Olahraga

Filip Hrgovic: Moses Itauma Bisa Tak Terkalahkan Lagi Usai Kekalahan Gelar IBF yang Berujung “Humiliation”

×

Filip Hrgovic: Moses Itauma Bisa Tak Terkalahkan Lagi Usai Kekalahan Gelar IBF yang Berujung “Humiliation”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Moses Itauma: Briton 'humiliated', but may never lose again - Filip Hrgovic

jurnalistik.co.id – Filip Hrgovic meyakini Moses Itauma masih punya peluang untuk kembali menjadi petarung yang sangat sulit dikalahkan setelah kekalahan dalam perebutan gelar IBF kelas berat. Namun, ia menekankan bahwa penentu utamanya ada pada proses pemulihan mental dari rasa “humiliation” yang ia nilai menyertai kekalahan tersebut.

Menurut Hrgovic, ia mampu membuat perubahan besar setelah bertemu Itauma pada bulan Agustus. Ia menyebut momen itu sebagai kejutan besar sekaligus pukulan yang mempermalukan, sehingga keberlanjutan karier Itauma ke depan sangat bergantung pada ketangguhan pikirannya.

Hrgovic, petinju Kroasia berusia 34 tahun, menghentikan Itauma yang sebelumnya dipandang sebagai favorit kuat sebelum pertarungan dimulai. Pertarungan itu berlangsung di O2 Arena, dan kemenangan diraih lewat penghentian pada ronde kesembilan.

Ia mengingat bahwa pada fase awal, Itauma sempat terlihat lebih unggul. Hrgovic mengaku sempat menyentuh kanvas pada ronde kedua, dan ia menilai dirinya “outboxed” pada awal laga.

Meski begitu, Hrgovic tidak langsung menyerah. Ia menyatakan ia mengambil keuntungan ketika kondisi Itauma mulai menurun, sekaligus menegaskan bahwa karakter bertanding Itauma tetap membutuhkan waktu untuk “membaca” secara penuh di atas ring.

Dalam penilaian teknisnya, Hrgovic menilai Itauma memiliki kualitas yang jarang. Ia menggambarkan Itauma sebagai sosok yang benar-benar istimewa, cepat, bertalenta, serta mampu merespons dengan ritme dan timing yang membuat rencana lawan sulit berjalan.

“Dia benar-benar bagus. Dia spesial. Sangat cepat, sangat bertalenta, dan dia meng-counter apa pun yang saya coba dengan kecepatan serta timingnya,” ujar Hrgovic. Ia menambahkan bahwa ia belum pernah berada di ring bersama anak muda semuda dan secepat itu, apalagi dengan kemampuan yang begitu menyatu pada strategi.

Hrgovic juga membandingkan karakter kecepatan itu dengan pengalaman lain dalam kelas berat. Menurutnya, ada petinju cepat, tetapi sering kali ukurannya tidak sebanding, sehingga mereka bisa “diatasi” dengan tenaga. Namun, ia merasa Itauma menggabungkan kecepatan sekaligus ukuran besar, sehingga menjadi tantangan yang berbeda.

Ia memuji kecerdasan bertarung yang dibawa Itauma, termasuk keputusan-keputusan yang muncul selama pertarungan. “Dia punya IQ yang bagus dan talent yang hebat,” kata Hrgovic, sambil menegaskan bahwa kemampuan itu dapat membuka jalan bagi karier yang sangat sukses jika Itauma belajar dari kekalahannya.

Meski mengakui kualitas lawan, Hrgovic tetap berbicara dengan emosi yang belum reda. Ia mengatakan dirinya masih “marah” karena justru dirinya terpaksa menerima kenyataan bahwa Itauma mampu meng-outbox-nya, padahal ia mengaku sepanjang kariernya selama 20 tahun belum pernah merasakan hal serupa.

“Saya masih agak marah karena dia meng-outbox saya. Di seluruh karier saya, dalam 20 tahun tinju, saya tidak pernah outboxed dalam sparring mana pun atau dalam pertarungan,” tegas Hrgovic. Pernyataan itu memperlihatkan betapa besar dampak kekalahan tersebut bagi cara pandangnya terhadap performa pertarungan.

Lebih jauh, Hrgovic mengatakan ia ingin menyatukan divisi, sehingga ia memberi sorotan bukan hanya pada kemenangan, tetapi juga pada peta kekuatan lanjutan di kelas berat. Ia tetap memuji kemampuan tinju Itauma, tetapi menyatakan keraguan mengenai mentalitasnya setelah kejadian yang ia anggap memalukan.

Menurut Hrgovic, kekalahan itu merupakan shock besar bagi Itauma. Ia menyebutnya sebagai “humiliation” yang besar, lalu menilai bahwa kekalahan semacam itu bisa menjadi akhir bila Itauma tidak cukup kuat secara mental.

Namun, ia tidak menutup pintu sepenuhnya. Hrgovic mengatakan bila Itauma mampu pulih secara mental dari kekalahan tersebut, maka akan sangat sulit bagi siapa pun untuk mengalahkannya lagi di masa mendatang.

Ia juga menyinggung pola yang sering terjadi setelah kekalahan besar. “Banyak orang setelah kekalahan seperti itu, mereka tidak pernah kembali,” ungkap Hrgovic, sehingga proses bangkit Itauma diprediksi tidak mudah dan membutuhkan perjalanan yang panjang.

Ia menegaskan kebutuhan untuk menjalani kamp latihan yang “kejam” dan keras. “Kamu harus melewati kamp latihan yang kejam dan berat. Kamu perlu melewati neraka agar siap secara mental untuk itu,” kata Hrgovic.

Dalam penilaiannya, ia yakin Itauma sebenarnya sudah siap secara fisik, tetapi hambatannya ada pada bagian mental. Jadi, kata Hrgovic, tantangan terbesar Itauma bukan hanya memperbaiki teknik atau kondisi tubuh, melainkan membangun kembali kepercayaan diri dan ketangguhan setelah menerima pukulan yang begitu besar.

Dengan kata lain, Hrgovic memandang kemenangan yang ia raih pada Agustus bukan sekadar catatan angka, melainkan titik balik yang menguji karakter Itauma. Respon Itauma terhadap “humiliation” itu—apakah ia mampu menata ulang mentalnya atau justru tenggelam dalam dampaknya—akan menentukan apakah ia bisa kembali menjadi sosok yang tak terkalahkan.