jurnalistik.co.id – Dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), orangtua korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, menyampaikan kondisi anaknya yang ia nilai mengalami perubahan serius selama dititipkan di tempat penitipan anak tersebut.
Ismanto menyampaikan kesaksian itu melalui telekonferensi pada Selasa (9/6/2026). Ia menuturkan bahwa perubahan yang ia lihat bukan hanya menyangkut aspek fisik, melainkan juga kondisi psikis anak.
Sebagai konteks, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta sempat menjadi perhatian publik pada Sabtu (1/5/2026). Dalam pertemuan itu, Ismanto menyampaikan bahwa dampak yang dialami anaknya terus berlanjut setelah masa penitipan.
“Secara psikis maupun secara fisik tentunya ada perubahan-perubahan psikologis selama anak kami dititipkan,” ujar Ismanto, melalui telekonferensi, Selasa. Ia menyebut anaknya mengalami sejumlah perubahan perilaku selama periode penitipan.
Menurut Ismanto, anaknya menjadi mudah marah dan menunjukkan temperamen yang berubah. Ia juga mengatakan anaknya menjadi takut dengan orang baru, sulit makan, serta kerap menangis histeris saat tidur pada malam hari.
“Anak kami itu mudah marah atau temperamen, kemudian takut dengan orang baru, sulit makan, berteriak nangis histeris saat tidur malam hari, kemudian terbangun dan berpindah tidur ke lantai,” ungkap Ismanto. Ia menggambarkan bahwa perubahan tersebut tampak nyata dalam keseharian anak.
Dalam kesaksiannya, Ismanto juga menyampaikan bahwa anaknya mengalami gangguan pertumbuhan. Ia menyebut bahwa hingga usia tiga tahun tiga bulan, berat badan anaknya masih sekitar 10 kilogram.
“Kebetulan anak kami sudah usia tiga tahun tiga bulan masih dalam berat 10 kilo sampai hari ini. Artinya dalam artian gizi buruk atau stunting,” kata dia. Ia menempatkan kondisi stunting sebagai salah satu dampak yang ia rasakan selama anak berada di daycare.
Selain persoalan pertumbuhan, Ismanto mengaku anaknya beberapa kali mengalami luka fisik. Ia menyebut luka tersebut berkisar mulai dari tangan melepuh hingga mimisan, termasuk keadaan saat keluar darah dari hidung.
“Kemudian sakit bahkan sampai keluar darah dari hidung,” ujar dia. Ia menuturkan bahwa kejadian luka pada tubuh anak menjadi salah satu hal yang membuatnya terus mencari penjelasan dari pihak daycare.
Ismanto mengatakan, setiap kali menemukan luka pada tubuh anaknya, dirinya selalu meminta penjelasan kepada pihak daycare. Dalam penyampaian itu, ia menyebut adanya perbedaan jawaban yang diterima saat kasus luka terjadi di bagian tubuh tertentu.
Ia mengungkapkan salah satunya ketika anaknya mengalami luka di bibir dan lebam di beberapa bagian tubuh. Namun, menurut Ismanto, penjelasan dari pihak daycare justru membuatnya heran.
“Saat bibir anaknya sobek, pihak daycare menyebut luka itu terjadi karena anaknya makan donat,” kata dia. Ia menilai penjelasan itu tidak sesuai dengan temuan luka yang ia perhatikan pada anak.
Ismanto juga menyampaikan bahwa ketika ditemukan lebam di tangan dan kaki, pihak daycare menyebut anaknya menggigit tubuhnya sendiri saat tidur. Ia menyebut penjelasan tersebut sebagai salah satu jawaban yang kembali ia terima saat menemukan tanda luka pada tubuh anak.
Kesaksian Ismanto dalam rapat kerja tersebut menegaskan bahwa ia menghubungkan perubahan psikis dan fisik yang dialami anaknya dengan masa penitipan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Melalui rangkaian penuturan mengenai perilaku, kondisi pertumbuhan, serta luka fisik yang ia laporkan, ia menyampaikan bahwa dampak yang ia lihat berlangsung dan membentuk gambaran mengenai trauma serta stunting pada anaknya.










