jurnalistik.co.id – Sulit mengutarakan kebutuhan diri kerap disalahpahami sebagai sikap egois atau kurang mampu bersosialisasi. Padahal, menurut psikoterapis Sharon Martin, DSW, LCSW, problem itu sering berakar pada pola pengasuhan yang tidak sehat sejak masa kecil.
Martin menjelaskan bahwa masa tumbuh dalam lingkungan keluarga disfungsional dapat meninggalkan luka batin yang terbawa hingga dewasa. Akibatnya, seseorang bisa merasa canggung, tidak nyaman, bahkan takut ketika harus berbicara tentang kebutuhan pribadi—baik kepada pasangan, sahabat, maupun rekan kerja.
Kesulitan itu tidak muncul karena karakter yang lemah. Sebaliknya, ia terbentuk dari kebiasaan emosional yang sudah “dipelajari” sejak lama, lalu bekerja otomatis saat dewasa mulai diminta untuk menyampaikan keinginan dan batasan diri.
Keluarga disfungsional membentuk cara pandang tentang kebutuhan
Sharon Martin menegaskan bahwa keluarga disfungsional memiliki banyak variasi. Ada yang abai secara emosional, sementara yang lain bersifat terlalu kritis, sulit diprediksi, gemar mengendalikan, atau cenderung mengekang. Kombinasi bentuk-bentuk tersebut sama-sama dapat membuat anak menerima pesan yang keliru tentang arti perasaan dan kebutuhan mereka.
Dalam situasi seperti itu, anak tumbuh dengan sinyal yang terasa sangat kuat: kebutuhan pribadi dianggap tidak penting untuk didengar oleh orang lain. Ketika pesan semacam ini berulang, kemampuan untuk mengekspresikan diri cenderung melemah, karena yang lebih dominan adalah kebiasaan menyesuaikan diri demi menjaga situasi tetap “aman”.
Martin menyebut, strategi bertahan yang efektif ketika masih kecil sering berubah menjadi hambatan di usia dewasa. Anak-anak yang dibesarkan dalam pola seperti ini biasanya menjadi terlalu peka terhadap respons orang di sekitarnya, bukan karena mereka ingin mengalah, melainkan karena pikiran mereka belajar bahwa keselamatan emosional bergantung pada kewaspadaan tersebut.
“Kamu mungkin terbiasa menebak-nebak suasana hati orang di sekitarmu, selalu menghindari konflik, dan menekan keinginan pribadi hanya demi menjaga kedamaian di dalam rumah,” tutur Martin.
Ia melanjutkan bahwa kebiasaan itu bisa membuat seseorang kesulitan membela diri sendiri saat sudah dewasa. Dampaknya bisa merambat ke pola relasi: tidak mampu membangun hubungan sosial yang memuaskan, bahkan sampai kesulitan mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Kenapa berbicara tentang kebutuhan memicu kecemasan?
Berita Terkait
Selain belajar menekan keinginan, orang dewasa yang membawa luka pengasuhan juga kerap mengalami reaksi emosional yang langsung muncul ketika mencoba mengutarakan kebutuhan. Martin menyebut bahwa proses menyampaikan apa yang dibutuhkan dapat memicu kecemasan, keraguan pada diri sendiri, hingga rasa bersalah.
Menurut Martin, pemicunya terkait kenyataan bahwa kebutuhan emosional, fisik, dan psikologis sering kali diabaikan, disangkal, atau diremehkan saat kecil. Ketika kebutuhan yang seharusnya wajar tidak pernah diperlakukan sebagai hal yang sah, otak kemudian menyerap keyakinan yang salah: meminta sesuatu berarti sedang merepotkan, atau sedang “menuntut” hal yang tidak pantas.
Dalam jangka panjang, pesan keliru tersebut bisa berubah menjadi rasa malu. Seseorang jadi merasa tidak nyaman ketika memiliki kebutuhan manusiawi yang sebenarnya normal. Bahkan saat ia tahu bahwa dirinya membutuhkan sesuatu, ia tetap merasa bersalah—seolah-olah kebutuhan itu merupakan beban yang seharusnya tidak hadir.
Martin juga menekankan bahwa mengutarakan kebutuhan membuat orang merasa sangat rentan. Alasannya sederhana: ketika seseorang mengungkapkan kebutuhan, ia harus siap menghadapi kemungkinan penolakan, kritik, atau kekecewaan. Jika pengalaman masa lalu mengajarkan bahwa reaksi orang lain cenderung menyakitkan atau tidak dapat diprediksi, maka tubuh dan pikiran akan mengantisipasi ancaman tersebut.
“Pengalaman masa kecil menciptakan anggapan bawah sadar bahwa suaramu tidak akan membuat perubahan apa pun, sehingga jauh lebih aman untuk diam,” jelas Martin.
Bagi banyak orang, keyakinan bawah sadar ini bekerja seperti rem. Meski keadaan saat ini mungkin sudah berbeda, otak tetap mengingat pola lama: berbicara tidak memberi hasil, dan diam tampak lebih aman. Dari sini, muncul kecenderungan menahan diri, menunggu suasana lebih “bagus”, atau memilih tidak berharap pada respons orang lain.
Martin menambahkan satu lapis kekhawatiran lain yang sering ikut mengunci seseorang dalam kebisuan. Ia menyebut bahwa perhatian pada pandangan orang lain dapat semakin memperbesar ketakutan untuk dianggap menyusahkan.
“Ditambah lagi, kamu mungkin sangat memedulikan pandangan orang lain dan takut dicap terlalu banyak menuntut atau menyusahkan bila berani bersuara,” imbuh dia.
Dengan kata lain, kesulitan mengutarakan kebutuhan bukanlah soal kemauan atau kemampuan sosial semata. Ia lebih dekat dengan respons belajar: kombinasi dari pesan keluarga yang menormalisasi pengabaian, kebiasaan menghindari konflik, dan keyakinan bahwa kebutuhan pribadi tidak akan dihargai.
Martin mengurai bahwa ketika pola itu terus berulang sejak masa kecil, dewasa menjadi fase yang menuntut keberanian baru—keberanian untuk mengatakan “ini yang saya butuhkan” tanpa merasa bersalah. Pemahaman tentang akar masalah tersebut dapat membantu seseorang melihat bahwa rasa takut dan canggung yang muncul bukan bukti ketidakmampuan, melainkan jejak dari pengalaman pengasuhan yang pernah membentuk cara pandang.












