jurnalistik.co.id – Anthony Gordon menyampaikan pesan tegas kepada Inggris menjelang laga melawan Spanyol. Ia meminta “Three Lions” berhenti berusaha meniru gaya sepak bola negara lain, khususnya Spanyol, dan mulai fokus pada kekuatan yang memang melekat pada tim.
Gordon menyampaikan pandangannya saat berada di St George’s Park, ketika skuat Inggris bersiap menghadapi juara dunia Spanyol pada Sabtu. Ini sekaligus menjadi pertandingan pertama mereka bersama sejak perhelatan Piala Dunia.
Dalam perjalanannya menuju laga tersebut, Inggris datang dengan rangkaian hasil yang menyisakan penilaian beragam. Mereka kalah 2-1 dari Argentina di semifinal sebelum memastikan posisi ketiga usai menang 6-4 atas Prancis di partai perebutan medali perunggu.
Gordon menyinggung momen setelah kekalahan dari Argentina. Ia menilai “scar” yang tertinggal dari turnamen itu bisa menjadi pemicu perubahan pendekatan di kompetisi berikutnya.
Ia mengingat bahwa pergantian yang dilakukan pelatih Thomas Tuchel ikut mewarnai jalannya semifinal. Gordon memang menjadi pencetak gol saat Inggris unggul, namun kemudian disubstitusi, sementara Tuchel beralih ke pola bertahan dengan back five yang memicu tekanan.
Menurut narasi pertandingan, perubahan taktis itu memberi ruang bagi Argentina. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan, sebelum Lautaro Martinez mencetak gol pada masa tambahan waktu untuk memastikan kemenangan.
Setelah laga, Gordon mengaku berada di kondisi mental yang sangat berat. Ia menyatakan, “[The] scar doesn’t have to be a negative one because it might lead us to victory in the next tournaments,” Gordon said.
Ia menambahkan bahwa Inggris tidak boleh terus mencari identitasnya dengan menempel pada karakter tim lain. “We can’t keep looking at other countries and trying to be like them, because we’re not them – we’re English and we have our own strengths which they don’t have, so maybe we start playing the way we’re good at.”
Menurut Gordon, pembenahan itu juga menyangkut cara Inggris memandang sepak bola kelas elit. Ia tidak melihat penguasaan bola sebagai satu-satunya standar penentu, dan menolak anggapan bahwa kendali permainan harus diwujudkan lewat “English DNA” yang dipaksa meniru model tertentu.
Belajar dari La Liga, tapi menolak “replikasi”
Gordon juga bicara dari pengalaman pribadinya. Ia pindah ke Barcelona dari Newcastle dengan nilai transfer £69.3m pada musim panas, lalu merasakan atmosfer sepak bola Spanyol baik saat bermain bersama maupun menghadapi pemain-pemain top.
Ia mengatakan bahwa pengalaman bermain di La Liga membuatnya memahami perbedaan cara Spanyol mengelola permainan. Namun, ia tidak yakin Inggris bisa “diajarkan” untuk bermain seperti Spanyol melalui metode yang sama.
Gordon menyatakan, “I’m speaking from a point of view where I feel like we are trying to replicate Spain,” Gordon said. Ia melanjutkan, “Because I’m in Spain, I know we have just as good players, but they have different qualities, so why are you trying to make those players the same as the Spanish players? Because the Spanish players lack the things that we have and vice versa.”
Ia menekankan bahwa dua negara memiliki kualitas berbeda yang semestinya tidak dipaksa menjadi seragam. Dengan kata lain, Gordon menilai Inggris perlu memaksimalkan kelebihan mereka sendiri, bukan mengubah identitas melalui peniruan.
Sepanjang beberapa tahun terakhir, Inggris juga menghadapi sorotan terkait kemampuan mengendalikan permainan ketika berhadapan dengan tim-tim elite. Tim itu pernah kalah di dua final Kejuaraan Eropa secara beruntun, serta mengalami kekalahan dari Prancis dan Argentina pada dua Piala Dunia terakhir.
Untuk kasus Spanyol, gaya khas mereka kembali akan menjadi ujian. Spanyol menjadi juara dunia dengan mengalahkan Argentina, sekaligus mendominasi dengan penguasaan bola 65% di final.
Gordon mengingat bahwa Lionel Messi memimpin pihak lawan, tetapi Spanyol membatasi hanya dua tembakan dalam 120 menit, dan keduanya tidak mengarah tepat sasaran.
Berita Terkait
Karena itu, ia memandang pertemuan dengan Spanyol pada akhir pekan ini harus dibaca sebagai kesempatan menemukan respons, bukan alasan untuk meniru sepenuhnya lawan.
Gordon menegaskan, “It’s not in the English DNA,” Gordon said. Ia menambahkan, “I’m not sure it’s something that can be taught because now I think, playing in Spain, I can speak with an educated view on the way they keep the ball is different.”
Ia bahkan mengaitkan penilaian itu dengan keputusan-keputusan di lapangan. “I even look at some of the decisions they take on the ball sometimes and think I’m not sure how you’ve seen that.”
Lebih lanjut ia menyimpulkan, “It’s the way they’re built. I don’t know whether it is something that maybe we can’t ever put a name to, but they’re definitely built different.”
Peran Gordon dan pelajaran dari kekalahan
Bagi Gordon, turnamen itu juga memberi catatan penting tentang dinamika di dalam skuat. Ia menyatakan dirinya mengejutkan karena harus ditarik keluar, hanya 17 menit setelah gol yang membawa Inggris unggul atas Argentina.
Gordon mengatakan bahwa setelah mencetak gol, ia bermain dengan dorongan emosi. Ia menyebut dirinya memainkan permainan “off adrenaline” dan “goes into an untouchable mode of confidence”.
Ia mengungkapkan reaksinya dalam momen tersebut, “It makes me feel on top of the world, especially in that moment on that stage. I felt really good,” he said. Ia kemudian menambahkan bahwa sebagai winger, ia biasanya memang sering diganti, “But as a winger, to be honest, I come off most games. It’s normal [for wingers].”
Ia juga menilai situasi pergantian itu berbeda, tetapi tetap melihatnya sebagai bagian dari ekspektasi peran. “Obviously that substitution was different but in that moment probably yeah, but in general as a winger I expect it a lot of the time.”
Secara kontribusi, Gordon membawa catatan yang jelas: ia membuat 25 penampilan untuk Inggris dan mencetak empat gol, selain memulai lima pertandingan dan menyumbang empat assist. Ia juga menegaskan Inggris harus belajar dari cara mereka melewati fase-fase kunci.
Ia mengaitkan cara Inggris memenangkan pertandingan terakhir-16 melawan Meksiko sebagai faktor psikologis. Inggris menaklukkan Meksiko 3-2 di Stadion Azteca, sementara mereka harus bermain dengan 10 pemain lebih dari 35 menit setelah Jarell Quansah menerima kartu merah.
Menurut Gordon, pengalaman pertandingan seperti itu berpengaruh pada cara pemain mencoba memastikan kemenangan saat berhadapan dengan Argentina. Ia menilai, saat melawan Argentina, Inggris seharusnya mampu mengambil inisiatif yang lebih baik untuk mengendalikan jalannya pertandingan.
Gordon juga menyampaikan bahwa tim tidak sepenuhnya menampilkan performa yang mereka ciptakan ketika latihan. Jika hal itu terjadi, ia yakin hasilnya bisa berbeda: Gordon says, they “would have dominated everyone”.
Ia kemudian membela keputusan Tuchel soal strategi yang lebih aman dan lebih defensif. Ia menegaskan kritik seharusnya tidak diarahkan kepada satu orang saja.
Gordon berkata, “We shouldn’t try and blame one man who’s obviously trying his best and trying to win the cup for us all,” Gordon said. Ia menambahkan bahwa pemain juga punya tanggung jawab untuk memegang kendali sejak awal.
“As players, we could have done more to take the initiative to control the [Argentina] game. I think if we do that the manager doesn’t make the decision [to use a back five].”
Ia menilai bahwa di semifinal, skuad sebenarnya memiliki kualitas terbaik di lapangan. “For me, we had the best team, we had the best players on the pitch in that semi-final, and in the last 20 minutes we didn’t play the best football.”
Gordon menutup dengan penekanan bahwa kendali taktik dari tepi lapangan tidak akan menjadi penentu tunggal. “That’s something the manager can’t really affect from the sideline, so I think as a group everyone together should take responsibility.”












