthwaite mengingatkan bahwa kulit bisa cepat kering pada alas terbuka seperti flip-flop, dan perubahan itu mungkin baru terasa ketika tumit mulai mengeras atau kuku kaki tampak lebih rapuh.
Soal perawatan harian, ia merekomendasikan mengoleskan emollient—krim pelembap yang mengandung urea—setiap hari untuk membantu menjaga kelembapan kulit. “Lather your feet in emollient, a moisturising water retention cream containing urea to hydrate the skin, every day,” kata Branthwaite.
Langkah terakhir yang ditekankan adalah pengukuran berkala. Ia menyebut kaki terus berubah sepanjang hidup, sehingga ukuran di awal tidak otomatis bertahan; ia mencontohkan, hanya karena seseorang mulai dari ukuran 6, bukan berarti akan tetap di ukuran yang sama.
Dengan memilih sandal yang lebih suportif dan membiasakan kaki secara bertahap, panas tidak perlu berujung pada rasa sakit atau cedera yang tidak diinginkan. Kuncinya bukan hanya “nyaman dipakai cepat”, tetapi juga seberapa baik sandal itu menopang saat dipakai berulang dalam waktu yang lama.












