jurnalistik.co.id – Ben Stokes resmi pensiun dari pertandingan internasional, sekaligus mengakhiri masa jabatannya sebagai kapten Timnas Inggris di format Test. Keputusan itu diumumkan pada momen yang tidak lazim, yakni ketika Inggris menjalani Test ketiga melawan Selandia Baru.
Jonathan Agnew menilai cara perpisahan tersebut terasa “tidak biasa” untuk sosok yang selama ini memang sulit diprediksi. Menurutnya, Stokes selama kariernya lebih sering mengikuti nalarnya sendiri, tidak nyaman dengan pola yang terlalu konvensional, dan itulah yang kemudian tercermin dalam pilihan akhirnya.
Agnew menggarisbawahi bahwa banyak pihak sempat mengasumsikan Stokes akan terus memimpin Inggris menuju Ashes tahun depan, bahkan menutup perjalanan sebagai kapten dengan kemenangan Ashes. Namun ia mempertanyakan apakah Stokes, bila menonton Ashes dari televisi musim panas mendatang, akan muncul penyesalan atas keputusan pensiun saat Inggris masih menyisakan dinamika besar dalam seri tersebut.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan beberapa hari, bahkan beberapa pekan terakhir, tidak sepenuhnya jelas. Yang pasti, Stokes belum memberikan jawaban atas pertanyaan apakah dirinya merasa mendapatkan dukungan dari England and Wales Cricket Board terkait insiden di London nightclub.
Dalam konteks itu, Agnew menyatakan bahwa kemungkinan Stokes akan membahas isu tersebut saat konferensi pers terakhir masih harus menunggu. Tetapi untuk bagian keputusan pensiun, publik justru dibuat kaget karena pengumumannya datang tepat di tengah pertandingan.
Bagi Agnew, memilih mengumumkan pensiun saat pertandingan masih berlangsung—dengan seri masih dipertaruhkan—adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Stokes, kata Agnew, tampaknya tetap pada kehendaknya sendiri, meski dari awal seri ada pihak yang terlihat lebih “rentan” dibanding dia untuk tetap tinggal di posisi kapten.
Ia mengingatkan gambaran awal musim, ketika direktur kriket Rob Key, pelatih kepala Brendon McCullum, dan Stokes sendiri berada dalam situasi yang sedang diuji. Menurut Agnew, dari ketiganya, Stokes yang terlihat paling tidak terancam dan paling mungkin bertahan.
Agnew juga menilai bahwa seri ini sejatinya diposisikan sebagai semacam “reset”. Tim seharusnya bisa menekuk Selandia Baru, namun jalannya kompetisi tidak bergerak mulus, disertai sejumlah “shenanigans” di luar lapangan dan masalah disiplin. Karena itu, reset yang diharapkan tidak benar-benar terjadi.
Ia menegaskan bahwa keputusan Stokes tidak otomatis meredakan tekanan kepada pihak lain. Masih ada tanda tanya, khususnya terkait posisi Key, mengingat detail soal curfew tampaknya tidak dijelaskan dengan memadai dan itu menjadi tanggung jawab yang berada dalam wilayah pekerjaannya.
Di balik konteks organisasi, Agnew juga menyoroti aspek dramatik di lapangan. Di Trent Bridge, pensiun Stokes diumumkan ketika ia sedang melakukan bowling dalam satu rangkaian serangan, dan ia langsung meraih wicket dari bola pertamanya setelah kabar itu menjadi publik.
Bagi Agnew, momen tersebut terasa seperti skenario khas pemain besar era seperti Ian Botham—momen yang “membuat ceritanya sendiri” di lapangan. Ia menambahkan bahwa Stokes sendiri memang tipe cricketer yang selalu menyisakan harapan, apa pun perannya: saat memukul, saat melempar, maupun ketika melakukan hal lain dalam permainan.
Agnew menyatakan bahwa kehadiran Stokes sering kali berarti peluang kemenangan tetap ada. Ia mengingat kemampuan Stokes menempatkan dirinya pada situasi yang tampak mustahil, dan dari sana mampu mengubah arah permainan, terutama melalui momen-momen yang sulit diramalkan.
Dalam pertandingan terakhirnya, Stokes mencetak 30 run. Meski begitu, Agnew menegaskan bahwa Stokes tetap tidak pernah bisa “dikesampingkan” karena cara berpikirnya di lapangan—termasuk keberanian mengambil keputusan—selalu memberi ruang untuk kejutan.
Ia juga menyampaikan bahwa optimisme yang biasanya dibawa Stokes menjadi bagian yang akan dirindukan. Agnew menilai Stokes turun sebagai salah satu all-rounder terbaik yang dimiliki Inggris, dengan cara memukul dan mengejar target yang begitu terukur—kalkulatif, tetapi tetap terasa hidup dan berani.
Agnew mencontohkan bagaimana Stokes tampil pada dua momen ikonik: final Piala Dunia dan Test Ashes di Headingley pada tahun 2019. Menurutnya, dua inning tersebut sangat luar biasa, karena Stokes mampu bermain gemilang sebagai bowler melalui rangkaian-rangkaian penampilan yang apik, sekaligus melakukan tangkapan-tangkapan yang mengesankan.
Namun yang paling akan ia kenang, kata Agnew, adalah kemampuan Stokes mengendalikan pengejaran dengan ketenangan yang tidak banyak terlihat pada orang lain, khususnya pada dua pukulan legendaris itu.
Setelah pensiun dari kriket internasional, Agnew menyebut bahwa Stokes akan tetap bermain untuk klub county, Durham. Ia juga menilai Stokes masih mungkin bermain di ajang The Hundred, bila ia menginginkannya, mengingat sebelumnya pilihan itu tidak tersedia karena komitmen Test Inggris—namun sekarang situasinya bisa berubah.
Di masa depan, Agnew menambahkan kemungkinan Stokes juga membuka ruang untuk kompetisi franchise seperti Indian Premier League. Ia tidak melihat Stokes langsung terjun menjadi pelatih atau bergabung sebagai komentator dalam waktu dekat, karena masih ada sejumlah tahun bermain apabila ia mampu menjaga kebugaran.
Pertanyaan besar berikutnya, menurut Agnew, adalah siapa yang akan menggantikan peran Stokes sebagai kapten. Ia menyinggung Harry Brook sebagai opsi yang mungkin, tetapi Agnew menilai faktor di luar lapangan di Selandia Baru terkait Brook menjadi alasan ia merasa “tidak nyaman” untuk saat ini.
Meskipun Brook berstatus sebagai wakil kapten Test, Agnew menyatakan bahwa penilaian publik akan sangat terbagi. Ia memberi sinyal bahwa bila Brook bisa menunjukkan kedewasaan sebagai kapten white-ball pada seri mendatang melawan India, hal itu dapat membuat keputusan ECB untuk menunjuknya sebagai kapten Test menjadi lebih mudah.
Tetap saja, Agnew mengingatkan bahwa akan ada pihak yang merasa gelisah terhadap pilihan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa pandangannya disampaikan saat Agnew berbicara kepada BBC Sport melalui Timothy Abraham.












