Olahraga

Derek McInnes: Rangers kompak dan intens, Tom English bedah kemenangan Old Firm atas Celtic di Ibrox

×

Derek McInnes: Rangers kompak dan intens, Tom English bedah kemenangan Old Firm atas Celtic di Ibrox

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tom English: Derek McInnes delivers togetherness & intensity in Old Firm gobsmacker

jurnalistik.co.id – Derby Old Firm di Ibrox berakhir dengan dominasi yang begitu menyeluruh hingga apa pun yang dicoba Celtic sepanjang laga terasa selalu terlambat selangkah.

Di Premier Sports Cup perempat final, Rangers memimpin 1-0 lebih dulu, lalu memperlebar kendali menjadi kemenangan 3-0 yang nyaman. Tom English menilai, pada fase-fase penting pertandingan, para pemain McInnes tidak hanya unggul dalam duel, tetapi juga menguasai ritme permainan secara konsisten dari awal sampai akhir.

Rangers datang dengan kebutuhan untuk tampil “lebih besar” dan lebih meyakinkan, dan McInnes menyusun paket yang ia cari. Ia mendapatkan kombinasi formasi serta personel yang cukup berani untuk mengeksekusi rencana, dan hasilnya terlihat pada kelancaran transisi dan tekanan yang terus berlangsung.

Hal yang mencolok, kata analisis tersebut, adalah bahwa “sederhananya” jalan Rangers menuju semifinal terasa seperti kejutan. Sebelum laga ini, baik Rangers maupun Celtic sebenarnya sedang berada dalam fase yang tidak sepenuhnya meyakinkan secara performa—mereka menang, tetapi dalam banyak pertandingan domestik terakhir margin keberhasilannya tidak terlalu lebar.

Meski begitu, ketika pertemuan Old Firm biasanya menghadirkan dramanya sendiri, laga di Ibrox justru berubah menjadi panggung bagi intensitas dan kebersamaan Rangers. Enam pemain membuat debut Old Firm dari starting line-up, dan inexperience yang kerap menjadi tantangan dalam laga sebesar ini tidak terlihat mengganggu eksekusi mereka.

Tekanan sejak menit awal mematahkan rencana Celtic

Gaya Rangers langsung terasa dalam tekanan yang agresif, termasuk pada momen awal yang menjadi semacam pengantar suasana. Pada menit ke-4, Sam Johnstone—penjaga gawang baru Celtic—melakukan operan dari situasi clearance yang justru berbuah kesempatan untuk Kevin Kelsy. Kelsy dapat ruang untuk mengayun, tetapi bola melenceng.

Johnstone yang “gelisah” dalam interaksinya dipersulit oleh press Rangers, dan dari sinilah pertandingan berangsur mengarah ke pola yang sulit diimbangi Celtic. Kelsy sendiri sempat gagal membuka skor di momen itu, namun ia memperbaiki pengaruhnya belakangan.

Keyakinan Rangers juga tampak pada bagaimana mereka mampu mengendalikan pertarungan di lini tengah. Callum McGregor sebagai kapten Celtic dikenal sebagai sosok yang sering “mengatur hari” di pertandingan seperti ini, tetapi Dan Neil tampil sebagai figur utama: ia menonjol lewat gol, sekaligus kontrol dan kepemimpinan yang ia pancarkan di lapangan. Bersama Nico Raskin, Neil membentuk poros yang membuat area tengah tidak memberi ruang bagi Celtic untuk membangun permainan dengan nyaman.

James Penrice turut bekerja dengan kualitas yang jelas, menambah daya dorong dari sisi-sisi pergerakan. Di luar itu, evaluasi terhadap Camilo Duran juga menjadi bagian penting dari cerita laga—ia bermain melebar, bukan di posisi tengah, tetapi dampaknya tetap ditekan oleh Olwethu Makhanya yang “menguasai” Duran dalam duel-duel yang menentukan.

Sementara itu, Kasper Hogh yang membutuhkan gol setelah mencetak gol hanya dalam satu laga dari enam pertandingan terakhir, justru menghabiskan harinya dalam genggaman Emmanuel Fernandez. Dengan tidak adanya servis yang memadai dan nyaris tidak mendapat peluang berarti, Hogh kesulitan menyalakan senjata yang ia bawa.

Rangers tidak hanya menang dalam duel fisik, tetapi juga unggul secara kreatif. Dalam laga seperti Old Firm, sering kali ada momen ketika tim yang unggul harus menghadapi semacam “badai” untuk menjaga keunggulan. Namun, menurut analisis yang sama, Celtic tidak pernah dibiarkan melemparkan ancaman yang cukup untuk mengubah dinamika, bahkan ketika mereka secara alami berusaha merespons.

Rangers justru terus memburu sejak menit-menit awal. Di sisi lain, Celtic juga berkontribusi pada kebuntuan itu melalui kekurangan mereka ketika menguasai bola, sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk menetap dalam intensitas yang justru bisa menekan lawan.

Maka, ketika satu gol sudah terjadi, muncul pertanyaan apakah Celtic akan menemukan momentum untuk membalas. Jawaban untuk pertandingan ini tegas: respon yang ditunggu tidak pernah datang dengan cara yang relevan untuk memulihkan permainan.

Gol pertama lahir seperti “mikrokosmos” dari keseluruhan laga. Ryan Naderi—yang sebelumnya kerap mendapat kritik sebagai striker yang dianggap tidak “Rangers class”—merampas bola dari Cameron Carter-Vickers, lalu Kevin Kelsy meneruskan dengan pilihan yang rapi kepada Dan Neil untuk penyelesaian yang indah.

Keberanian Rangers makin terlihat ketika mereka menambah jumlah. Penambahan skor tidak datang dari serangan yang acak, melainkan dari alur yang jelas: Naderi ikut terlibat dengan sentuhan yang mengarah, kemudian Kelsy menyelesaikan dengan tendangan voli. Untuk Celtic, “lapis kedua” itu menjadi sinyal bahwa mereka tidak sedang berada dalam permainan yang bisa diputar.

Neil kemudian menambah gol keduanya, dan Rangers menutup malam dengan gol ketiga yang digambarkan sebagai “peach”—sebuah penyelesaian yang memperlihatkan betapa para pemain Rangers tampil tanpa rasa takut serta menikmati pertandingan. Setidaknya, kata analisis tersebut, “kebaikan kecil” bagi Celtic adalah skor berhenti di angka 3.

Menariknya, kemenangan ini tidak hanya berbicara soal tujuan jangka pendek. English menekankan bahwa McInnes mungkin menemukan sesuatu yang substansial, bukan sekadar efek satu pertandingan. Ini membuat peta berikutnya menjadi lebih penting: di semifinal League Cup, Rangers akan menghadapi Aberdeen, dan mereka dinilai sebagai favorit besar.

Di saat yang sama, kemenangan ini juga memberi pertanyaan lanjutan soal persaingan liga. Dengan energi dan keyakinan yang sama, Rangers berpotensi mengubah cara mereka mengarungi musim, bukan hanya dalam satu duel berdampak besar, tetapi sebagai tanda bahwa standar permainan mereka bisa muncul dalam bentuk penuh ketika rencana berjalan.

Setelah laga, McInnes digambarkan tetap “terukur”, lebih tenang dari yang mungkin diduga, karena ia memahami bahwa satu pertandingan bukan jaminan apa pun—tidak memberi gelar, tetapi menyisakan momentum berharga, kepercayaan diri, dan gambaran jelas mengenai seperti apa permainan terbaik Rangers ketika mereka berada pada kapasitasnya.

Laga berikutnya bahkan sudah menunggu dengan konteks yang berbeda. Minggu (Sunday), Rangers akan bertandang ke markas Celtic dalam pertandingan liga, dengan sekitar 60.000 penonton yang bersiap memberikan tekanan balik. Dari narasi analisis tersebut, McInnes sudah pernah menyerap situasi seperti itu sebelumnya—meski bukan berarti pertandingan akan mudah.