jurnalistik.co.id – RIYADH—Kemajuan pesat kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran, termasuk penguasaan atas sebuah pulau yang dinilai strategis di Laut Merah, kembali mengguncang kawasan yang tengah terjepit ketegangan antara AS dan Iran. Dampaknya terasa pada eskalasi persaingan sekaligus memperparah krisis energi global yang sudah lebih dulu menegang. Laporan bertanggal Minggu, 20 September 2026, 04:40 WIB ini menyoroti kebuntuan langkah balasan, sementara nama Andika Hendra Mustaqim tercantum sebagai penulis naskah.
Meski Arab Saudi disebut sebagai sekutu utama yang diharapkan memukul mundur Houthi, tidak ada rencana yang benar-benar jelas dari AS maupun Arab Saudi untuk mengatasi laju kelompok tersebut, menurut sejumlah sumber yang berbicara kepada CNN. Situasi itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan banyak pihak di kawasan: serangan balasan itu diproyeksikan datang dari mana, dan bagaimana jika kemampuan negara-negara Teluk tidak cukup menahan gerak lawan.
Makin dekatnya kendali Houthi atas jalur laut
Pejabat-pejabat AS mengakui bahwa Houthi terus bergerak dengan tujuan akhir menguasai Selat Bab al-Mandab yang vital. Dalam narasi yang berkembang di lingkungan pemerintahan Trump, minat untuk mengerahkan militer Amerika agar menghentikan langkah Houthi dinilai minim, sehingga perhatian diarahkan pada kemampuan Arab Saudi menjalankan peran penahan.
Bahkan ketika Arab Saudi mendapatkan dukungan intelijen dan penentuan target dari AS, pemerintah Saudi belum dianggap mampu mencegah Houthi merebut kota-kota pesisir penting di Yaman. Kondisi itu disebut memicu frustrasi di kalangan pejabat Teluk maupun di kalangan pejabat di Amerika.
Sejumlah sumber yang sama menyatakan adanya keraguan bahwa pihak Saudi mampu menghentikan Houthi seorang diri. Mereka juga menilai langkah-langkah Houthi tidak sepenuhnya mengejutkan bagi pihak-pihak di kawasan maupun mantan diplomat, mengingat kelemahan pasukan Yaman yang didukung Saudi telah lama menjadi rahasia umum.
Dalam beberapa bulan terakhir, laporan intelijen AS disebut telah menunjukkan kecenderungan Houthi untuk menutup jalur perairan penting lain bagi pelayaran komersial. Pola itu disebut serupa dengan langkah Iran pada awal tahun ini, sebagaimana yang disampaikan oleh para pejabat AS.
AS memberi ruang, tetapi tidak ingin perang melebar
Pola keterlibatan AS digambarkan tidak bergerak dari sekadar dukungan informasi. Seorang pejabat Amerika kepada CNN menyatakan bahwa AS meyakini dirinya telah menyediakan “segala hal yang dibutuhkan Arab Saudi” untuk meraih keberhasilan menghadapi Houthi, dengan rujukan pada peningkatan dukungan intelijen serta data penentuan target yang baru-baru ini diberikan.
Berita Terkait
Menurut keterangan dua sumber kepada CNN, setelah sekitar satu dekade melatih militer pemerintah Yaman, pihak Kerajaan meyakinkan pejabat-pejabat AS bahwa mereka memiliki keyakinan terhadap kemampuan militer mereka sendiri. Di saat yang sama, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi mulai memerangi Houthi lebih dari satu dekade lalu, yakni ketika perang saudara Yaman yang brutal sedang berlangsung.
Relasi konflik itu juga dijelaskan melalui dukungan dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kepada Houthi. Sementara itu, gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 2022 sempat menurunkan intensitas permusuhan antara kedua pihak, namun pertempuran kembali pecah dan meningkat dalam beberapa minggu terakhir.
Pihak Saudi menuduh Houthi menargetkan Mekkah, kota paling suci dalam Islam. Di sisi lain, Houthi menyatakan telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Saudi, sehingga klaim-klaim yang saling bersilangan turut menguatkan persepsi bahwa eskalasi berlangsung di berbagai level.
Dalam konteks batas keterlibatan, Presiden Donald Trump disebut menegaskan bahwa “garis merah” baginya saat ini adalah keterlibatan langsung AS dalam serangan kinetik terhadap Houthi. Hingga saat ini, dukungan militer AS digambarkan terbatas pada penyediaan intelijen dan data penentuan target untuk serangan yang akan dilakukan oleh Saudi.
Seorang pejabat AS mengutip bahwa “Tidak ada serangan ofensif,” sebagai penegasan pembatasan peran. Sejumlah sumber dari kawasan Teluk dan AS menafsirkan pesan itu sebagai isyarat kepada Iran bahwa Trump tidak bersedia mendukung sekutu-sekutu AS di kawasan.
Di hadapan wartawan di Irlandia akhir pekan lalu, Trump menyampaikan, “Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang melawan kami,” lalu menambahkan, “Mereka tidak ingin kami menyerang mereka dan lebih memilih kami tidak terlibat; mereka juga membiarkan sebagian besar kapal melintas.” Ia kemudian menambahkan, “Hanya ada satu negara yang membuat mereka tidak terlalu senang,” merujuk kepada Arab Saudi, dan menyatakan, “dan kami akan membereskan masalah itu.”
Komen Trump dipandang menyudutkan posisi Arab Saudi
Di luar soal kemampuan tempur di lapangan, reaksi diplomat juga muncul. Barbara Leaf—mantan diplomat AS yang pernah bertugas di berbagai wilayah Timur Tengah—menyebut komentar Trump mengenai Houthi sebagai sesuatu yang “mengejutkan.”
Pandangan itu menggarisbawahi bahwa friksi di kawasan bukan hanya soal siapa yang bertempur, melainkan juga soal cara pesan politik AS dipersepsikan oleh pihak lain. Ketika dukungan yang disediakan AS menempatkan tanggung jawab utama pada Arab Saudi, ruang manuver negara Teluk yang ingin meredam laju Houthi tampak menyempit, sementara ketegangan antara AS dan Iran terus menjadi latar yang memperberat perhitungan.
Dengan latar tersebut, frustrasi di kalangan pejabat kawasan muncul dari jarak yang dirasa antara eskalasi yang terjadi dan rencana balasan yang terlihat. Kemajuan Houthi yang mendapat dukungan Iran, kendali atas wilayah strategis di Laut Merah, serta pembatasan keterlibatan kinetik yang ditegaskan Trump, membuat pertanyaan mengenai arah langkah berikutnya terasa semakin mendesak.












