Politik & Parlemen

Greens Meninjau Ulang Pengelolaan Media Sosial di Tengah Tensi Kasus Polanski

×

Greens Meninjau Ulang Pengelolaan Media Sosial di Tengah Tensi Kasus Polanski

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Greens review social media operation as Polanski row rumbles on

jurnalistik.co.id – Partai Hijau Inggris (Greens) sedang meninjau ulang cara kerja operasi media sosial mereka, yang selama setahun terakhir dinilai berperan besar terhadap lonjakan popularitas partai, demikian keterangan sumber kepada BBC.

Greens menegaskan peninjauan tersebut tidak terkait langsung dengan reaksi keras yang muncul minggu ini setelah Zack Polanski mengunggah ulang sebuah foto yang memicu kontroversi.

Kontroversi bermula ketika Polanski menempelkan ulang gambar seorang pria yang mengenakan kaus bergambar mesin guillotine dengan slogan “we’re only making plans for Nigel”, yang dinilai sebagai rujukan terhadap Nigel Farage.

Meski begitu, pihak Greens menyatakan insiden itu justru mendorong pertanyaan soal apakah masuk akal jika pemimpin partai tetap mengelola langsung kanal media sosialnya sendiri.

Dalam wawancara di BBC Newsnight, Polanski berulang kali menolak untuk meminta maaf, dengan alasan “an inadvertent mistake”. Ia juga mengakui bahwa dirinya perlu “be better on social media”.

Polanski menjelaskan, “I just didn’t look carefully enough and I accepted it, as soon as I was aware of what happened I unaccepted it and took it down,” dalam upayanya menegaskan tindakan itu terjadi tanpa sengaja dan kemudian segera diperbaiki setelah ia sadar.

Menurut pemberitaan, Polanski menerima banyak unggahan dari pengguna lain yang meminta agar ia melakukan unggah ulang. Namun, berbeda dengan sejumlah tokoh politik berprofil tinggi di Inggris, Polanski disebut masih mengendalikan akun-akun miliknya sendiri, alih-alih menyerahkan pengelolaan kepada staf partai.

Pola ini bisa membuat kehadirannya terlihat lebih “spontan” dan “authentic” di media sosial—dua hal yang sering dipandang bernilai di ruang digital—tetapi juga membawa risiko yang lebih besar.

“Row” yang berkembang saat ini dimulai setelah Polanski berbagi satu unggahan di Instagram yang berupa carousel berisi 20 gambar. Unggahan ulang itu kemudian muncul ke 713.000 pengikutnya, karena Polanski menerima permintaan untuk diberi label sebagai kolaborator.

Di platform tersebut, status kolaborator membuat Polanski berperan sebagai “co-author”, sehingga konten masuk ke halaman Polanski dan turut tampil pada umpan pengikutnya.

Polanski menyatakan ia tidak menyadari adanya gambar yang dianggap bermasalah di antara rangkaian gambar lain dalam unggahan tersebut. Ia juga menyebut bahwa ia sudah menerima label kolaborator untuk delapan unggahan lain dari acara yang sama di Bristol.

Dari kubu oposisi, Nigel Farage mengklaim kaus itu memuat ajakan untuk melakukan pembunuhan, dan Reform UK melaporkan insiden tersebut ke polisi.

Namun, baik Metropolitan Police maupun Avon and Somerset Police menyatakan insiden tersebut tidak memenuhi ambang batas untuk tindakan lanjutan.

Meskipun demikian, debat politik terus berlanjut. Pada konferensi pers hari Kamis, Robert Jenrick—anggota parlemen dari Reform UK—menyebut Polanski sebagai “nasty piece of work”.

Di internal Greens, muncul pula kritik atas perilaku Polanski di dunia maya. Ia disebut menarik perhatian dari kubu yang mendukung maupun yang mengkritik, terutama terkait ritme unggahan, komentar, serta aktivitas seperti like dan balasan di berbagai platform, termasuk X, Bluesky, Facebook, dan Instagram.

Polanski juga disebut tidak menghadapi kontroversi untuk pertama kalinya. Bulan lalu, ia harus meminta maaf kepada polisi setelah memuat unggahan tentang respons aparat dalam kasus Golders Green attack.

Sumber senior partai menyebut jelas bahwa due diligence terhadap aktivitas media sosial Polanski tidak dilakukan dengan memadai. Ke depan, menurut sumber itu, Polanski perlu “tight controls” agar tetap kredibel, tanpa meninggalkan gaya interaksi yang kurang lebih serupa dengan kebiasaan terlibat langsung kepada pengikutnya.

Sumber tersebut menilai kecepatan dan banyaknya interaksi Polanski memberi “small upside”, tetapi menyisakan “colossal downside”. Insiden terbaru digambarkan sebagai momen yang memperburuk keadaan: “shot himself in the foot at precisely the wrong time”.

Penilaian itu muncul di tengah dinamika elektoral yang lebih luas. Beberapa laporan survei disebut menunjukkan Greens kehilangan posisi dibanding Partai Buruh, terutama setelah Andy Burnham terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh, serta menurun dari puncak yang dicapai lebih awal tahun ini.

Selain persoalan Polanski secara personal, sumber partai juga mengaitkan kekhawatiran pada problem lebih besar terkait proses seleksi dan verifikasi di media sosial serta calon kandidat. Isu yang disebut mencakup unggahan antisemitik dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam pemilu-pemilu sebelumnya, sejumlah kandidat bahkan mengundurkan diri karena aktivitas media sosial mereka. Ada juga dua kandidat yang ditangkap selama pemilihan lokal bulan Mei, serta satu kandidat lain yang sempat ditangguhkan setelah terpilih.

Di sisi lain, Baroness Jones—anggota parlemen dari House of Lords sekaligus mantan wakil wali kota London—menilai kritik terhadap unggahan ulang Instagram Polanski terutama datang dari pihak lawan, bukan dari diskusi internal.

Ia mengatakan pemimpin partai tersebut “made a mistake” dan menambahkan, “we’ve all done it and got flak.” Namun, Jones juga menegaskan bahwa kehadiran Polanski di ruang daring membuatnya terasa dekat dengan publik: “His online presence is what makes him relatable”.

Daya tarik inilah yang turut menjelaskan popularitas Polanski. Disebutkan, ia merupakan pemimpin Inggris dengan jumlah pengikut terbanyak kedua di Instagram setelah Nigel Farage.

Sepanjang tahun ini, Greens juga disebut melampaui partai lain untuk menjadi yang paling populer di platform tersebut. YouGov disebut menyatakan Greens adalah partai paling diminati di kalangan anak muda di bawah 30 tahun.

Dalam pemberitaan BBC, wajah pria yang mengenakan kaus tersebut telah diburamkan. Selain itu, Nigel Farage disebut memublikasikan gambar itu di akun X miliknya.

BBC melaporkan adanya peninjauan internal yang dikonfirmasi oleh sumber partai lain, meski sumber itu tidak memastikan apakah peninjauan tersebut berujung pada perubahan siapa yang mengawasi unggahan Polanski.

“We are looking at our processes and systems in this area,” ujar sumber tersebut, seraya menegaskan bahwa Zack Polanski sangat aktif di media sosial. Aktivitas itu, menurut sumber, berkontribusi pada pertumbuhan jangkauan dan keanggotaan.

Hingga sekitar setahun lalu, tim media sosial Greens disebut hanya beranggotakan satu orang penuh waktu. Kini jumlahnya meningkat menjadi tiga atau empat orang, dan bisa bertambah setelah proses peninjauan selesai.

Sumber tersebut menyatakan ekspansi tersebut merupakan respons atas pertumbuhan partai. “As part of that we are looking at what we might do to support and beef up our social media team,” katanya.

Di saat yang sama, sumber partai menyebut liputan atas sengketa unggahan Instagram itu terasa “deeply irritating”, tetapi peninjauan tidak langsung dipautkan hanya pada insiden tersebut.

Dengan demikian, pertanyaan yang tersisa adalah berapa lama Polanski mempertahankan kendali penuh atas akun-akunnya sebelum akhirnya beralih menyerahkan kata sandi dan kendali kepada staf partai.