jurnalistik.co.id – Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Prancis pada Selasa (26/5/2026) merupakan tindak lanjut dari undangan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang sempat tertunda. Menurut dia, agenda tersebut sejatinya sudah direncanakan sejak April 2026, tetapi waktu kedua kepala negara saat itu tidak cocok sehingga pertemuan belum bisa terlaksana.
Dalam pernyataan resminya, Sugiono menyebut undangan itu bukan hal baru. Macron, kata dia, sudah lebih dulu mengajukan ajakan kepada Prabowo, namun jadwal yang diharapkan pada April belum dapat dipenuhi karena padatnya agenda masing-masing pihak.
“Ini adalah undangan dari Presiden macron yang sebenarnya sempat tertunda, jadi waktu itu saya kalau tidak salah bulan April kunjungan yang diharapkan dilaksanakan namun waktu yang tidak cocok pada saat itu,” kata Sugiono dalam pernyataan resminya, dikutip Kamis (28/5/2026).
Ia menambahkan, undangan tersebut kembali disampaikan Macron ketika Prabowo berkunjung ke Paris dalam pertemuan sebelumnya. Pada kesempatan itu, Macron disebut kembali mengundang Prabowo dan sekaligus mengajukan tanggal yang akhirnya dipakai untuk kunjungan kerja saat ini.
“Dan pada saat kunjungan Presiden kita ke Paris itu juga dalam pertemuan kedua kepala negara waktu itu Presiden Macron kembali mengundang dan mengajukan tanggal yang saat ini,” ujar Sugiono.
Penjelasan itu menegaskan bahwa perjalanan Prabowo ke Prancis bukan agenda yang muncul tiba-tiba. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kesinambungan komunikasi yang telah berlangsung lebih dulu antara Indonesia dan Prancis melalui undangan langsung dari Macron.
Sugiono tidak memerinci lebih jauh isi pembahasan yang akan berlangsung dalam kunjungan kerja itu. Namun, pernyataannya menempatkan agenda tersebut sebagai pertemuan yang lahir dari undangan resmi yang sudah lama disiapkan, lalu bergeser waktunya karena penyesuaian jadwal.
Dalam konteks itu, jadwal kunjungan kerja Prabowo pada akhir Mei menjadi kelanjutan dari rencana yang sempat tertunda pada April. Perubahan waktu, menurut penjelasan Sugiono, semata-mata terjadi karena kedua pemimpin tidak menemukan kecocokan jadwal pada periode sebelumnya.
Dengan demikian, kehadiran Prabowo di Prancis pada 26 Mei 2026 dapat dibaca sebagai pemenuhan undangan yang sebelumnya sudah pernah dibicarakan. Macron disebut kembali menegaskan ajakannya saat Prabowo berada di Paris, lalu menentukan tanggal yang dipakai untuk kunjungan tersebut.
Prabowo sendiri diketahui melakukan kunjungan kerja ke Prancis dalam rangka memenuhi undangan yang sudah sempat tertunda itu. Sugiono menegaskan kembali bahwa titik berangkatnya adalah undangan Macron, bukan inisiatif yang muncul secara mendadak pada hari keberangkatan.
Penjelasan Menlu Sugiono itu sekaligus memberi gambaran bahwa relasi agenda kedua kepala negara berjalan melalui komunikasi langsung yang berulang. Dari undangan yang sempat tertunda pada April, berlanjut ke pertemuan di Paris, lalu mengerucut pada tanggal yang akhirnya dipakai pada akhir Mei.
Jika dilihat dari rangkaian pernyataan itu, penekanan utama Sugiono ada pada soal kesinambungan agenda, bukan pada munculnya kunjungan secara mendadak. Ia menggambarkan bahwa pertemuan antara Prabowo dan Macron sudah masuk pembicaraan sejak sebelumnya, lalu hanya menunggu penyesuaian waktu yang dianggap paling memungkinkan bagi kedua belah pihak.
Karena itu, perpindahan jadwal dari April ke akhir Mei tidak diposisikan sebagai perubahan arah, melainkan sebagai penyesuaian teknis yang lazim terjadi dalam agenda tingkat tinggi. Undangan tetap sama, pembicaraan tetap berlanjut, dan tanggal pelaksanaan akhirnya baru bisa dipastikan setelah kedua pemimpin menemukan kecocokan waktu yang diperlukan.
Dalam kerangka tersebut, kunjungan kerja Prabowo ke Prancis pada 26 Mei 2026 menunjukkan bahwa komunikasi antara Indonesia dan Prancis berjalan melalui jalur resmi yang telah lebih dulu dibangun. Sugiono menegaskan kembali bahwa pertemuan itu berangkat dari undangan Macron yang sempat tertunda, kemudian disepakati ulang saat kesempatan di Paris, sehingga kunjungan tersebut menjadi kelanjutan dari proses yang sudah berlangsung sejak lama.












