Daerah

Warga Cibarusah Mengeluh, Air PAM Tak Pernah Mengalir Walau Pipa Sudah Terpasang

×

Warga Cibarusah Mengeluh, Air PAM Tak Pernah Mengalir Walau Pipa Sudah Terpasang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Warga Cibarusah Keluhkan Air PAM Tak Pernah Mengalir meski Pipa Sudah Terpasang

jurnalistik.co.id – Warga Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, mengeluhkan kondisi layanan air bersih yang mereka terima belum kunjung berjalan sebagaimana mestinya. Di lingkungan mereka, jaringan pipa Perumda Tirta Bhagasasi dinilai sudah dipasang, tetapi hingga saat ini air tak mengalir ke rumah-rumah.

Keluhan itu disampaikan sejumlah warga saat distribusi bantuan air bersih pada Kamis (30/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, warga memanfaatkan air bantuan dari PDAM Tirta Bhagasasi untuk kebutuhan sehari-hari sementara, termasuk untuk mandi dan menampung air menggunakan jeriken.

Pipa terpasang, debit air hanya menetes

Menurut warga, keberadaan perpipaan tidak otomatis membuat kebutuhan air tercukupi. Mereka menyebut debit air yang keluar sangat kecil, bahkan sebagian rumah tidak mendapat aliran sama sekali.

Salah satu warga, Kurniasih (34), mengatakan keluarganya mengalami krisis air bersih selama lebih dari dua bulan. Selama masa itu, ia mengandalkan bantuan air bersih atau mengambil air dari Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi.

“Di sini sebenarnya pipanya udah dipasang. Sampai sekarang keluarnya paling cuma setetes dua tetes,” ujar Kurniasih kepada Kompas.com, Kamis.

Kurniasih menuturkan, ketika waktu pengambilan air dari kali tidak memungkinkan, ia terpaksa membeli air dari warga lain. Ia menyebutkan harga satu toren sebesar Rp 60.000 dan hanya cukup untuk satu hari.

“Kalau enggak sempat ngambil, ya beli dari orang. Satu toren harganya Rp 60.000. Itu juga cuma cukup untuk sehari,” katanya.

Keluhan senada disampaikan Iin (33). Ia mengatakan jaringan pipa sudah terpasang, namun tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya secara penuh.

“Di sini cuma pipanya aja ada. Tapi belum mengalir semuanya. Tapi kalau harus bayar mahal saya juga enggak bisa. Mending saya ambil ke kali aja,” kata Iin.

Akibat kondisi tersebut, selama sekitar empat bulan terakhir keluarga Iin bergantung pada air dari Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, hingga mencuci beras. Untuk kebutuhan minum, mereka membeli air galon isi ulang karena di rumah sama sekali tidak ada air.

“Di rumah sama sekali enggak ada air. Kalau minum mah beli air galon,” ujarnya.

Warga berharap aliran segera berfungsi

Odeh (36) menuturkan, warga sebenarnya menantikan agar jaringan air bersih yang telah dipasang dapat segera berfungsi. Harapannya, kesulitan mendapatkan air tidak lagi meningkat terutama ketika cuaca kering.

“Maunya sama bupati air PAM-nya dinyalain, biar warga Pamoyanan enggak kekeringan walaupun enggak ada hujan, gitu. Pokoknya mau air PDAM -nya nyala,” katanya.

Senada dengan itu, Kinem (50) menyebut kondisi yang sama berlangsung cukup lama. Meski saluran pipa tersedia, keluarga Kinem tetap mengandalkan sumur resapan dan bantuan air bersih karena air dari jaringan PAM tidak pernah mengalir.

Dari kesaksian warga, masalah yang mereka hadapi bukan sebatas soal ketersediaan air pada jam tertentu, melainkan soal fungsi jaringan yang belum berjalan. Mereka berharap pemasangan pipa dapat segera diikuti dengan aliran yang nyata agar kebutuhan dasar rumah tangga tidak terus bergantung pada bantuan dan pengambilan air dari kali.

Di tengah keterbatasan itu, aktivitas harian warga turut terdampak. Mereka harus menyusun cara agar kebutuhan air tetap tersedia, mulai dari menampung air, mengambil air dari lokasi terdekat, hingga membeli air ketika kondisi tidak memungkinkan.

Dengan kondisi yang belum membaik, warga menegaskan pentingnya perbaikan agar jaringan yang sudah terpasang benar-benar dapat digunakan. Mereka berharap aliran air dari PDAM Tirta Bhagasasi dapat segera normal sehingga rumah-rumah di Kampung Pamoyanan tidak lagi mengalami kekurangan air bersih saat bantuan menjadi satu-satunya jalan sementara.