Olahraga

Alasan Buffalo Bills Memainkan Lagu Kebangsaan Kanada di Highmark Stadium

×

Alasan Buffalo Bills Memainkan Lagu Kebangsaan Kanada di Highmark Stadium

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why Buffalo Bills played the Canadian national anthem

jurnalistik.co.id – Antara lagu kebangsaan dan suasana stadion, laga NFL selalu menyimpan momen yang tak terduga. Pada pembukaan kandang Buffalo Bills melawan Detroit Lions, nyanyian “Oh Canada!” terdengar menggema di Highmark Stadium—dengan nuansa yang sengaja dibuat mendekatkan dua negara.

Highmark Stadium di Buffalo dihiasi bendera Amerika Serikat dan Kanada menjelang kick-off. Sejumlah pendukung menampilkan atribut tim, termasuk warna merah, putih, dan biru khas Bills, sambil menikmati tradisi tailgate di pelataran stadion.

Jarak stadion ke Toronto menjadi salah satu alasan banyaknya warga Kanada datang lebih awal. Highmark Stadium berada sekitar 112 mil (180 km) dari kota itu, kira-kira perjalanan dua setengah jam, melintasi Danau Ontario yang belakangan sempat menjadi sorotan karena rencana penggantian nama oleh Presiden Donald Trump.

Jika bagi penggemar Amerika, laga NFL bisa menjadi bagian dari identitas kota perbatasan, bagi banyak warga Kanada ini terasa seperti undangan yang hangat. Latar itulah yang membuat momen lagu kebangsaan terdengar tidak sekadar seremonial.

Kejutan utamanya datang saat lagu kebangsaan Kanada diputar dan penampilannya disertai sorak massa. Lapangan tampil dengan “stars and stripes” sekaligus bendera maple leaf, sementara grup band Kanada era 1990-an, The Barenaked Ladies, menyanyikan “Oh Canada!” di hadapan kerumunan besar.

Bagi sebagian pendukung Kanada, itu adalah pengalaman emosional. Ben Kerr, warga Bradford, Ontario, mengatakan, “I’ve always felt welcome here,” sebelum menambahkan bahwa ia menganggap langkah tersebut sebagai pengakuan: “I think it’s a nice acknowledgement.” Ia juga menyatakan apresiasi: “I appreciate that the Bills are doing that for Canada.”

Kerr menilai sambutan di Bills bisa melampaui dinamika politik yang belakangan makin menegang. Hubungan AS dan Kanada, yang menurut laporan ini memburuk sejak Donald Trump kembali berkuasa, digambarkan makin jauh dengan eskalasi perselisihan tarif dan aksi balas-menbalas.

Perdana Menteri Mark Carney disebut mengatakan Kanada—yang berbagi perbatasan terpanjang di dunia yang tidak dijaga—berada dalam keadaan “at war” dengan tetangga selatannya terkait perdagangan. Trump juga digambarkan menyebut Kanada “nasty” dan “entitled”.

Di luar stadion, dampaknya ikut terasa pada sektor ekonomi. Di tengah tarif yang membuat industri Kanada terpukul dan warga Kanada memilih untuk memboikot perjalanan serta belanja di AS, keputusan untuk datang ke Buffalo menjadi lebih rumit.

Kerr mengaku berusaha menekan pengeluaran saat berada di AS. “I try to spend as little money as possible in the US,” ujarnya, lalu menjelaskan strategi yang ia pilih: “Buy our food in Canada, buy our beer in Canada, bring it across and drink it here. We’re not big in supporting the American economy in this trade war.”

Bagian lain dari laporan ini menyoroti bagaimana lagu kebangsaan Kanada bisa ikut mencerminkan suasana hati masyarakat yang sedang kesal. Beberapa pendukung Amerika bahkan menyebut momen tersebut sebagai penguat identitas mereka sebagai kota perbatasan.

Drew Grier, warga Amerika yang tinggal delapan menit dari stadion, mengatakan, “the anthem playing tonight is a core part of who we are as a border city”. Ia merujuk pada pengalaman serupa saat laga hoki es Buffalo Sabres pada April, ketika sebuah mikrofon mati saat lagu kebangsaan Kanada sedang dinyanyikan, dan suara penonton memenuhi ruangan.

Grier menyatakan, “You sang the Canadian anthem because it needed to happen.” Sementara itu, Blake Parnham dari Kanada mengingat momen tersebut dengan emosi yang kuat. Ia mengatakan, “I was sobbing watching the game at home because I felt so vindicated, that Buffalo is different.”

Parnham tidak bisa hadir langsung ke Buffalo untuk pembukaan kandang Bills, tetapi ia menonton dari rumah. Ia menikmati suasana itu dari halaman rumahnya yang dihias di Keswick, Ontario, sambil mengingat bahwa seremoninya pernah membuatnya merasa “vindicated”.

Menurutnya, nyanyian lagu kebangsaan Kanada bukan sesuatu yang secara otomatis memecah. Grier—dalam pernyataan yang dicatat—menyebut nyanyian tersebut “not that polarising of a thing”, dengan alasan bahwa jika ada pihak yang mempolarisasi, sumbernya datang dari luar lingkungan perbatasan.

Namun, tidak semua penilaian berjalan senada. Laporan ini juga memuat respons kritis dari sebagian penonton. Seorang penggemar menulis di media sosial bahwa, “The only acceptable reason to sing that anthem would be if they were playing a Canadian team, but they don’t play any Canadian teams,” seraya menambahkan keraguan atas kebutuhan seremoni tersebut.

David Waring, yang hadir pada laga Kamis, ikut menyampaikan pandangannya, “I don’t think it’s really necessary.” Perbedaan sikap ini memperlihatkan bahwa bahkan di stadion, interpretasi bisa beragam.

Di tengah berbagai penilaian itu, faktor sederhana ekonomi juga disebut menjadi pendorong. Highmark Stadium dibangun dengan biaya 2,2 miliar dolar, dan tim membutuhkan basis penggemar yang luas di luar wilayahnya.

Populasi wilayah barat New York disebut sedikit lebih dari 1,5 juta orang. Sementara itu, kawasan metropolitan Toronto dan Hamilton memiliki lebih dari 8 juta penduduk, sehingga hubungan Bills dengan Kanada menjadi strategi yang masuk akal.

Gavin Kemp, yang menjalankan kantor NFL-Canada selama delapan tahun, menjelaskan bahwa hubungan Kanada dengan liga dinilai “extremely important”. Menurutnya, ketika ditanya mengapa Bills memilih tahun ini untuk memainkan lagu kebangsaan Kanada, tim “leaning into one of their biggest parts of their market.”

Kemp juga menyebut Kanada memiliki hampir 15 juta penggemar NFL—sekitar sepertiga populasi negara itu. Ia menambahkan pula perkiraan bahwa sekitar 10–15% pemegang tiket musiman Bills berasal dari Kanada.

Ia menekankan bahwa olahraga bisa melampaui ketegangan politik. “Sports really transcends all of this,” katanya, seraya menilai “All this politics is kind of secondary to the fact that your team is doing fantastic right now.”

Efeknya bahkan bisa dirasakan pada penggemar Amerika dari tim lain. Carol Breed, pendukung Detroit Lions yang berusia 74 tahun, mempertimbangkan perjalanan ke Highmark Stadium dari Battle Creek, Michigan, setelah mendengar Bills akan memainkan lagu kebangsaan Kanada.

Breed mengatakan ia menyukai hubungan negaranya dengan Kanada, dan menilai di Michigan, Kanada lebih dipandang sebagai “relative”. Ia menambahkan keluhannya terhadap tindakan Trump: “I just hate what Trump has done to the partnership.”

Meski tidak menonton langsung pertandingan, Breed mencari cara lain untuk menikmati momen tersebut. Ia menempuh perjalanan dua jam menyeberang perbatasan melalui Gordie Howe International Bridge yang baru dibuka—sebuah akses yang, menurut laporan ini, turut menyulut perpecahan di antara kedua negara.

Ia menjelaskan, “We sang the US anthem until we reached halfway and then started singing the Canadian anthem.” Bagi Breed, nyanyian itu menjadi bentuk pengikat sentimen personal terhadap relasi lintas batas.

Keseluruhan laporan menggambarkan bahwa lagu kebangsaan yang dipilih Bills bukan sekadar penanda acara. Di tengah ketegangan perdagangan dan perdebatan publik, momen tersebut menjadi ruang yang memperlihatkan hubungan Kanada-AS yang tetap hidup—meski suasananya sedang mengeras.