Nasional

Newcastle: Jaissle Pastikan Gaya Touchline ‘Emotional’ Tak Berubah

×

Newcastle: Jaissle Pastikan Gaya Touchline ‘Emotional’ Tak Berubah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Newcastle: Matthias Jaissle says 'emotional' touchline style won't change

jurnalistik.co.id – Matthias Jaissle memulai masa kerjanya di Newcastle United dengan kesan tenang saat diperkenalkan kepada awak media. Namun, ia menegaskan karakter yang ia bawa di pinggir lapangan tidak akan berubah—bahkan ia menyebutnya “emotional”.

Di St James’ Park, perkenalan itu berlangsung dengan suasana yang rapi dan terkontrol sejak awal, dipandu oleh jabat tangan yang hangat. Jaissle sendiri memakai setelan hitam dengan kemeja abu-abu, tampil dengan gaya komunikasi yang terukur dalam konferensi pers pertamanya yang panjang sejak resmi menangani klub pada awal bulan ini.

Meski demikian, manajer Premier League kelak akan berhadapan dengan figur yang berbeda ketika pertandingan berjalan. Mereka yang mengenal Jaissle sebelumnya bahkan menggambarkan adanya jarak yang kontras antara sikapnya di luar dan di dalam lapangan.

“I will not change my style because that’s my personality,” kata Jaissle saat menjelaskan pendekatannya. “On the touchline, I am emotional, but I need to respect the box [technical area] a bit more.”

Ia menambahkan, kekhawatirannya justru muncul pada respon wasit terhadap ekspresinya. “I’m a bit scared. I hope in the beginning the referees can maybe close their eyes here and there a little. I need to learn that.”

Ia juga menyentil soal pengalaman lamanya di liga lain. “I had a long touchline in Saudi Arabia, so I think the GPS would be quite high if I had worn it!” ucapnya, menggambarkan seberapa intens ia biasa bergerak di area teknis.

Menghidupkan lagi suasana St James’ Park

Perbincangan mengenai Jaissle tidak lepas dari upaya mengembalikan daya tekan khas Newcastle di kandang. Setelah merasakan jantung St James’ Park, ia berbicara tentang transformasi atmosfer yang ingin diciptakannya lagi.

Ia menggambarkan momen saat timnya pertama kali menjalani tur fasilitas. “We were just looking at each other with a big smile, goosebumps,” ujarnya. “Just really special.”

Dalam tur itu, Jaissle juga mendapat penjelasan mengenai apa yang dirasakan pemain ketika penonton hadir penuh. “The guys here who were leading the tour told me how it feels when the crowd are there,” katanya.

Ia berharap cara bermain yang ia inginkan bisa menyatu dengan dukungan tribun. “When we hopefully play in the way they want to see us – intense football, a vertical approach, aggressive, front-footed – there is a great synergy between the fans and the team.”

Gambaran ini selaras dengan catatan bahwa musim sebelumnya diwarnai penurunan di fase akhir. Keinginan untuk menjadikan stadion kembali sulit bagi lawan menjadi salah satu prioritasnya.

Sebelum Jaissle, Eddie Howe juga dibayangi oleh pola kepemimpinan yang penuh energi dan vokal. Namun, performa Newcastle pada paruh kedua musim lalu menunjukkan celah yang membuat “fortress” di St James’ Park mulai melemah, ketika mereka akhirnya finis di peringkat ke-12 Premier League.

Howe sempat mengakhiri penantian panjang tim akan trofi besar dengan keberhasilan memenangkan Piala EFL pada 2025. Ia juga membawa Newcastle tampil di Liga Champions sebanyak dua kali, sekaligus membangun lingkungan yang membuat pemain merasa aman untuk bermain pada level terbaik.

Meski begitu, rekor kandang dan tandang di kampanye terakhir menjadi penanda bahwa ada tantangan yang harus segera ditangani. Newcastle kehilangan tujuh pertandingan liga papan atas di kandang, sementara performa tandang mereka juga telah banyak menjadi sorotan sebelum Howe mundur pada bulan lalu.

Latihan di Spanyol dan karakter intensitas

Setelah perkenalan itu, skuad mulai menyesuaikan diri pada prinsip yang dibawa Jaissle. Dalam kamp latihan yang berlangsung di Spanyol pekan lalu, persiapan tersebut berakhir dengan kemenangan 2-1 atas Valencia.

Lukas Hornicek, yang berposisi sebagai penjaga gawang, menyatakan Newcastle ingin menunjukkan kepada lawan bahwa mereka akan menemukan kesulitan sejak awal. Sementara itu, Malick Thiaw menyinggung bahwa intensitas latihan di bawah Jaissle “really high”.

Adam Stoker, pemegang tiket musiman, menilai ada kebutuhan tambahan skuad untuk makin kuat, tetapi ia juga melihat gaya bermain Jaissle sebagai dorongan besar. Ia yakin pendekatan sang pelatih dapat menjadi pijakan untuk melanjutkan warisan Howe.

Stoker membandingkan energi era sebelumnya dengan awal musim ketika Howe masih tampak bugar. “Eddie did look a bit tired and didn’t quite look the same manager as when he started,” katanya. “Some of that energy had been lost and it correlated with the performances of the team.”

Menurut Stoker, ide-ide Jaissle yang sudah mulai terlihat cocok dengan identitas yang pernah membuat Newcastle pada 2022-23 menjadi tim yang menarik untuk ditonton. Ia menyebut tempo tinggi menjadi alasan suporter merasa terlibat langsung.

Ia menambahkan, “We have seen a tiny bit of Jaissle’s ideas now and they seem to be very much in keeping with Newcastle in 2022-23, which was a hugely exciting team to watch.” Lalu ia menegaskan hubungan itu dengan dukungan fans. “That playing style makes the crowd feel involved because the fans want to watch a high tempo.”

Stoker juga menilai pilihan bermain “front-foot, high-intensity football” sejalan dengan karakter yang sejak lama didukung penonton Newcastle. “Playing front-foot, high-intensity football is something the crowd at Newcastle has always been on board with,” ujarnya.

Menghadapi debut Premier League dan masa transisi

Jaissle tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi, karena pembukaan musim akan segera datang dengan laga melawan Liverpool di Tyneside pada 23 Agustus. Ia memulai pekerjaan ini sebagai pelatih yang belum pernah merasakan Premier League secara langsung, termasuk dengan statusnya sebagai manajer yang relatif baru di kompetisi tersebut.

Ia menyadari bahwa hal itu membawa unsur ketidakpastian. Terlebih lagi, Newcastle kehilangan beberapa pemain kunci pada musim panas ini, yaitu Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes. Jaissle menyebut situasi itu menciptakan “vacuum”.

Namun, ia juga melihat perubahan besar sebagai peluang. “We are ambitious,” tambahnya. “That is the most important thing. It is why I decided to come here, but this will not happen overnight, especially when you have such a big transition phase now.”

Ia menekankan perlunya arah yang jelas sebelum perubahan benar-benar terlihat. “You need to have a clear goal and wish of where we want to go to. That starts from the decision-makers, the management and the board.”

Terakhir, Jaissle meletakkan harapan pada sinergi yang dibangun bersama berbagai pihak di klub. “Then, if you have that synergy with the fans, the players and the staff to go there, I’m pretty sure it will be a successful story. But we need time now.”

Dengan waktu yang mepet menuju laga perdana, ia tampak ingin menggabungkan dua hal sekaligus: mempertahankan gaya emosionalnya di pinggir lapangan, dan mengubah St James’ Park menjadi benteng yang sekali lagi memberi tekanan kuat pada lawan—dengan cara bermain intens yang selaras dengan apa yang diinginkan suporter.