jurnalistik.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan kegelisahannya pada peluncuran BBM baru biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Dalam acara tersebut, ia mengaitkan capaian produksi biodiesel dengan target olahraga nasional di level paling bergengsi.
Prabowo mengatakan, Indonesia saat ini sudah mampu memproduksi biodiesel B50. Namun, menurutnya, ada satu hal yang masih sulit bagi Indonesia dalam konteks Piala Dunia.
Ia lantas menyinggung bahwa proses menuju Piala Dunia belum menunjukkan kemajuan. Prabowo menyatakan, “Yang masih kita sulit adalah masuk Piala Dunia. Jadi saya resah, terus terang saja saya resah. Kita bisa B50, tapi tidak bisa masuk Piala Dunia,” ujar Prabowo.
Di hadapan para hadirin, Prabowo kemudian mempertanyakan langkah yang perlu ditempuh agar Indonesia bisa menembus Piala Dunia. Ia meminta jawaban mengenai cara memperbaiki kondisi yang selama ini dinilainya belum memungkinkan Indonesia lolos.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mencari keberadaan Menpora Erick Thohir. Ia tampak menanyakan Erick Thohir karena Menteri tersebut tidak hadir dalam acara peluncuran BBM B50.
Setelah memastikan Erick Thohir tidak berada di lokasi, Prabowo meminta bantuan Boy Thohir, kakak kandung Erick, untuk menyampaikan permintaannya. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dengan nada yang disambut tawa para menteri yang hadir.
Prabowo mengungkapkan, “Bagaimana caranya masuk Piala Dunia? Jangan anggap enteng, sepak bola kehormatan. Siapa bertanggung jawab? Mana Erick Thohir mana? Boy? Kasih tahu adikmu ya. Haduh haduh,” kata Prabowo disambut tawa menteri.
Selain menyinggung ketidakhadiran Menpora, Prabowo juga mencari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Sama seperti Erick Thohir, Purbaya juga tidak hadir dalam acara yang sama.
Berita Terkait
Prabowo lalu menanyakan keberadaan Menkeu dan menempatkan pertanyaan langsung terkait kebutuhan yang diperlukan untuk masuk Piala Dunia. Ia menyampaikan pertanyaannya kepada para hadirin dengan gaya yang menekankan urgensi masalah tersebut.
“Mana Menkeu? Apa yang diperlukan supaya kita bisa masuk Piala Dunia?” imbuhnya.
Serangkaian pertanyaan yang dilontarkan Prabowo menggambarkan fokus yang ia bawa dalam acara peluncuran BBM B50. Di titik yang sama, ia menegaskan bahwa kemajuan di bidang energi belum otomatis menjawab persoalan yang terkait prestasi sepak bola nasional.
Sepanjang penyampaian, Prabowo tidak hanya berhenti pada keresahan, melainkan juga mengarahkan diskusi pada pihak-pihak yang dinilainya memegang peran tertentu. Ia menanyakan siapa yang bertanggung jawab dan meminta agar ada cara yang jelas untuk membawa Indonesia lolos Piala Dunia.
Dengan suasana acara yang berlangsung di Rest Area KM 57 Cikampek, Karawang, Prabowo menekankan bahwa target masuk Piala Dunia harus diperlakukan serius. Ia menyebut sepak bola sebagai urusan kehormatan, sekaligus menuntut jawaban praktis terkait langkah menuju capaian tersebut.
Keresahan yang disampaikan Prabowo dalam acara peluncuran biodiesel B50 kembali menegaskan bahwa ia memusatkan perhatian pada dua agenda yang berjalan berdampingan. Ia mengaitkan kemampuan memproduksi B50 dengan harapan agar Indonesia mampu menembus Piala Dunia melalui upaya yang dianggap masih belum menemukan jalan yang tepat.
Dalam momen peluncuran tersebut, kegelisahan Prabowo disampaikan secara terbuka, seolah menempatkan dua agenda yang tampak tidak berhubungan dalam satu kerangka perhatian. Ia menyoroti bahwa keberhasilan di sektor energi, meski dapat ditunjukkan lewat biodiesel, tidak otomatis menghapus hambatan yang masih dirasakan pada pencapaian sepak bola nasional.
Rangkaian pertanyaannya juga beranjak menjadi penekanan pada siapa yang memegang peran dan siapa yang seharusnya memberi penjelasan. Saat sejumlah pejabat yang ia cari tidak terlihat hadir, Prabowo kemudian mengalihkan permintaan itu kepada Boy Thohir, kakak kandung Menpora, dan suasana berubah menjadi respons tawa para menteri di lokasi.
Di akhir sesi, Prabowo kembali mendorong agar ada jawaban yang konkret mengenai arah perbaikan agar Indonesia dapat mencapai target masuk Piala Dunia. Ia menempatkan persoalan itu sebagai hal yang tidak boleh dipandang remeh, karena menurutnya sepak bola merupakan urusan kehormatan, sehingga tuntutan tanggung jawab dan langkah nyata harus dijawab di hadapan para hadirin.












