Olahraga

Michael Vaughan: Kapten Test Inggris bisa menjadi “exactly what Joe Root needs”

×

Michael Vaughan: Kapten Test Inggris bisa menjadi “exactly what Joe Root needs”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Michael Vaughan: England Test captaincy could be 'exactly what Joe Root needs'

jurnalistik.co.id – Michael Vaughan meyakini kembalinya Joe Root sebagai kapten Test Inggris bisa menjadi penyulut yang justru dibutuhkan pemain berusia 35 tahun itu. Menurut Vaughan, peran tersebut berpotensi memberi “exactly what Joe Root needs” saat Root kembali memimpin untuk kali kedua.

Vaughan menyampaikan penilaian itu saat tampil di podcast Test Match Special. Ia melihat momentum kembalinya Root ke kursi kapten berhubungan dengan kebutuhan motivasi untuk menjalani rutinitas harian sebagai pemain Test kelas atas.

“I just wonder from Joe’s perspective if he needed this to get that real enthusiasm to get up every morning to play Test match cricket,” kata Vaughan. Dalam pandangannya, ada kemungkinan Root memerlukan “this little trigger, this little motivational tool.”

Ia juga menyinggung perubahan dinamika di ruang ganti, dengan fakta bahwa Root kini tidak lagi memiliki banyak teman dekat di tim. “He hasn’t got that many of his close friends in the team any more, a lot of his team-mates have retired or moved on, so maybe this is exactly what Joe Root needs as well,” tambah Vaughan.

Root kembali memegang jabatan kapten di bawah arahan interim head coach Marcus Trescothick. Sebelumnya, Brendon McCullum dicopot, dan untuk musim tur berikutnya Stephen Fleming akan mengambil alih kepemimpinan Test Inggris saat rangkaian lawatan ke Afrika Selatan berlangsung.

Vaughan memandang bahwa saat Root menjadi kapten, ia mendapat situasi yang “dodgy hand.” “Around the time he was appointed England were trying to win the 50-over World Cup and all the England eggs were put in the white-ball basket,” ujar Vaughan. Lalu, ia mengaitkannya dengan gangguan yang muncul akibat Covid, termasuk tantangan memimpin di masa tersebut.

“Then Covid struck. None of us would know how hard it would be to captain in a Covid time – Joe had to do that,” kata Vaughan. Ia melanjutkan penilaiannya tentang tur Karibia yang berakhir dalam format yang tidak berjalan mulus bagi Root, menyebut fase itu seperti “a job that was a little bit too far for him.”

Di sisi lain, Vaughan menilai Root kini lebih “older” dan lebih “wiser,” sehingga potensi dampak peran kapten dapat berbeda dibanding periode sebelumnya. Ia menyebut Fleming akan membantu urusan-urusan yang biasanya membuat kapten merasa terkuras, seperti pengaturan ruang ganti dan menjaga agar sisi taktis tim tetap rapi.

“I think Stephen Fleming will help out with a lot of the stuff that some captains get drained by – organising the dressing room and making sure the tactical side of the team is in good order,” tambah Vaughan. Bagi Vaughan, sisa target Root di era berikutnya juga menjadi bahan pertimbangan, termasuk peluang mencapai kemenangan Ashes dan pencapaian besar lain dalam catatan lari Test.

Vaughan merangkaikan harapan itu dengan prestasi yang masih bisa dikejar: “if he can be an Ashes winner next year, a world leader in runs he’s scored in Test cricket, you can’t ask for a more perfect career.” Dengan kata lain, ia melihat jalur karier Root masih punya “closing chapter” yang bisa sangat menentukan.

Fleming sebagai pelatih Test: pengalaman, perubahan, dan fokus teknik

Stephen Fleming sendiri disebut sudah ditetapkan lewat kontrak empat tahun, yang berarti ia akan melatih Inggris pada dua seri Ashes berikutnya. Vaughan menilai direktur pelaksana Rob Key memilih opsi yang “very experienced,” sekaligus menyinggung bahwa Andy Flower sempat dikaitkan dengan peran tersebut sebelum akhirnya tidak jadi.

“Andy Flower, I think from what I’ve read is the one that they wanted. He turned that down so it was like ‘OK, how do we get the next best?’” ujar Vaughan. Ia menambahkan bahwa kendati Fleming mungkin tidak dikenal sebagai pelatih khusus “red-ball cricket,” Fleming membawa pengalaman manajemen dan koaching yang relevan dari perjalanan kariernya bersama Chennai Super Kings selama sembilan musim terakhir.

Vaughan juga mengaitkan proses pemilihan dengan potensi kerja lintas peran, mengingat McCullum masih bertahan sebagai pelatih untuk format white-ball. “Having McCullum still as the white-ball coach and then having someone coaching the Test team who doesn’t know McCullum, that could have been really tricky,” kata Vaughan, sebelum menilai Fleming adalah sosok yang “very close to McCullum.”

Terkait gaya bermain, Vaughan menyatakan perlunya penyesuaian yang lebih praktis. “I’m kind of sick and tired of talking about England’s style of play. The style of play I want to see is England winning,” tambahnya, menekankan bahwa pada tiap hari, sesi, dan jam, tim harus memilih pola bermain yang tepat untuk memenangkan pertandingan.

Ia juga menilai diskusi soal bakat tidak boleh menjadi batas akhir bila hasil pertandingan dan trofi belum datang. “We can only talk about talent and the gulf of talent in English cricket for so long – they’ve got to start winning games of cricket and winning trophies now,” tegas Vaughan.

Menurut Vaughan, kebutuhan paling konkret saat ini adalah peningkatan sisi teknik batting. “The one thing this Test team needs is coaching the technical side of batting,” katanya, lalu mempertanyakan kemampuan pemain ketika menghadapi bola berkualitas di sekitar off stump.

Vaughan memberi contoh: “How many of them can look themselves in the mirror and when Michael Neser, Matt Henry, Scott Boland bowls that good length just on or around that off stump, can play a controlled forward defence shot?” Ia menilai teknik memang “wins Test match cricket,” dan sisi teknis pemain serta batting Inggris “has been found wanting.”

Di penutup, Vaughan menekankan bahwa keberadaan pemimpin kelompok saja tidak cukup. Ia menilai tim juga memerlukan satu atau dua perubahan di backroom agar pemain benar-benar mendapatkan pelatihan yang lebih baik, sehingga kualitas yang dibutuhkan Test cricket bisa diterjemahkan menjadi kinerja di lapangan.