jurnalistik.co.id – GLASGOW — Perempatfinal Premier Sports Cup di Ibrox pada Minggu ini menjadi momen yang terasa lebih besar dari sekadar laga derby. Selain karena rivalitas Old Firm, momentum musim dan latar Eropa kedua tim ikut menambah bobot pertarungan.
BBC Sport Scotland menyoroti pertemuan pertama Rangers dan Celtic pada musim ini sebagai laga yang berpotensi “seismik”. Di kubu Rangers maupun Celtic, laga ini dipahami sebagai tempat untuk mengukur arah performa, terutama menjelang periode lanjutan kompetisi.
Kesempatan menancapkan sinyal
Legenda Rangers, Graeme Souness, menyebut perempatfinal itu sebagai peluang bagi kedua tim untuk “put a marker down” saat mereka saling bertemu untuk pertama kalinya musim ini. Penekanan itu terasa relevan karena derby seperti ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga soal keberanian mengambil kendali sejak menit awal.
Celtic datang dengan catatan yang sangat kuat di liga domestik. Mereka memenangkan semua enam pertandingan Scottish Premiership sejauh ini dengan 14 gol dan hanya tiga kebobolan, meski perjalanan awal musim mereka tidak selalu mulus.
Celtic memulai dengan kemenangan tipis atas Dundee di kandang. Setelah itu, mereka meraih kemenangan beruntun atas Kilmarnock dan Dundee United. Di panggung Eropa, performa sempat terlihat semakin meyakinkan ketika Celtic menorehkan tiga gol tanpa balas saat menghadapi LASK pada leg pertama babak play-off Liga Champions.
Namun, pekan berikutnya menghadirkan kejutan besar. Callum McGregor mencetak gol sejak awal di Austria, membuat Celtic unggul empat gol dan tampak menuju fase liga, sebelum LASK melakukan comeback yang disebut “of all comebacks” dengan menang 5-1 pada malam itu dan 5-4 secara agregat.
Sejak kekalahan itu, performa Celtic kembali stabil. Mereka memenangkan semua empat pertandingan liga berikutnya, tetapi kemenangan tipis di St Johnstone pada pertengahan pekan tidak bisa disebut meyakinkan sepenuhnya. Martin O’Neill melakukan perubahan signifikan pada susunan pemain sejak awal.
Kebutuhan start cepat di Ibrox
Menjelang pertandingan derby, Scott Brown menekankan pentingnya start cepat. “As a Celtic player, you want to silence that crowd early doors,” katanya, dengan lanjutan, “You want to make sure that you keep the ball, you dictate, and if Celtic get an early goal it becomes a nervous Ibrox.”
Brown juga menambahkan, “The big [derby] is always the first game.” Pesan itu menggambarkan kebutuhan Celtic untuk mengendalikan ritme sejak awal, karena Ibrox dikenal mampu menaikkan tekanan begitu pertandingan berubah arah.
Rangers sendiri menapaki musim dengan perjalanan yang berbeda. Mereka memulai dengan hasil imbang melawan Dundee United dan kalah dari Hibernian, sehingga Derek McInnes belum merasakan kemenangan di dua pertandingan pertama Scottish Premiership sebagai manajer.
Tetapi kondisi kemudian berbalik. Rangers mencatat kemenangan besar di Piala Liga ketika menumbangkan St Mirren secara meyakinkan, lalu menyusul empat kemenangan beruntun di liga. Dengan rangkaian itu, jelang Minggu di Ibrox, suasana di kubu Rangers tampak lebih rosier dibanding awal musim.
Meski begitu, tugas Rangers tidak hanya bersandar pada performa domestik. Di Eropa, Rangers juga pernah mengalami momen yang serupa dengan “embarrassment” bagi rival mereka di kota yang sama. Setelah finis ketiga musim lalu, Rangers masuk ke babak kualifikasi ketiga Liga Europa.
Rangers kalah 2-1 dari Jagiellonia Bialystok pada leg pertama, lalu bermain 1-1 saat menjamu di kandang sehingga mereka turun ke play-off Liga Konferensi. Pada leg pertama di Glasgow, Rangers menang 1-0 atas Jablonec, tetapi pada laga kedua Jablonec akhirnya meraih kemenangan melalui adu penalti.
Tanpa pendukung tandang di Ibrox
Berita Terkait
Salah satu elemen yang turut mengubah dinamika derby adalah keputusan soal kehadiran suporter tandang. Beberapa waktu lalu dikonfirmasi bahwa tidak ada away supporters di setiap pertandingan SPFL antara dua klub rival kota itu musim ini.
“temporary arrangement” itu dicapai melalui pembicaraan antara klub-klub Glasgow dan SPFL, dan mengikuti tinjauan independen Scottish FA terhadap insiden pada perempatfinal Piala Skotlandia di Ibrox musim lalu. Pertemuan tersebut diwarnai kerusuhan serta insiden masuk lapangan dari kedua kubu.
BBC Sport Scotland menyebut sekitar 8.000 suporter tamu pernah diizinkan hadir di Ibrox pada bulan Maret untuk menyaksikan kemenangan Celtic lewat adu penalti. Setelah gangguan yang muncul, Scottish FA memaksa Celtic dan Rangers memainkan laga Piala Skotlandia kandang berikutnya dengan penonton tertutup.
Untuk laga akhir pekan di Premier Sports Cup, Rangers sempat mengusulkan alokasi 300 pendukung. Celtic menolak tawaran itu, dan sehubungan dengan keputusan SPFL, tidak ada suporter tandang di dalam Ibrox pada Minggu.
Pernyataan pelatih jelang laga
Derek McInnes menilai pentingnya suasana stadion ikut menjadi faktor. “I think we’ve got to bring the crowd with us,” ujarnya. Ia juga menegaskan pertandingan tidak akan berjalan satu arah: “You’re not going to play Celtic and dominate the game for 90 minutes. We’ll have spells, they’ll have spells, it’s just the way it is.”
McInnes menambahkan, “I think it’s important that we tap into having that 50,000 behind us and be behind the players, support them, have their backs, not be on their backs and really make it as tough for Celtic as possible.” Ia menutup dengan nada bahwa laga ini harus menunjukkan sesuatu yang berbeda: “There’s been a lot of frustration over a period of time at the club and it’s up to us to try and show that we’re going to deliver something a bit different.”
Di sisi Celtic, Martin O’Neill juga berbicara tentang tekanan yang muncul bila timnya lebih dulu unggul. “I suppose if you get in front in the game, that makes them anxious.” Namun ia mengingatkan bahwa dua hal berbeda: “Talking about getting in front and getting in front are two different things.”
Ia menambahkan bahwa suasana tribun tetap akan mendorong tuan rumah: “The crowd will be right behind their team, which you would expect.” O’Neill menegaskan pendekatan timnya sederhana, “We just do our best,” sembari mengakui kekuatan lawan dan atmosfer: “We know that we’re up against a very fine side. We’re up against a crowd that can make a difference.”
Terakhir, ia mengungkap harapan: “I’d be delighted to be celebrating something in the game.”
Rekam jejak menghadapi pertemuan knockout
Catatan analis BBC Sport Scotland menempatkan Celtic sebagai pihak yang sedang punya momentum di pertemuan Piala Liga. Celtic telah memenangkan enam pertemuan League Cup terakhir melawan Rangers sejak kalah final dari Rangers pada 2011.
Namun di Ibrox, sejarah juga menyimpan jarak. Kemenangan League Cup terakhir Celtic di stadion itu terjadi pada fase grup tahun 1973. Pada musim yang sama, Celtic juga mengalahkan Rangers di semifinal, tetapi mereka belum pernah meraih kemenangan dalam laga knockout League Cup di Govan.
Dari sisi statistik pertemuan yang lebih panjang, Celtic hanya menang empat kali dari 14 pertandingan sebelumnya melawan Rangers di Ibrox. Sementara itu, Rangers disebut hanya sekali gagal mencapai semifinal dalam satu dekade terakhir.
Di tahap perempatfinal, Celtic tercatat tidak pernah kalah sejak 2009, ketika Hearts mengalahkan mereka 1-0 di Celtic Park lewat penalti Michael Stewart. Pada duel tersebut, pelatih yang kini menjadi koordinator Stephen McManus sempat dikartu merah di akhir laga. Untuk rekor O’Neill di Ibrox, ia memainkan 11 laga, meraih enam kemenangan, satu hasil seri, dan empat kekalahan.
Untuk rekor McInnes melawan Celtic, catatannya lebih kontras: dari 61 pertandingan, ia menang 10 kali, seri empat kali, dan kalah 47 kali. Angka-angka itu memberi gambaran bahwa derby Minggu ini membawa beban sejarah yang tidak kecil, terutama ketika kedua tim sama-sama ingin memulai pertandingan dengan arah yang menguntungkan.












