jurnalistik.co.id – Legenda Newcastle, Alan Shearer, menyampaikan kekhawatiran besar soal arah klub setelah kepergian Eddie Howe pada pramusim. Ia menilai masa depan The Magpies kini berada di situasi yang makin sulit, tepat di saat Liga Inggris tinggal berjalan tiga pekan lagi.
Shearer memulai dengan rasa terima kasih kepada Howe. Baginya, apa pun alasan di balik keputusan itu, Eddie Howe tetap menjadi “legenda” bagi publik Geordie, terutama karena menghadirkan hari terbaik bagi para pendukung Newcastle.
Ia mengingat momen ketika Newcastle meraih Carabao Cup 2025 di Wembley. Shearer menegaskan, kemenangan tersebut mematahkan penantian panjang mereka untuk trofi besar, sekaligus mengubah cerita yang selama ini terasa berulang bagi generasinya.
Shearer juga menyoroti perjalanan Howe sejak mengambil alih pada November 2021. Saat itu, klub berada di posisi 19 Premier League dan tertinggal lima poin dari zona aman setelah 11 pertandingan, sebelum akhirnya mampu bertahan.
Menurut Shearer, dampak Howe kemudian terlihat dari hasil di musim-musim berikutnya. Newcastle finis keempat, ketujuh, dan kelima dalam tiga musim selanjutnya, dengan sejumlah malam berkelas di Liga Champions yang ikut mengangkat nama klub.
Di sisi lain, Shearer mengakui musim lalu berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Newcastle finis 12, dan baginya itu memang tidak memuaskan, meski ia juga tidak ingin menyalahkan Howe sendirian atas kegagalan tersebut.
“Apa yang terjadi musim panas lalu” dinilai Shearer sebagai titik yang sangat menghambat Newcastle. Ia menyebut Alexander Isak meninggalkan klub dan The Magpies gagal mengamankan target transfer utama mereka, lalu pola serupa berlanjut hingga tahun ini.
Ia menilai situasi itu mungkin menjadi pertimbangan Howe dalam menentukan langkah berikutnya. Dengan sudut pandang seorang fan, Shearer merasa Newcastle perlu bersiap untuk musim yang berat dan “very challenging times ahead” di waktu dekat.
Kepergian di tengah pramusim, dengan jeda sangat singkat
Shearer juga menyoroti timing keputusan Howe. Kepergian terjadi hanya tiga pekan setelah pramusim berjalan, padahal Liga Inggris sudah tinggal menunggu tiga pekan lagi untuk kembali bergulir.
Ia mengaku tidak mengetahui detail yang terjadi di balik layar. Namun, dari sudut pandang yang masuk akal, Shearer menduga Howe melihat pemain-pemain terbaik mulai dijual, dimulai dari Isak, lalu Anthony Gordon dan Sandro Tonali pada musim panas ini.
Di saat yang sama, Shearer menyebut ada spekulasi terkait masa depan kapten Bruno Guimaraes. Ia menilai, kemungkinan kombinasi dari penjualan pemain kunci dan ketidakpastian membuat keputusan Howe terasa lebih dipahami—meski tetap mengejutkan dari sisi kalender.
Shearer merangkum kekhawatirannya dengan kalimat tegas: “You cannot keep selling your best players and then hope to be in contention at the top of the table”. Ia menegaskan, harapannya adalah ia salah, tetapi ia memperkirakan Bruno bisa menjadi pemain berikutnya yang hengkang.
Ia menekankan bahwa perubahan yang terlihat tidak hanya berkaitan dengan pemain yang pergi. Bagi Shearer, “bad look” juga muncul dari kegagalan sejumlah upaya perekrutan yang tidak berhasil masuk ke Newcastle.
Shearer menyebut Hugo Ekitike, Johan Manzambi, dan Victor Munoz—yang, menurutnya, lebih dulu dipastikan pergi ke Liverpool atau Aston Villa dalam 12 bulan terakhir. Ia juga menyoroti sinyal terbaru terkait James Trafford yang memilih Leeds.
Berita Terkait
Ia menduga rangkaian target yang gagal ini mungkin ikut menjadi pertimbangan Howe. Menurut Shearer, mesti ada alasan mengapa Newcastle tidak mendapatkan “so many of their targets” seperti yang diharapkan.
Baginya, kehilangan manajer di atas situasi yang sudah memerlukan perombakan besar adalah pukulan besar. Apalagi jika figur yang pergi memiliki kualitas tinggi dan bisa menarik tawaran besar dari klub-klub baik di dalam negeri maupun luar Inggris.
Shearer bahkan berpendapat, situasi seperti ini akan sulit juga bagi pelatih yang berpengalaman. Ia menyebut Matthias Jaissle yang diharapkan mengisi peran tersebut berusia 38 tahun.
Ia mengingat bahwa Jaissle pernah sukses bersama Al-Ahli di Arab Saudi. Namun, Shearer menilai perbandingan itu tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan pekerjaan di Premier League yang, menurutnya, “completely different beast”.
Newcastle berubah: tujuan, ambisi, dan model transfer
Shearer kemudian mengajak melihat gambaran lebih besar. Ia menyatakan bahwa siapa pun bisa melihat “all the ins and outs” di Newcastle, dengan dinamika keluar-masuk yang menunjukkan arah klub sedang bergeser.
Ia menegaskan, apa pun pernyataan yang dikeluarkan klub, lanskap telah berubah. Perubahan itu ia lihat pada tujuan dan ambisi pemilik, serta strategi transfer yang terasa berbeda jauh dibanding bahkan tiga tahun lalu.
Shearer menggambarkan bahwa pada periode sebelumnya, langit seolah menjadi batas. Obrolan saat itu adalah bersaing dengan tim terbaik dan mengincar target besar setiap musim.
Saat ini, pendekatannya berbeda: menjual pemain terbaik lalu menggantinya dengan pemain muda yang “younger, hungry and up-and-coming prospects”. Ia menambahkan bahwa jika pendekatan itu semudah mempertahankan daya saing di papan atas, klub mana pun akan melakukannya.
Ia mengakui ada aturan pengeluaran yang harus mematuhi Profitability and Sustainability rules di Premier League. Meski demikian, Shearer merasa rencana awal masih terasa seperti upaya untuk berjuang memperebutkan trofi setiap musim.
Ia menarik kembali ingatan pada musim panas 2023, ketika Newcastle baru saja finis keempat. Saat itu, mereka mendatangkan Tonali, Harvey Barnes, dan Tino Livramento untuk skuad yang sebelumnya sudah memiliki Isak, Gordon, dan Bruno.
Menurut Shearer, skuad itu memberi sinyal bahwa Newcastle siap menantang untuk semua hal, dan secara kemampuan mampu mengalahkan siapa pun. Ia bahkan menyebut Howe telah membuat Newcastle menjadi tim yang menyulitkan lawan—dalam arti yang paling baik.
Namun, tiga tahun berselang, Shearer menilai sebagian besar “team” itu sudah berubah dan manajernya ikut pergi. Ia menegaskan bahwa yang paling terasa berbeda justru model klub secara keseluruhan, bukan hanya individu yang keluar-masuk.
Shearer menyimpulkan bahwa “goalposts” bergerak sangat jauh dibandingkan posisi yang dulu dideklarasikan klub. Ketika Newcastle memenangkan Carabao Cup, ia berharap itu menjadi awal sesuatu yang sangat istimewa, tetapi kini ia merasa banyak hal telah berubah sejak saat itu.
Dalam wawancara yang ia sampaikan kepada BBC Sport bersama Chris Bevan, Shearer pada akhirnya kembali ke satu pesan utama: Newcastle kini memasuki periode yang membutuhkan kesiapan ekstra menghadapi masa-masa yang tidak mudah. Di tengah jeda pramusim yang tersisa sangat singkat, perubahan yang terjadi terlihat bukan sekadar pergantian manajer, melainkan dinamika menyeluruh yang akan menentukan kompetisi berikutnya.












