Internasional

Ledakan di Iran saat AS meluncurkan gelombang serangan baru

×

Ledakan di Iran saat AS meluncurkan gelombang serangan baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Blasts reported in Iran as US launches new wave of strikes

jurnalistik.co.id – Ledakan dan serangan dilaporkan terjadi di Iran ketika Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan baru terhadap negara tersebut untuk hari keenam secara berurutan. Pertempuran yang berkaitan dengan upaya menguasai Selat Hormuz terus berlangsung di tengah eskalasi serangan lintas pihak.

Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan serangan yang dilakukan ditujukan untuk “further degrade Iranian military capabilities”. Pernyataan itu disampaikan setelah AS mengumumkan serangkaian operasi militer yang kembali memasuki putaran baru.

Menurut laporan media pemerintah Iran, rudal AS menghantam area dekat Pulau Qeshm di sekitar Selat Hormuz. Laporan yang sama juga menyebut sasaran terjadi di Bandar Abbas dan Bushehr.

Bushehr disebut menjadi lokasi yang juga dikaitkan dengan fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir. Informasi rinci mengenai dampak spesifik tidak diuraikan dalam teks yang tersedia, namun penunjukan lokasi tersebut menjadi bagian dari klaim yang dirilis media negara Iran.

Eskalasi ini muncul setelah pertukaran serangan terjadi pada malam sebelumnya, yang membuat ketegangan makin memuncak dan berpotensi menekan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang. Dalam situasi seperti itu, setiap putaran serangan baru memperkecil ruang negosiasi yang tersisa.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada Kamis bahwa Presiden Donald Trump tetap “open to talks with Iran”. Leavitt juga menegaskan adanya akuntabilitas ketika pihak Iran menyimpang dari pernyataan yang mereka sampaikan kepada AS.

Dalam pernyataan kepada wartawan, Leavitt menyebut: “The president will hold them accountable when they turn their back on the words that they state to the United States. But he is always open to diplomacy at the very same time,”. Ia menambahkan bahwa Iran menyatakan masih ingin membuat kesepakatan dengan AS.

Menurut Leavitt, “We’re talking to them, but again, the president is not going to allow them to fire on ships in the strait without paying a consequence for that.” Pernyataan itu menempatkan isu keselamatan kapal di jalur tersebut sebagai salah satu titik yang tidak bisa ditoleransi.

Ketika serangan meningkat, Selat Hormuz yang menjadi jalur air penting di pesisir Iran tetap dalam kondisi tertutup. Tempat strategis itu dikatakan Teheran telah “effectively blocked” sebagai respons terhadap serangan AS dan sekutu terhadap target di kawasan.

Lebih awal pada Kamis, Teheran menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Di sisi lain, AS menyebut telah melancarkan gelombang serangan selama enam jam terhadap beberapa lokasi di Selat Hormuz.

Perkembangan saling klaim itu hadir setelah Trump memperingatkan Iran bahwa “better behave” atau menghadapi aksi militer lanjutan jika Iran tidak kembali ke meja perundingan. Dengan demikian, tekanan diplomatik dan operasi militer berjalan bersamaan dalam eskalasi saat ini.

Salah satu pernyataan kunci datang dari negosiator teratas Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang mengatakan kepada media pemerintah bahwa Teheran “no reason” untuk mematuhi kesepakatan apa pun bila tidak menguntungkan negara. Ia menambahkan bahwa keamanan nasional Iran bergantung pada mempertahankan apa yang disebutnya “Iranian arrangements” di Selat Hormuz.

Isyarat pembukaan jalur negosiasi diiringi perbedaan klaim soal tahanan

Di tengah konflik yang memanas, Trump pada Rabu memuji langkah Iran yang membebaskan Dena Karari, seorang tahanan AS yang menurutnya telah “wrongfully detained” pada Desember 2024. Trump menuliskan di Truth Social: “The United States of America appreciates this gesture of Goodwill by Iran!”

Media pemerintah Iran melaporkan pernyataan tersebut sehingga muncul ketidaksesuaian informasi antara keterangan dari pihak AS dan penjelasan institusi peradilan Iran. Perbedaan klaim ini menambah gambaran bahwa meski ada sinyal yang diklaim sebagai “Goodwill”, narasi utama tetap dipengaruhi situasi pertempuran di lapangan.

Dengan putaran serangan yang terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, hubungan kedua pihak berada dalam fase yang rapuh. Sementara AS menyebut operasi ditujukan untuk melemahkan kapabilitas militer Iran, Teheran menempatkan kontrol dan “Iranian arrangements” di jalur tersebut sebagai bagian dari keamanan nasional.

Di saat yang sama, meski Gedung Putih menyatakan Trump tetap membuka ruang diplomasi, pernyataan tentang konsekuensi terhadap tindakan di selat menunjukkan bahwa negosiasi berjalan di bawah tekanan. Pertemuan antara klaim serangan, tuntutan perilaku, dan perbedaan informasi soal tahanan membuat prospek deeskalasi tetap belum pasti dalam hari-hari berikutnya.