jurnalistik.co.id – Di tengah kemajuan terapi kanker, para ahli mengingatkan bahwa hasil penanganan tidak semata ditentukan oleh prosedur medis. Lingkungan yang suportif ikut berperan besar dalam membantu pasien menjalani pengobatan dengan lebih baik serta menjaga kualitas hidup.
Dalam pandangan Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, ikatan sosial yang sehat dapat menjadi faktor penting untuk memperpanjang usia harapan hidup. Ia menekankan bahwa komunitas yang mendampingi pasien bukan sekadar “ada di sekitar”, melainkan benar-benar hadir saat seseorang menghadapi tekanan hidup.
Menurut Dr. See, dukungan emosional membuat pasien lebih siap menghadapi perjalanan panjang penyakit. Ia juga mengaitkan dukungan tersebut dengan kondisi mental yang sering kali ikut menentukan bagaimana seseorang bertahan selama proses terapi.
Dr. See menyampaikan, “Anda ingin seluruh keluarga menjadi sebuah komunitas yang saling mendukung. Sebenarnya, alasan nomor satu mengapa orang bisa hidup lebih lama adalah karena mereka memiliki komunitas yang suportif,” ujar Dr. See dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta pada Kamis (16/07).
Dalam penjelasannya, komunitas yang suportif berarti ada orang-orang yang selalu hadir ketika beban emosi makin terasa berat. Dukungan itu dapat datang dari berbagai arah, mulai dari pasangan, anak, sahabat, hingga keluarga besar yang memberikan rasa aman dan membuat pasien merasa diterima.
Dr. See melihat pola yang berulang dalam pendampingan klinisnya selama bertahun-tahun. Ia sering mendampingi pasien sampai mengenal perjalanan hidup mereka di luar diagnosis kanker, termasuk pergumulan emosional yang muncul dari konflik rumah tangga dan masalah kesehatan mental yang berlangsung lama.
Ia menilai, tekanan yang bersumber dari relasi keluarga kerap lebih menonjol dibandingkan diagnosis itu sendiri. “Saya melihat begitu banyak tekanan hidup dan tekanan dalam keluarga (pada pasien). Bukan terlalu banyak masalah keuangan, tetapi lebih banyak masalah keluarga dan kesehatan mental,” tutur Dr. See.
Di ceritanya, Dr. See menyoroti salah satu kasus yang didampinginya selama 11 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, pasien hidup dengan tekanan karena suami yang berselingkuh, sementara anak juga mengalami gangguan kesehatan mental.
Berita Terkait
Perjalanan yang panjang itu menunjukkan bagaimana stres kronis dapat terus menguras kondisi fisik maupun emosional seseorang. Karena itu, ia menilai keluarga seharusnya menjadi tempat untuk saling menguatkan, bukan justru menjadi sumber tekanan baru.
Dr. See juga menyebut bahwa banyak orang dari Generasi X dan sebagian milenial tumbuh dengan kebiasaan mengutamakan kebutuhan semua orang di sekitarnya, tetapi melupakan dirinya sendiri. Kebiasaan tersebut, menurutnya, dapat membuat pasien sulit menerima dukungan saat mereka sedang membutuhkan perlindungan emosional.
Karena itu, ia menekankan pentingnya bentuk dukungan yang sederhana namun nyata. Misalnya, memberi ruang bagi orangtua untuk beristirahat atau memastikan mereka tidak memikul semua beban sendirian, sehingga pasien bisa terus bertahan di tengah ritme pengobatan yang melelahkan.
Menjadi tempat didengar dan ditemani
Bagi Dr. See, menemani pasien selama pengobatan merupakan bagian dari perawatan yang tidak kalah bermakna. Ia menilai pasien butuh rasa didengar, rasa ditemani, dan perlakuan yang membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pasien ternyata tidak selalu mengingat detail obat yang diberikan selama masa pengobatan. Yang lebih mereka ingat adalah pengalaman emosional selama proses tersebut, termasuk bagaimana orang-orang di sekitar memperlakukan mereka.
“Sebagai dokter, saya melihat bahwa mereka tidak selalu ingat nama obat atau jenis terapi. Yang mereka ingat adalah apakah mereka merasa didengar, apakah mereka merasa ditemani, apakah mereka merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar diagnosis,” tulis Dr. See dalam refleksi pribadinya.
Dengan demikian, dukungan keluarga dan komunitas berfungsi sebagai penopang yang menambah daya tahan mental pasien. Ketika pasien merasa aman secara emosional, mereka cenderung dapat menjalani terapi dengan ritme yang lebih stabil dan tetap memelihara harapan.
Dalam konteks melawan kanker, Dr. See menempatkan dukungan sosial sebagai bagian penting yang membantu pasien mempertahankan kualitas hidup. Komunitas yang hadir, mendengarkan, dan mendampingi membuat pasien tidak merasa sendirian, sekaligus membantu mereka menghadapi tantangan medis dengan kesiapan yang lebih baik.












