jurnalistik.co.id – Chelsea mengakhiri laga pramusim melawan AC Milan dengan kemenangan 3-0 dalam Indonesia Super Cup 2026 yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Sabtu (8/8/2026) malam WIB.
Joao Pedro menjadi pembeda utama bagi The Blues, setelah timnya memimpin 1-0 atas AC Milan menjelang jeda pertama melalui golnya dalam waktu yang cukup singkat.
Hingga babak pertama usai, keunggulan tersebut bertahan sebagai hasil dari duel yang berlangsung ketat di area tengah dan transisi cepat di antara dua kubu.
Memasuki babak kedua, AC Milan melakukan beberapa perubahan dengan memasukkan Christopher Nkunku dan Ardon Jashari untuk mengubah ritme permainan.
Tetapi, perubahan itu tidak langsung mengubah jalannya laga. Chelsea justru menambah gol tak lama setelah babak kedua dimulai, lewat aksi Joao Pedro yang memanfaatkan assist Danny Welbeck di depan gawang AC Milan.
Gol kedua Joao Pedro membuat Chelsea unggul 2-0 pada awal babak kedua, sehingga Milan harus mengejar ketertinggalan dengan waktu yang terus berjalan.
Keunggulan tersebut kemudian diperbesar lagi ketika Moises Caicedo mencatatkan gol ketiga lewat tembakan jarak jauh pada menit ke-48, mengubah skor menjadi 3-0 untuk Chelsea.
Berita Terkait
Dengan hasil akhir ini, Chelsea menutup pertandingan pramusimnya dengan produktivitas yang cepat di paruh kedua, sementara AC Milan mencoba merespons melalui variasi pemain yang masuk pada menit-menit awal babak kedua.
Dalam laga tersebut, Chelsea menurunkan Sanchez, Palestra, Acheampong, Fofana, Hato, Caicedo, Lavia, Palmer, Joao Pedro, Neto, dan Welbeck. Pelatih Chelsea adalah Xabi Alonso.
AC Milan menampilkan Torriani, Terracciano, De Winter, Pavlovic, Chukwueze, Modric, Comotto, Estupinan, Loftus-Cheek, Leao, dan Camarda. Pelatih AC Milan adalah Ruben Amorim.
Setelah keunggulan awal tercipta, Chelsea terlihat mampu menjaga ritme permainan sambil tetap fokus pada momen-momen transisi. Tekanan tidak hanya diarahkan ke penguasaan bola, tetapi juga ke upaya memaksa AC Milan membuat keputusan cepat saat bola berpindah dari satu area ke area lain. Kondisi itulah yang membuat pertandingan berjalan ketat, terutama ketika kedua tim saling berbenturan di ruang tengah sebelum akhirnya jeda pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk The Blues.
Memasuki paruh kedua, upaya Milan untuk mengubah jalannya laga mulai tampak lewat keputusan mereka menggulirkan beberapa pemain baru, termasuk Christopher Nkunku dan Ardon Jashari. Perubahan komposisi ini diarahkan untuk memberi variasi pergerakan dan mengubah tempo, namun Chelsea justru lebih cepat menemukan celah. Gol tambahan datang ketika momentum Milan masih sedang mencari bentuk, sehingga keunggulan Chelsea bertambah menjadi 2-0 lebih awal, membuat sisa waktu pertandingan terasa semakin menekan bagi kubu lawan.
Puncaknya terjadi ketika efektivitas finishing Chelsea benar-benar terlihat matang. Joao Pedro yang sebelumnya mencetak gol penentu sebelum jeda, kembali menjadi titik berat pada awal babak kedua melalui skema yang berawal dari Danny Welbeck yang memberikan assist. Tidak berhenti di sana, Moises Caicedo juga menorehkan gol ketiga lewat tembakan jarak jauh pada menit ke-48, mengunci skor 3-0. Dua gol setelah turun minum memperlihatkan bahwa Chelsea lebih tajam dalam memanfaatkan peluang yang muncul dalam tempo singkat.
Di sisi susunan pemain, Chelsea menurunkan kombinasi dari barisan belakang hingga pemain kreatif seperti Palmer serta kedalaman lini tengah yang diisi Caicedo dan Lavia, dengan Joao Pedro sebagai ujung tombak yang aktif dalam penyelesaian akhir. Xabi Alonso tercatat menjadi pelatih yang mengarahkan tim hingga produktivitas gol meningkat di paruh kedua. Sementara itu, Ruben Amorim mengandalkan Torriani, Modric, Leao, hingga Camarda dalam upaya mencari jalan keluar saat Milan tertinggal, termasuk respons melalui pergantian pemain sejak menit-menit awal babak kedua.












