jurnalistik.co.id – Penerapan aturan baru dari Football Association (FA) mulai musim ini membuat hukuman untuk pelaku diskriminasi di lapangan menjadi lebih berat. Mereka yang dinyatakan bersalah kini minimal harus menjalani larangan tampil setidaknya 10 pertandingan.
Kebijakan ini berlaku untuk setiap individu yang terbukti melakukan pelanggaran terkait diskriminasi, termasuk pihak yang berada di ruang teknis. FA menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen agar pertandingan benar-benar bebas dari tindakan diskriminatif.
Pada musim-musim sebelumnya, rentang skorsing untuk “aggravated breaches” berada di kisaran enam hingga 12 laga. Skema tersebut terkait dengan FA Rule E3.2, yang menyasar perilaku menyangkut rujukan tentang asal etnis, warna kulit, ras, kewarganegaraan, agama, jenis kelamin, gender, penugasan gender kembali, orientasi seksual, serta disabilitas.
Dalam aturan yang diperketat, batasan minimal ditetapkan menjadi standar baru. Dengan kata lain, pemain yang dinyatakan bersalah akan menghadapi larangan paling sedikit 10 pertandingan, tanpa menjadikannya sekadar opsi awal.
Aturan yang diperketat dan ruang lingkup pelanggaran
FA juga menempatkan manajer dan individu di area teknis dalam cakupan sanksi yang diperbarui. Artinya, tindakan atau pelanggaran yang masuk kategori aggravated breaches tidak hanya berhenti pada pemain, tetapi dapat menyeret pihak-pihak yang terlibat langsung dalam situasi pertandingan.
Langkah ini tidak berdiri sendiri. FA menyebutnya sebagai upaya menanggapi masalah diskriminasi yang masih terus muncul di kompetisi, meski telah ada kemajuan pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam pernyataannya, FA menyatakan terdapat progres yang signifikan di beberapa periode terakhir. Namun, diskriminasi masih menjadi tantangan yang nyata di sepak bola dan masih perlu penanganan yang lebih tegas.
FA juga menegaskan “enhanced measures are necessary to tackle this abhorrent conduct”, yaitu langkah-langkah yang diperkuat diperlukan untuk menghadapi perilaku yang dinilai memalukan tersebut.
Dengan demikian, peningkatan standar skorsing diposisikan sebagai cara untuk memperjelas konsekuensi bagi pelaku diskriminasi. Fokusnya adalah memastikan bahwa tindakan tersebut tidak dianggap sebagai pelanggaran yang dampaknya ringan atau bisa diabaikan.
Berita Terkait
Skorsing bisa lebih lama dari 10 pertandingan
Walau standar minimal kini 10 pertandingan, FA menyebut kemungkinan adanya larangan di atas angka tersebut. Pengambilan keputusan dilakukan oleh komisi regulasi bila terdapat faktor yang dianggap “significant” sebagai faktor pemberat.
Artinya, dalam perkara tertentu, sanksi dapat ditingkatkan karena aspek-aspek tertentu dinilai membuat pelanggaran lebih serius. Penilaian tersebut tidak semata-mata berhenti pada kategori umum, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang memperberat.
Di sisi lain, FA juga membuka ruang untuk skorsing yang lebih pendek dalam situasi tertentu. Skorsing minimal enam pertandingan dapat dipertimbangkan bila ada keadaan yang meringankan atau bila individu yang bersangkutan mengaku pelanggaran pada kesempatan paling awal.
Meski begitu, FA menegaskan bahwa skorsing enam pertandingan tidak lagi menjadi standar minimum seperti pada regulasi sebelumnya. Dengan aturan baru, enam pertandingan hanya dipandang sebagai opsi bila memenuhi syarat keadaan meringankan atau pengakuan yang dilakukan sedini mungkin.
Kasus berulang dan “very serious cases”
FA juga mengatur konsekuensi untuk pelanggaran yang terjadi lebih dari sekali. Individu yang dinyatakan melakukan dua atau lebih aggravated breaches pada kesempatan terpisah dapat menghadapi skorsing lebih dari 12 pertandingan.
Dalam kondisi tertentu, sanksi juga dapat berbentuk skorsing berbasis durasi, bukan hanya hitungan jumlah laga. FA menjelaskan hal ini dapat terjadi pada “very serious cases”, dengan durasi skorsing apa pun selama kasus dinilai termasuk kategori yang sangat serius.
Dengan rangkaian ketentuan tersebut, kebijakan FA terlihat menata ulang tingkat respons terhadap diskriminasi. Standar minimal dinaikkan, faktor pemberat diperhitungkan untuk kemungkinan skorsing lebih panjang, sementara faktor meringankan tetap bisa memengaruhi besaran hukuman.
Keseluruhan perubahan ini bertujuan memperkuat efek jera dan memastikan diskriminasi tidak dibiarkan berlangsung tanpa konsekuensi yang jelas. FA menempatkan aturan baru sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun lingkungan sepak bola yang lebih aman dan setara.
Bagi kompetisi yang akan memasuki musim baru, keputusan FA menjadi sinyal bahwa pelanggaran diskriminasi akan ditangani dengan standar yang lebih ketat. Setidaknya, pelaku yang dinyatakan bersalah kini harus siap menghadapi larangan tampil paling rendah 10 pertandingan, dengan kemungkinan skorsing meningkat atau menurun sesuai keadaan masing-masing kasus.












