Hukum & Kriminal

Penelantaran Kucing Meningkat: Relawan Dorong Sterilisasi dan Kepemilikan Bertanggung Jawab

×

Penelantaran Kucing Meningkat: Relawan Dorong Sterilisasi dan Kepemilikan Bertanggung Jawab

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: “Jangan Buang Kucing Kalau Bosan dan Tak Sanggup Merawat”

jurnalistik.co.id – Fenomena penelantaran kucing di wilayah Jakarta terus mendapat perhatian dari para relawan penyayang hewan. Mereka melihat semakin banyak kasus hewan peliharaan yang akhirnya tidak lagi bisa dirawat oleh pemiliknya.

Menurut para relawan, penelantaran tidak hanya menambah jumlah kucing liar, tetapi juga memperberat pekerjaan komunitas yang selama ini bergantung pada dana pribadi dan donasi untuk penyelamatan. Pada praktiknya, kucing yang ditinggalkan datang dari berbagai kondisi, mulai dari anak kucing yang dibuang dalam kardus hingga kucing dewasa yang masih memakai kalung.

Relawan yang aktif dalam proses foster dan adopsi, Reda (29), mengatakan ia makin sering menemukan laporan penelantaran saat menjalankan aktivitasnya. Ia menilai tren tersebut terlihat meningkat dan berkaitan dengan perubahan kondisi sosial di masyarakat.

“Saya ingin menyampaikan kepada siapa pun yang memelihara kucing, jangan buang kucing kalau sudah bosan atau merasa tidak sanggup merawat,” kata Reda (29), warga Jakarta Selatan yang aktif menjadi foster dan membantu proses adopsi, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/7/2026).

Reda menuturkan, dalam pengamatannya kasus penelantaran tetap terus muncul. “Dalam pengalaman saya, iya, kasusnya meningkat. Setelah pandemi, cukup banyak orang yang merasa tidak sanggup lagi memelihara karena biaya atau pindah rumah,” ujarnya.

Ia menggambarkan bahwa hampir setiap pekan ia menerima laporan kucing yang membutuhkan pertolongan. Awalnya, Reda mengadopsi seekor kucing, tetapi situasi di lapangan kemudian membuatnya belajar menjadi foster agar hewan yang ditemukan tidak langsung lepas tanpa proses.

“Awalnya saya hanya mengadopsi satu ekor. Lama-kelamaan banyak orang menghubungi karena menemukan anak kucing telantar. Saya akhirnya belajar menjadi foster sebelum mereka diadopsi,” ucap dia.

Tantangan terbesar: biaya perawatan

Di balik upaya penyelamatan, tantangan utama yang dihadapi para relawan adalah pendanaan. Reda menyebut kebutuhan harian seperti pakan dan pasir, hingga tindakan medis, banyak ditanggung dari dana pribadi atau dukungan donasi.

“Biaya menjadi tantangan terbesar. Pakan, pasir, vaksin, pemeriksaan dokter, semuanya memakai dana pribadi atau donasi,” kata dia.

Karena itu, setiap proses adopsi dilakukan secara selektif. Relawan berupaya memastikan calon pemilik benar-benar siap merawat, bukan hanya tertarik pada fase awal, sehingga hewan tidak kembali menjadi korban penelantaran.

“Biaya menjadi tantangan terbesar. Pakan, pasir, vaksin, pemeriksaan dokter, semuanya memakai dana pribadi atau donasi,” kata dia.

Reda juga menilai edukasi kepada masyarakat masih menjadi pekerjaan besar. Ia menekankan bahwa sterilisasi dipandang sebagai langkah penting untuk mengendalikan populasi kucing yang terus bertambah, sekaligus mengurangi kemungkinan hewan berujung terlantar.

“Menurut saya, sterilisasi adalah langkah paling manusiawi. Kalau hanya memberi makan tanpa sterilisasi, populasinya akan terus bertambah,” kata Reda.

Ia mengajak masyarakat memahami bahwa keinginan memelihara hewan harus dibarengi kesiapan jangka panjang. Penelantaran, menurutnya, bukan solusi ketika biaya meningkat atau situasi hidup berubah, karena dampaknya kemudian menyebar ke komunitas yang selama ini bergerak secara sukarela.

Melalui pernyataan tersebut, Reda berharap pesan sederhana tentang tanggung jawab kepemilikan kucing dapat lebih mudah dipahami. Pada akhirnya, keputusan untuk merawat atau menjalani sterilisasi dinilai menjadi titik yang menentukan agar kucing tidak berputar dari satu tangan ke tangan lain, tanpa perlindungan yang berkelanjutan.

Dalam praktiknya, para relawan berusaha menata alur penyelamatan mulai dari penanganan awal hingga tahap penempatan. Saat menemukan kucing telantar, mereka tidak berhenti pada pemberian pertolongan singkat, melainkan menyiapkan proses yang membuat hewan bisa melalui masa pemulihan sebelum akhirnya diperkenalkan pada calon keluarga baru.

Reda juga menilai pola penelantaran yang berulang membuat komunitas harus lebih berhati-hati dalam menerima permintaan foster maupun adopsi. Ia menekankan bahwa ketertarikan pada kondisi awal tidak cukup, karena tanggung jawab perawatan akan terus berlangsung setelah hewan berada di rumah, termasuk ketika kebutuhan harian mulai menuntut biaya.

Karena kebutuhan tersebut, relawan kemudian berusaha menguatkan diskusi dengan pihak yang ingin memelihara. Tujuannya agar semua pihak memahami bahwa langkah seperti sterilisasi tidak hanya berkaitan dengan pengendalian populasi, tetapi juga bagian dari upaya mencegah hewan kembali mengalami situasi yang sama ketika kondisi ekonomi atau tempat tinggal berubah.