jurnalistik.co.id – TANGERANG — Jetour akhirnya resmi mengumumkan harga SUV hybrid terbarunya di Indonesia, Jetour T1 i-DM. Model berteknologi plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV ini dipasarkan dengan harga Rp 558 juta, sementara harga promo peluncurannya dibuka di level Rp 538 juta.
Kehadiran T1 i-DM menjadi langkah penting bagi Jetour untuk menjawab kebutuhan konsumen yang mulai melirik kendaraan elektrifikasi, tetapi masih menyimpan sejumlah pertimbangan dalam penggunaan harian. Di tengah perubahan menuju era kendaraan listrik penuh, Jetour melihat pasar belum hanya membutuhkan produk yang efisien, melainkan juga kendaraan yang tetap praktis untuk dipakai di berbagai situasi.
Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, mengatakan minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi saat ini terus mengalami peningkatan. Namun, menurut dia, ada sejumlah kekhawatiran yang masih dirasakan konsumen.
“Namun pada saat yang sama, masih banyak konsumen yang memiliki kekhawatiran terkait jarak tempuh, infrastruktur pengisian daya, serta fleksibilitas penggunaan kendaraan elektrifikasi dalam aktivitas sehari-hari,” kata Ranggy di Tangerang, Selasa (3/6/2026).
Ranggy menilai kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, melainkan kebutuhan nyata yang harus dijawab oleh produsen otomotif. Ia menegaskan pasar saat ini sedang berada dalam fase transisi menuju elektrifikasi penuh, sehingga konsumen membutuhkan kendaraan yang tetap nyaman dipakai, efisien, dan bisa diandalkan untuk perjalanan jauh.
“Menurut kami, ini bukanlah keraguan yang perlu diperdebatkan, melainkan kebutuhan nyata yang harus dijawab,” ucap Ranggy.
“Saat ini pasar berada dalam fase transisi menuju elektrifikasi penuh. Konsumen membutuhkan kendaraan yang efisien, nyaman digunakan, memberikan pengalaman berkendara optimal, serta tetap fleksibel untuk perjalanan jarak jauh,” kata dia.
Untuk menjawab kebutuhan itu, Jetour menghadirkan teknologi Intelligent Dual Mode atau i-DM yang menggabungkan efisiensi motor listrik dengan fleksibilitas mesin bensin. Teknologi ini dirancang agar kendaraan bisa menyesuaikan diri dengan kondisi perjalanan, bukan sebaliknya.
“Di sinilah i-DM menjadi titik awal pengembangan kami. Kami menghadirkan teknologi hybrid dengan cara kerja yang adaptif terhadap kondisi perjalanan, sehingga pengguna tidak perlu menyesuaikan diri dengan teknologi. Sebaliknya, teknologi yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengguna,” ujar Ranggy.
Ia menambahkan, teknologi tersebut dibuat untuk menghadirkan keseimbangan antara efisiensi energi dan performa berkendara. Jetour, kata dia, ingin memperkenalkan bagaimana merek ini memandang masa depan mobilitas modern melalui kendaraan yang terasa menyatu antara efisiensi dan kenyamanan.
“Kami menghadirkan efisiensi dan performa dalam satu kendaraan yang seamless, sekaligus memperkenalkan bagaimana Jetour memandang masa depan mobilitas modern,” katanya.
Secara teknis, Jetour T1 i-DM dibekali baterai berkapasitas 18,4 kWh. Dengan kapasitas tersebut, kendaraan ini diklaim mampu melaju hingga 100 kilometer hanya menggunakan tenaga listrik. Dalam kondisi baterai penuh dan tangki bensin terisi penuh, SUV ini disebut mampu menempuh jarak kombinasi hingga 1.200 kilometer.
Jetour T1 i-DM juga hadir dengan dimensi yang cukup besar untuk menunjang kebutuhan keluarga maupun aktivitas luar ruang. Mobil ini memiliki panjang 4.705 mm, lebar 1.967 mm, tinggi 1.840 mm, dan wheelbase 2.800 mm. Kapasitasnya lima penumpang.
Selain memperkenalkan varian plug-in hybrid, Jetour juga mengumumkan harga versi bermesin konvensional atau internal combustion engine. Berikut daftar harga Jetour T1 di Indonesia:
Jetour T1 ICE: Rp 408 juta, dengan harga special launch price Rp 388 juta.
Jetour T1 i-DM: Rp 558 juta, dengan harga special launch price Rp 538 juta.
Dengan pengumuman ini, Jetour resmi menambah pilihan untuk konsumen yang mencari SUV berukuran besar dengan dua opsi penggerak berbeda. Satu sisi tetap mempertahankan mesin bensin konvensional, sementara sisi lain menawarkan teknologi hybrid yang ditujukan untuk menjawab kebutuhan transisi menuju elektrifikasi.








