jurnalistik.co.id – Dunia kriket saat ini tengah disorot oleh sebuah dugaan skandal kecurangan yang dikenal sebagai “finger-clicking”, dan video insidennya menyebar cepat di media sosial. Dalam pembahasan tersebut, Jonathan Agnew menekankan perlunya penyelidikan yang benar-benar layak sebelum siapa pun menjatuhkan penilaian.
Kasus yang melibatkan Saltburn Cricket Club ini berpusat pada klaim bahwa seorang pemain dari tim Saltburn, khususnya Brian Devine yang bermain untuk second XI, diduga melakukan “finger-clicking” tepat ketika bola melintas di dekat pemukul lawan. Menurut dugaan, bunyi jentikan jari itu kemudian terdengar seolah-olah bola benar-benar mengenai tepi bat.
Dalam video yang beredar, momen yang terlihat adalah situasi wicket pada saat Saltburn meraih kemenangan atas Norton di North Yorkshire and South Durham Cricket League. Dari sinilah perdebatan bermula, karena sebagian penonton meyakini bunyi “klik” tersebut muncul pada waktu yang dimaksud, sementara yang lain meragukannya.
Saksi kunci: Josh Bowes
Agnew menempatkan Josh Bowes, penjaga gawang (wicketkeeper) Saltburn, sebagai pihak yang pada akhirnya paling mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia berpendapat bahwa bila Devine benar-benar mampu mengatur “finger-clicking” dengan volume yang dapat didengar wasit di luar situasi pertandingan, maka tindakan itu menjadi pelanggaran yang harus mendapat konsekuensi.
Namun demikian, Agnew juga mengingatkan bahwa kesimpulan publik selama ini berkembang dari rekaman yang kualitasnya bisa terbatas. Karena itu, menurutnya, Devine tetap harus menjalani proses yang semestinya agar ia bisa menyampaikan versi ceritanya.
Pada akhirnya, Agnew menyatakan bahwa tanpa pengakuan dari Devine, Bowes akan menjadi saksi yang sangat menentukan baik untuk pihak penuntut maupun pihak pembela. Ia menegaskan bahwa kejujuran Bowes dalam menjelaskan situasi di lapangan menjadi faktor penting untuk memastikan kebenaran dapat ditetapkan dengan adil.
Proses pendengaran, bukan vonis instan
Agnew menilai publik sering terlalu cepat membentuk opini, meskipun belum ada penyelidikan menyeluruh. Ia menyebut bahwa cerita seperti ini mudah menarik perhatian, terutama karena melibatkan pertanyaan yang “terlihat sederhana”, seperti apakah bunyi jentikan jari itu terdengar oleh wasit atau tidak.
Berita Terkait
Di sisi lain, ia juga menekankan bahwa urusan kecurangan dalam olahraga tidak bisa diperlakukan setengah-setengah. Bila terbukti ada upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui tindakan yang melanggar, maka konsekuensinya harus tegas—termasuk bagi siapa pun yang terlibat, serta kemungkinan penilaian terhadap tim dan apakah ada pihak lain yang mengetahui atau turut membiarkan situasi tersebut.
Agnew menegaskan semua langkah itu hanya bisa dilakukan setelah ada “proper hearing” dan proses yang benar. Dalam penuturannya, keputusan tentang langkah lanjutan tidak boleh lahir dari keramaian internet, melainkan dari pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Spirit of Cricket dan debat yang sulit disatukan
Agnew kemudian mengaitkan kasus ini dengan pertanyaan besar soal “Spirit of Cricket”. Ia menyebut bahwa jalurnya ternyata tidak mudah: setiap orang bisa menafsirkan spirit permainan secara berbeda, sehingga jarang ada kesepakatan menyeluruh dalam diskusi semacam ini.
Ia juga membandingkan dinamika debat kecurangan dalam kriket dengan fenomena lain di olahraga. Menurutnya, menilai insiden tertentu bisa terasa “cut and dried” oleh sebagian orang, tetapi kerangka “Spirit of Cricket” tetap memunculkan perbedaan pandangan yang berkelanjutan.
Ia menambahkan bahwa kecurangan dalam kriket, menurut pengalaman dan pengamatannya, memang pernah terjadi dan dapat muncul lagi kapan saja. Ia bahkan menyebut adanya dorongan berulang dari beberapa pihak untuk mencoba memperoleh keuntungan—sekaligus menegaskan bahwa situasi ini harus dipandang sebagai persoalan foul play dan upaya membawa permainan ke dalam disrepute.
Agnew memberi contoh dari masa bermainnya ketika berada di first slip dalam sebuah pertandingan county. Kala itu, West Indies fast bowler Andy Roberts bermain untuk Leicestershire, dan ia mengingat kejadian ketika wicketkeeper pada waktu itu (ia memilih untuk tidak menyebut nama) berlari di tempat dengan keras dan berpotensi mengganggu konsentrasi pemain saat bowler sedang berlari. Setelah kejadian itu terulang beberapa kali, batsman kemudian menegur dengan tegas bahwa bila masih dilakukan lagi, ia akan “melakukan sesuatu yang tidak nyaman” menggunakan bat kriket.
Ia lalu menyebut bahwa masalah seperti ball-tampering dan insiden foul play lainnya berada dalam kategori yang sejenis. Pada bagian ini, Agnew juga mengemukakan bahwa di cabang olahraga tertentu ia tidak terlalu menyadari kejadian serupa, dan ia menyebut golf sebagai contoh karena sifatnya yang lebih mengutamakan self-policing.
Terakhir, Agnew menyinggung bahwa cerita serupa juga menjadi perhatian besar di Australia. Ia menyatakan pernah bermain grade cricket di Australia, dan dari pengamatannya, kompetisi liga di sana cenderung tidak kompromistis—ruthless—serta ia mengaku pernah menemukan tanda-tanda “sharp practice” dalam beberapa musim yang ia jalani.
Baginya, yang paling penting adalah memastikan adanya investigasi penuh dan adil. Dalam narasinya, kasus “finger-clicking” ini bukan sekadar tontonan viral, melainkan perkara yang hanya dapat diselesaikan dengan pemeriksaan yang serius dan putusan yang mempertimbangkan fakta di lapangan.







