jurnalistik.co.id – Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) menyatakan belum menemukan tanda adanya kebocoran data setelah drone laut terbaru Royal Navy diketahui memuat komponen buatan China. Pernyataan itu muncul setelah MoD melakukan penilaian rutin terkait kerentanan siber pada perangkat yang dipakai dalam operasi.
Dalam proses yang MoD sebut sebagai “routine cyber vulnerability assessment”, kamera pada drone mendeteksi dan mengirim sinyal jenis squark—yang juga dikenal sebagai heartbeat communication—ke alamat IP yang berada di China. Squark dapat berfungsi sebagai penanda bahwa sistem telah menyala dan berjalan normal, namun juga bisa memuat informasi lokasi.
MoD kemudian menelusuri temuan tersebut secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada akses yang tidak semestinya. Hasil investigasi, menurut juru bicara MoD, tidak menunjukkan adanya peretasan atau pengalihan data ke pihak luar.
“A thorough investigation found no evidence of MoD data or systems being accessed, compromised or transmitted externally,” kata juru bicara MoD. “Our assurance and testing processes are designed to identify and address potential vulnerabilities early, and we continue to undertake routine security activity across our systems and equipment,” tambah MoD.
Komponen yang dimaksud ditemukan pada drone pengintai K3 Scout milik Royal Navy. Drone jenis ini dirancang untuk mendukung misi pengawasan jarak jauh, sehingga menjadi bagian dari kemampuan pemantauan laut yang digunakan dalam konteks keamanan dan operasi pertahanan.
Royal Navy membeli 20 unit K3 Scout surveillance drones. Drone-drone tersebut, menurut pemasoknya, Kraken, dapat dipakai untuk berbagai profil tugas, termasuk maritime awareness, force protection, logistics, serta precision strike. Pemasok juga menyatakan telah menerima jaminan mengenai aspek keamanan dari pihak terkait.
Di sisi lain, MoD menegaskan bahwa temuan squark pada tahap penilaian tidak berubah menjadi bukti adanya akses, kompromi, atau transmisi data maupun sistem milik MoD ke luar. Dengan kata lain, meskipun kamera sempat mengirim squark ke IP China, tidak ada indikasi bahwa informasi sensitif MoD berpindah atau disalahgunakan.
Meski demikian, kasus ini tetap menjadi perhatian karena Inggris, seperti sejumlah negara anggota NATO, melarang penggunaan komponen buatan China dalam peralatan militer. Karena temuan berhubungan dengan komponen China yang ada pada drone, MoD menghadapi situasi yang dianggap memalukan sekaligus menguji ketatnya pengawasan rantai pasok.
Squark dan penyelidikan setelah penilaian kerentanan
Berita Terkait
MoD menggambarkan bahwa pemeriksaan dilakukan melalui tahapan evaluasi kerentanan siber yang bersifat rutin. Pada tahap tersebut, kamera pada drone mengirim squark/heartbeat communication ketika sistem aktif dan berfungsi, yang kemudian terpantau menuju alamat IP di China.
Setelah sinyal itu terdeteksi, MoD menjalankan penyelidikan untuk menilai dampaknya. Fokus utama investigasi adalah memastikan apakah ada akses terhadap data MoD atau sistem pertahanan, apakah terjadi kompromi, dan apakah ada transmisi keluar yang dapat menimbulkan risiko.
Menurut keterangan MoD, temuan akhirnya menutup kemungkinan skenario tersebut. Investigasi menyatakan tidak ada bukti MoD data atau MoD systems dapat diakses, dirusak, ataupun dikirimkan secara eksternal.
Berita mengenai kasus ini pertama kali dilaporkan oleh The Telegraph. Namun, ringkasan yang dibawa MoD menekankan bahwa celah yang teridentifikasi telah ditangani melalui proses keamanan yang berkelanjutan, sembari tetap melakukan aktivitas pengujian di berbagai sistem dan peralatan.
Jaminan keamanan dari pemasok, namun komponen kamera tetap berasal dari China
Kraken menyatakan yakin tidak ada informasi sensitif yang dibagikan. Pihak pemasok menyampaikan bahwa mereka memperoleh jaminan terkait keamanan saat kontrak pengadaan drone.
Namun, sumber masalah yang muncul bukan pada seluruh rantai sistem drone secara langsung, melainkan pada pemasok kamera pihak ketiga. Disebutkan bahwa kamera drone tersebut tetap menggunakan komponen buatan China, meskipun pemasok drone utama menyatakan telah menerima kepastian keamanan.
Dengan demikian, kasus ini memperlihatkan bahwa meski sektor pertahanan berupaya mencegah praktik spionase dan menutup peluang pengintaian, kompleksitas rantai pasok tetap menjadi tantangan. MoD memposisikan temuan ini sebagai pengingat untuk memperketat proses peninjauan kerentanan secara berkala, tanpa menerima kesimpulan bahwa data telah bocor.
MoD juga menyatakan pihaknya terus menjalankan aktivitas keamanan rutin di seluruh sistem dan peralatan yang digunakan. Sejalan dengan itu, penilaian lanjutan dan pengujian dimaksudkan untuk menemukan kerentanan sejak dini agar risiko serupa tidak berulang di perangkat militer berikutnya.












