jurnalistik.co.id – Posisi Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali mendapat sorotan tajam pada Jumat setelah chief operating officer (COO) FIFA mengkritik rencana Infantino untuk melibatkan investor swasta melalui penjualan saham pada kompetisi.
Kritik itu disampaikan Kevin Lamour dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke Associated Press. Lamour menilai rencana tersebut âthe project of one personâ dan menyatakan âthe time has now come for football political leaders to ask themselves the right questions and make the right decisionsâ. Ia menambahkan bahwa administrasi FIFA sendiri âdeceivedâ mengenai proyek tersebut.
Dalam pernyataannya, Lamour juga menegaskan perubahan yang ia lihat tidak sesuai dengan mandat organisasi. Ia menulis, âOur mission – the mission of the hundreds of passionate, dedicated, and exemplary Fifa employees – is to serve football.â
Lamour memaparkan bahwa seorang presiden seharusnya merangkul, menyatukan, dan menginspirasi, namun menurutnya justru arah yang berlawanan sedang terjadi. âA president must bring people together, unite them, and inspire them. Today, we are experiencing the opposite.â
Ia mengakui memiliki kewajiban loyalitas kepada pemberi kerja, tetapi juga kepada âcertain valuesâ serta rekan-rekannya. âIf that means I lose my job, then so be it,â ia menambahkan, sebelum menyatakan âI will understand and respect that decision. At least I’ll sleep well tonight.â
Rencana FIFA: subsidiari komersial dan investor non-pengendali
Rencana yang menjadi pemicu penolakan adalah pembentukan entitas subsidiari komersial untuk mengelola agenda utama FIFA, termasuk Piala Dunia. FIFA menyebut akan membentuk Fifa Forward Enterprise (FFE), dan pihak eksternal diberi ruang untuk membeli porsi kepemilikan.
Dalam penjelasan rencana tersebut, FIFA menyatakan mereka âwill invite third parties to make minority, non-controlling investmentsâ di subsidiari baru tersebut. Selain itu, dokumen yang disebutkan berasal dari bank investasi JP Morgan memuat analisis hingga 25 halaman.
Dokumen itu, menurut pemberitaan, menguraikan bahwa turnamen FIFA akan diperluas untuk mengejar proyeksi peningkatan pembayaran sekitar 24 juta euro per asosiasi anggota pada siklus 2035-2039. Di dalamnya juga disebut adanya ânew business initiativesâ serta âattracting top talent with incentive-driven compensationâ.
Piala Dunia dalam dokumen disebut sebagai ajang olahraga yang âmost widely viewedâ, sementara FIFA digambarkan âunder-monetisedâ. Tidak ada pembahasan mengenai sepak bola putri dalam dokumen tersebut.
FIFA juga menyebut bahwa bila persetujuan diberikan, Thrive Eternal diperkirakan akan memimpin kelompok investor untuk FFE. Thrive digambarkan sebagai perusahaan modal ventura asal Amerika yang didirikan Joshua Kushner, yang merupakan saudara dari Jared Kushner, anak-in-law Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pengunduran diri penasihat senior dan kritik politik
Gelombang penolakan juga semakin meluas setelah Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global dan tata kelola, memilih mengundurkan diri. Ia menyatakan proposal tersebut âa bad deal for footballâ dan menggambarkannya akan âmortgage football’s futureâ.
Keputusan Cordeiro muncul pada hari yang sama ketika seorang penasihat Infantino mundur, serta ketika Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyebut Infantino sebagai âthe wrong manâ untuk memimpin FIFA.
Burnham menambahkan bahwa gagasan tersebut bahkan layak diajukan menunjukkan Infantino âis the wrong man to lead the organisationâ. Sementara itu, Donald Trump menyatakan belum pernah membahas rencana tersebut dengan Infantino.
Menurut pemberitaan, hubungan keduanya justru terjalin dekat sejak Trump memulai masa kepresidenan untuk periode kedua pada 2025.
Lamour sendiri menyebut ia tidak punya otoritas untuk berbicara mewakili koleganya, meskipun ia menilai perasaan yang sama dirasakan banyak orang di internal. Ia menulis, âI have no authority to speak on behalf of my colleagues, and perhaps I am mistaken. But my feeling is that we all want to be proud to work for Fifa, and today, unfortunately, it seems that is no longer the case for many of us.â
Dari sisi latar belakang, Lamour bergabung dengan FIFA pada November 2024 setelah sebelumnya menjabat deputy general secretary di UEFA. Cordeiro, yang menjadi penasihat senior FIFA selama empat tahun dan 11 bulan, pernah menjadi figur yang mewakili FIFA dalam White House taskforce untuk Piala Dunia 2026 serta sebelumnya berkarier sebagai mantan investment banker di Goldman Sachs.
Berita Terkait
Cordeiro juga disebut sebagai orang senior pertama di FIFA yang mengundurkan diri terkait rencana tersebut. Dalam pernyataannya, ia menekankan penolakannya secara tegas dan menyatakan ia âunequivocallyâ menentang rencana tersebut serta âdid not accept the propositionâ bahwa FIFA perlu investor luar untuk âunlock greater valueâ.
Ia menulis, âThe proposal has become a defining question for Fifa’s future,â dan menegaskan bahwa tanggung jawab FIFA bukan memaksimalkan imbal hasil komersial âat any costâ, melainkan melindungi dan memperkuat sepak bola untuk generasi mendatang. âWhen those principles come into conflict, football must come first.â
Cordeiro menyatakan ia tidak terlibat dalam proposal tersebut. Namun, ia menilai yang paling mengganggu adalah belum adanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar: âWhy this deal? Why now? What oversight exists? Who benefits?â
Ia menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut âremain largely unansweredâ, sementara asosiasi anggota diminta mengambil keputusan berdampak besar dalam waktu âbarely 50 daysâ atau berisiko tertinggal. âThat is not a responsible way to determine the future of the world’s game.â
Suara AFC, UEFA, dan Concacaf: konsultasi dipersoalkan
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sebelumnya juga menyatakan sikap yang menentang rencana tersebut dengan menyebut mereka âstands in solidarityâ bersama konfederasi lain di Eropa serta Amerika Utara, Tengah, dan Karibia.
AFC menyatakan rencana Infantino tidak dapat ârealistically achieve the necessary broad consensus and unity required to move forwardâ. Mereka menegaskan, âThe Fifa World Cup is the pinnacle of global football and derives its strength from the participation of all Confederations and the world’s leading football nations.â
Dalam bagian lain pernyataannya, AFC menyatakan bahwa proposal yang berisiko melemahkan persatuan serta karakter universal kompetisi âmust be reconsideredâ. AFC juga mengkritik FIFA karena menetapkan arah sebelum berkonsultasi dan meninggalkan kesan proses pengambilan keputusan yang cacat.
AFC menyebut FIFA telah menentukan âdirection of travelâ untuk âa significant initiativeâ sebelum berkonsultasi dengan para pemangku kepentingan. Mereka menilai kegagalan untuk berkonsultasi dengan asosiasi anggota telah âexposed fundamental weaknesses in Fifa’s consultation and decision-making processes that must now be addressedâ.
AFC juga mengkritik langkah FIFA yang membuat âconfederations, member associations and even Fifa’s own governing bodies, including the Fifa Council, feeling sidelined.â Menurut AFC, masa depan Piala Dunia dan sepak bola harus dibentuk bersama oleh institusi yang mencerminkan suara seluruh konfederasi dan asosiasi anggota.
Dalam penutup, AFC meminta FIFA melakukan peninjauan mendesak atas kerangka tata kelola dan pengambilan keputusan untuk memastikan proposal berlevel global dikembangkan lewat konsultasi yang tepat, keterlibatan bermakna, serta pengawasan yang sesuai oleh organ resmi FIFA.
Di tingkat Eropa, UEFA pada Kamis memilih untuk memboikot Piala Dunia apabila rencana FIFA tetap berjalan. Beberapa jam setelahnya, Concacafâyang menjadi tuan rumah Piala Dunia edisi tahun iniâjuga mengeluarkan pernyataan penolakan atas proposal yang diajukan Infantino.
Sementara itu, FIFA menyatakan akan terus melanjutkan rencana pada awal Jumat, namun menyertakan klaim bahwa ânobody is selling footballâ. FIFA mengklaim proses konsultasi âhad been disrupted by incorrect media reportsâ, dan menegaskan hal tersebut tidak akan âcome at the cost of either the spirit or the governance of Fifa or football itselfâ.
UEFA menuduh FIFA menggunakan sepak bola untuk memperkaya diri dan rekan-rekannya, sedangkan AFC dan Concacaf sama-sama menyampaikan kekhawatiran terkait konsultasi dalam rencana tersebut.
Dari sisi peluang persetujuan internal, pemberitaan menyebut rencana Infantino membutuhkan persetujuan melalui suara mayoritas langsung. Artinya, dari 211 anggota, setidaknya 106 harus memilih mendukung proposal.
UEFA memiliki 55 suara, Concacaf 35, dan Asia 46. Jika seluruh asosiasi anggota mengikuti sikap governing body masing-masing, maka 136 negara berada dalam barisan penolakan terhadap rencana Infantino.
Pemangku kepentingan lain juga disebut akan meninjau rencana tersebut dalam bulan-bulan berikutnya, termasuk CAF dan OFC yang berencana membahas proposal FIFA pada bulan Agustus.
Dalam iklim penolakan yang menguat, polemik seputar FFE, konsultasi, dan arah tata kelola FIFA diprediksi akan terus menjadi topik utama menjelang keputusan yang dianggap berdampak besar bagi masa depan kompetisi global tersebut.












