jurnalistik.co.id – Warga Scunthorpe menyampaikan beragam respons setelah pemerintah mengumumkan pengambilalihan British Steel ke kepemilikan publik. Di Taman Jubilee Park, suasana siang hari yang cerah justru bertabrakan dengan lanskap fasilitas industri yang terlihat dari kejauhan.
Phil Tennyson berdiri menghadap skyline dan sebuah menara pendingin di area British Steel, tempat ia bekerja selama 38 tahun. Bersama sang istri, Jenna, dan cucu berusia dua tahun, Phil menyaksikan perubahan kabar yang kini resmi berada di tangan negara.
Menurut Phil, pemerintah menyebut langkah ini akan melindungi pekerjaan serta “a vital national capability”. Ia mengatakan, “It will help support the future for our children and our grandchildren,” sembari menurunkan topi floppy cucunya agar terlindung dari terik matahari.
Meski tampak menerima tujuan kebijakan, Phil tetap menyimpan keraguan. Ia menegaskan, “But I do think it should never have been privatised in the first place.”
Di kota yang dikenal sebagai tempat kerja baja, Phil menggambarkan realitas pekerjaan sebagai sesuatu yang berat sekaligus memberi nafkah. “It’s a mucky place and hard work,” ujarnya, lalu menambahkan, “But those works have given a lot of people around here a good living over many, many years.”
Scunthorpe telah memproduksi baja sejak 1890. Bagi sebagian warga, keputusan nasionalisasi dipandang sebagai “lifeline” yang mempertahankan industri utama agar tidak kehilangan pijakan.
Namun, konteksnya tidak sederhana. Tahun lalu, pemerintah Inggris mengambil alih kendali operasional British Steel di Scunthorpe, meski pabrik masih dimiliki oleh perusahaan asal China, Jingye Group.
Dengan nasionalisasi, pemerintah memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan arah masa depan pabrik, termasuk mempertahankan tungku sembur (blast furnaces) agar tetap beroperasi. Di sisi lain, Phil mengingat tantangan persaingan pasar yang terus berubah.
Ia mengaku masih sulit membayangkan bagaimana industri itu bisa tetap menguntungkan. “I don’t know how it’s going to remain profitable when it’s competing against cheaper, foreign steel,” kata Phil.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu. “The industry is nothing like it was. Those days are gone. In the early 1970s, 22,000 people were employed in the works. Now, it’s less than 3,000, although plenty of others in the supply chain, shops and so on rely on it.”
Robert Smith, warga berusia 61 tahun yang bekerja di manajemen lalu lintas, menyatakan nasionalisasi harus dijalankan. “We need British Steel for defence,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa langkah itu “had to be done”.
Pemerintah, menurut pemberitaan tersebut, berupaya menjaga dua blast furnaces terakhir yang tersisa tetap berjalan. Tujuannya adalah mempertahankan kemampuan produksi baja “virgin”, yakni baja baru yang dihasilkan langsung dari bijih besi.
Jika fasilitas tersebut ditutup, Inggris disebut akan menjadi satu-satunya negara anggota G7 yang tidak memiliki kemampuan membuat baja jenis itu. Bagi Robert, alasan tersebut memperkuat urgensi kebijakan.
Di sepanjang jalur menuju Lincoln Gardens Primary School, Pat Stephenson (83) dan Brenda Ovenden (72) berbicara soal harapan sekaligus kebiasaan masyarakat terhadap skala industri yang telah menyusut. Pat pernah bekerja di kantor pabrik baja pada tahun 1950-an dan 60-an.
Berita Terkait
- Aksi Protes di Ukraina Usai Zelensky Mencopot Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov
- Inggris Tegaskan Falkland Miliknya usai Argentina Kibarkan Spanduk “Las Malvinas son Argentinas” di Semifinal Piala Dunia
- Burnham tak menutup pajak kekayaan: mungkin perlu “ask for a little more” dan “difficult” pilihan
“I don’t know if nationalising British Steel will work,” kata Pat. Ia kemudian menilai bahwa meski baja tetap penting bagi Scunthorpe, banyak orang sudah terbiasa melihat industri tidak lagi sebesar dulu.
Bradley Woodley, 31 tahun, duduk di bangku taman bersama putranya yang berusia 12 tahun. “Quite a few of my mates work in the steelworks,” ujarnya, menilai kabar ini sebagai sesuatu yang memberi harapan bagi mereka yang masih bergantung pada pekerjaan di pabrik.
Bradley menyebut langkah pemerintah sebagai penguatan kontrol. “So it’s good news that it’s being brought under the control of the government,” katanya.
Ia menautkan nasionalisasi dengan perlindungan masa depan bagi generasi berikutnya. “It’s about protecting the industry, as well as Scunthorpe, for future generations like my son.”
Putra Bradley bercita-cita menjadi pesepak bola, tetapi ia juga membuka kemungkinan bekerja di sektor baja. “It’s hard graft though,” tambah Bradley sambil tertawa.
Beberapa kilometer dari taman, menuju pusat kota, Tym Wrona terlihat dalam aktivitasnya bertemu teman. Tym, 20 tahun, merupakan mahasiswa fisika di Durham University yang sedang berada di kampung halaman untuk musim panas.
“Steel is everywhere in Scunthorpe,” ujarnya, menegaskan baja merupakan bagian besar dari kehidupan kota. “It’s a huge part of the town.”
Menurut Tym, nasionalisasi merupakan kabar positif. “The government’s decision to nationalise [British Steel] is a good thing. It will protect local jobs.”
Shirley Armer, 60 tahun, yang berjalan sambil mengajak anjingnya, menyebut keputusan itu sebagai kabar yang luar biasa. Ia menggambarkannya sebagai “fantastic news”.
Shirley menekankan keunikan produk yang dihasilkan Scunthorpe. “We’re unique,” katanya, “We make virgin steel – and it’s high quality.”
Ia meyakini pemerintah tidak punya banyak pilihan. “The UK can’t afford to lose its steel industry,” ujarnya, lalu menambahkan bahwa nasionalisasi seharusnya dilakukan dengan perencanaan yang serius.
Shirley berkata, “I support nationalising key industries and services but it needs to be done with real intelligence and thought to make it work for the people. We will see what happens.”
Di sisi biaya dan beban kebijakan, pemberitaan mencatat pada bulan Maret National Audit Office menyatakan kompleks baja Scunthorpe menelan sekitar ÂŁ1.3 juta per hari dari anggaran pemerintah. Angka itu memperlihatkan bahwa keputusan nasionalisasi tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal keberlanjutan pengelolaan.
Dengan latar itulah, respons warga Scunthorpe mengemuka dalam berbagai nada. Ada yang menilai langkah ini sebagai penyelamat pekerjaan, ada yang berhati-hati terhadap kemampuan tetap bersaing, dan ada pula yang menempatkan baja sebagai kepentingan pertahanan serta kemampuan industri nasional.










