Pendidikan

Kenapa Doomscrolling Sulit Dihentikan? Psikoterapis Jelaskan Dampak saat Membaca Berita Negatif

×

Kenapa Doomscrolling Sulit Dihentikan? Psikoterapis Jelaskan Dampak saat Membaca Berita Negatif

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk? Ini Penjelasan Psikoterapis

jurnalistik.co.id – Tanpa disadari, kebiasaan membaca berita negatif terus-menerus sering berujung pada suasana hati yang makin berat. Meski tujuan awalnya hanya sebentar, banyak orang justru sulit berhenti.

Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir berita atau konten yang memicu kecemasan, kesedihan, maupun ketakutan. Dampaknya tidak hanya terasa di mood sesaat, tetapi juga bisa mengganggu cara seseorang memandang berbagai hal setelahnya.

Lalu, mengapa otak cenderung terpikat pada kabar buruk? Psikoterapis Tess Brigham, MFT, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utamanya berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk merasa “lebih siap” menghadapi ketidakpastian.

Dalam penjelasannya, Brigham menuturkan bahwa banyak orang punya anggapan sederhana: semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin besar pula rasa kendali terhadap keadaan di sekitar. Ada keyakinan bahwa dengan mengetahui berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, seseorang dapat melakukan persiapan yang lebih baik sebelum situasi benar-benar menimpa.

“Orang melakukan doomscrolling karena berbagai alasan. Salah satu yang utama adalah untuk merasa memiliki kendali di dunia yang terasa semakin sulit diprediksi,” ujar Brigham, dikutip dari Verywell Mind, Sabtu (18/7/2026).

Dengan kata lain, doomscrolling sering bekerja seperti upaya “mengurangi rasa tidak nyaman” lewat pencarian informasi. Ketika berita negatif terus muncul, otak menangkapnya sebagai sinyal penting yang layak dikejar, bukan sekadar konsumsi pasif.

Mekanisme otak yang lebih peka pada ancaman

Poin lain yang ditekankan Brigham adalah cara kerja otak manusia yang memang lebih responsif terhadap potensi ancaman. Ia menyebut bahwa sejak lama, manusia memiliki naluri untuk lebih cepat memperhatikan hal-hal yang berpotensi membahayakan, sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup.

Brigham menjelaskan bahwa kemampuan mengenali risiko membantu nenek moyang manusia menghindari bahaya dan meningkatkan peluang bertahan. Walaupun kehidupan modern sangat berbeda, mekanisme dasar tersebut masih “terbawa” dan ikut membentuk kebiasaan kita saat ini.

“Kita secara naluriah diprogram untuk bertahan hidup dan mengenali hal-hal yang berpotensi membahayakan kita,” kata Brigham.

Itulah mengapa berita tentang bencana, konflik, atau krisis kerap terasa lebih menarik perhatian dibandingkan kabar baik. Pada banyak orang, respons ini bisa berlangsung otomatis: perhatian melekat, lalu rasa ingin tahu berubah menjadi dorongan untuk terus mengecek perkembangan.

Lebih sering pada orang dengan kecemasan

Dari sisi psikologis, Brigham juga menyampaikan bahwa doomscrolling lebih sering dialami mereka yang memiliki kecenderungan mengalami kecemasan. Kondisi ini tidak hanya berlaku untuk satu jenis gangguan, melainkan bisa muncul pada berbagai bentuk yang berkaitan dengan rasa khawatir yang menetap.

Menurut penjelasan tersebut, kelompok yang rentan mencakup individu dengan gangguan kecemasan, gangguan panik, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan stres pascatrauma (PTSD), maupun kecemasan sosial. Pada situasi seperti ini, menggulir berita negatif berpotensi terasa seperti “jalan” untuk menenangkan pikiran, meski pada praktiknya justru memperpanjang gelombang cemas.

Pada akhirnya, doomscrolling bukan semata-mata soal kebiasaan atau kurang disiplin. Ini berkaitan dengan dorongan psikologis untuk mencari kendali, ditambah kerentanan yang muncul ketika otak sedang aktif dalam mode waspada terhadap kemungkinan buruk.

Memahami penyebabnya dapat membantu orang menyadari pola yang sedang terjadi, sebelum kebiasaan itu semakin menetap. Dengan mengenali mekanisme “kendali” dan “ancaman” yang bekerja di balik layar, langkah berikutnya menjadi lebih jelas: mengurangi paparan, memutus siklus, dan memberi ruang agar pikiran kembali pada informasi yang lebih menyejukkan.

Ketika dorongan untuk terus menggulir muncul, biasanya itu bukan sekadar kebiasaan otomatis. Dorongan tersebut berakar pada upaya menenangkan diri lewat pencarian informasi, sehingga pikiran merasa sedang “mempersiapkan” sesuatu yang belum jelas.

Karena itu, langkah awal adalah menyadari kapan mode waspada mulai bekerja: perhatian mengunci pada kabar buruk, lalu rasa ingin tahu berubah menjadi dorongan yang makin sulit dihentikan. Dengan mengenali pola ini, paparan bisa dikurangi, siklusnya diputus, dan ruang mental diberikan kembali agar fokus lebih mudah kembali ke informasi yang terasa lebih menyejukkan.