Olahraga

Tony Pulis: Jeda internasional jadi momen paling sulit bagi De Zerbi dan Tottenham

×

Tony Pulis: Jeda internasional jadi momen paling sulit bagi De Zerbi dan Tottenham

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tony Pulis column: Why international break has come at worst time for De Zerbi & Spurs

jurnalistik.co.id – Tony Pulis menilai jeda internasional sedang datang pada waktu paling tidak menguntungkan bagi Roberto De Zerbi dan Tottenham.

Menurut kolumnnya, rencana membangun skuad lewat belanja besar memang selalu berangkat dari ambisi, tetapi ketika banyak pemain didatangkan sekaligus, proses pembentukan tim tidak bisa dipercepat begitu saja.

Pulis mengibaratkannya seperti seseorang yang diberi uang untuk membeli perlengkapan pesta, lalu menghabiskan semuanya pada pilihan yang tidak “nyambung” sehingga hasil akhirnya tidak bekerja sebagai satu set.

Di Tottenham, ia melihat pola serupa: dukungan penuh dari papan direksi kepada De Zerbi disertai pengeluaran sekitar ÂŁ400 juta untuk pemain baru, sesuatu yang jarang terjadi pada klub yang selama ini dikenal lebih berhati-hati dalam investasi tim.

Optimisme sebagian pendukung Tottenham sempat melonjak. Musim sebelumnya, klub bahkan berhasil bertahan dari degradasi dua musim berturut-turut dengan finis ke-17 untuk dua kali secara beruntun.

Namun, Pulis mengingatkan bahwa menilai kinerja pelatih di tahap awal perlu mempertimbangkan banyak faktor yang ikut menentukan cara sebuah tim terbentuk.

Dalam pandangannya, De Zerbi justru belum mendapat waktu dan kesempatan untuk membangun kebersamaan sejak awal, karena mayoritas pemain Tottenham sekarang harus absen selama tiga pekan akibat tugas internasional.

Ia menambahkan bahwa De Zerbi juga menghadapi persoalan lain, mulai dari performa kandang Tottenham yang kurang meyakinkan hingga kesulitan bangkit setelah kebobolan lebih dulu dalam pertandingan.

Tantangan terbesar, kata Pulis, adalah mengintegrasikan pemain yang baru datang bersama mereka yang sudah lebih dulu ada di klub, agar bisa bergerak sebagai satu unit dan menghasilkan hasil yang membuat pengeluaran besar itu terasa masuk akal.

Semua itu, menurutnya, membutuhkan waktu, kesabaran, serta detail-detail kecil yang biasanya luput dari perhatian penonton.

“Di zaman saya,” tulis Pulis, “kami punya kesempatan waktu untuk membangun tim, bahkan membangun suasana seperti keluarga.” Ia menilai kini, bagi pelatih modern, waktu seolah semakin terbatas.

Baru lima laga memasuki musim, sudah ada sebagian pendukung yang menganggap De Zerbi sebagai pelatih terburuk, meski Pulis menegaskan De Zerbi pernah menunjukkan kualitasnya di tempat lain.

Komposisi baru butuh waktu untuk “klik”

Pulis menggarisbawahi karakter De Zerbi: seorang manajer yang bersemangat, blak-blakan, dan menuntut komitmen penuh dari pemain serta dukungan dari dewan klub.

Meski begitu, tantangan yang lebih luas muncul karena banyak tipe pemain yang masuk bersamaan. Menurut Pulis, tantangan utama bukan sekadar mengisi formasi, melainkan menyatukan pemain agar cocok sebagai tim, bukan hanya sebagai kumpulan individu.

Ia bercerita tentang pengalaman pribadinya saat menangani Stoke, ketika pada awal karier kepelatihannya ia mendatangkan Gerry Taggart dan Michael Duberry untuk dipasangkan sebagai duet bek tengah.

Pulis menggambarkan keduanya memiliki pendekatan yang berlawanan dalam soal ruang. Taggart cenderung ingin turun lebih dalam karena tidak terlalu cepat, sedangkan Duberry cepat dan tidak pernah takut meninggalkan ruang di belakang.

Masalah itu, menurut Pulis, tidak bisa dibereskan dengan perubahan instan pada satu orang saja. Ia harus memberi waktu latihan panjang di lapangan hingga keduanya akhirnya bisa bekerja dalam unison.

Ia menekankan bahwa proses “menyatu” seperti itu tetap butuh waktu, meskipun kedua pemain berbeda karakter.

Pulis mengakui bahwa ada kondisi ketika banyak pemain baru bisa cepat beradaptasi dan tim langsung tampil baik, seperti yang menurutnya terjadi pada Sunderland musim lalu atau Brighton hampir setiap tahun ketika mereka kehilangan beberapa pemain kunci.

Perbedaannya, ia menilai, tim-tim seperti itu umumnya tidak kehilangan identitas yang kuat. Karena identitas itu memberi arah yang jelas: saat mencari pemain untuk posisi tertentu, klub tahu kekuatan apa yang harus ada dalam diri pemain tersebut.

Ketika fondasi yang solid tidak terbentuk sejak awal, membawa 10 rekrutan sekaligus dalam satu jendela seperti yang Tottenham lakukan akan menciptakan banyak masalah bagi pelatih.

Setiap pemain memiliki kepribadian berbeda dan membutuhkan durasi berbeda untuk beradaptasi, bukan hanya pada lingkungan baru, tetapi juga pada tuntutan pelatih yang sangat spesifik dan menuntut, seperti De Zerbi.

Menurut Pulis, masa transisi ini idealnya sudah tertutup jika seluruh pemain diberi waktu pramusim bersama agar mereka memahami gaya main De Zerbi, termasuk pendekatan agresif dari depan.

Sayangnya, ia menyebut hal itu tidak terjadi, dan bahkan setelah musim dimulai, Tottenham masih menambah anggota skuadnya.

Di momen seperti ini, jeda internasional membuat De Zerbi kehilangan kesempatan untuk membangun kebiasaan bersama menggunakan semua pemain sekaligus.

Puls juga menyoroti bahwa De Zerbi baru berada di posisi tersebut selama beberapa bulan sehingga ia masih mengenal pemain yang sudah ada, bukan hanya pemain baru, baik di dalam maupun di luar lapangan.

Bagi Pulis, mengenali karakter pemain sangat penting untuk melihat siapa yang memahami arti kerja sama tim, siapa yang belum, dan apa kekurangan yang perlu dirapikan.

Ia memberi contoh ketika ia melatih klub yang membeli bek sayap kanan dari tim papan atas Premier League dengan biaya lebih dari ÂŁ1 juta pada saat itu.

Ketika klubnya masih kesulitan di bagian bawah liga, Pulis menganggap pemain tersebut mengambil posisi yang menurutnya kurang baik saat latihan bertahan, karena kerap bergerak menutup dari sisi yang tidak tepat dari lokasi bola.

Ia mengatakan ia menghentikan sesi latihan setidaknya empat kali untuk menegur dan menyampaikan pandangannya, tetapi pemain itu tetap bertahan dengan keyakinannya sendiri tentang apa yang benar.

Pada akhirnya, Pulis menggantikannya dengan bek muda dari tim cadangan yang justru bermain menghadapi drill yang sama dari pihak lawan dan dianggap memahami peran untuk tim, bukan untuk diri sendiri.

Lebih dari teknis lapangan, Pulis menilai hal-hal di luar lapangan juga ikut menentukan cepat atau lambatnya integrasi pemain.

Ia menyebut pernah memiliki tiga pemain dari Amerika Selatan di West Brom yang, meski dianggap teman yang baik, tetap memerlukan perhatian agar mereka merasa aman dan dihargai.

Pulis menceritakan ia berdiskusi dengan asisten, David Kemp, soal mengajak pemain dan keluarganya makan malam.

Ia meyakini waktu bersama keluarga—bukan sekadar komunikasi singkat—membantu membangun rasa hormat dan kepercayaan yang mungkin tidak akan muncul jika mereka tidak pernah bertemu dalam suasana tersebut.

Perbedaan budaya, menurut Pulis, dapat memengaruhi cara pemain menjalani rutinitas hidupnya, dan itu akhirnya bisa menentukan seberapa cepat mereka cocok dengan tim.

Ia juga menyinggung satu pemain Premier League yang rutinitas sehari-harinya tidak pernah ia pahami pada awalnya, tetapi justru menjadi bagian penting untuk menjaga klub yang sedang berjuang agar tetap bertahan.

Pulis merinci rutinitas pemain itu: latihan dari pukul 8.30 pagi hingga 1 siang, lalu di rumah dan tidur sampai pukul 9 atau 10 malam, kemudian bangun lagi untuk makan malam, sebelum melanjutkan aktivitas ke kasino atau kegiatan lain hingga dini hari.

Ia mengatakan butuh beberapa minggu untuk mengetahui detail itu, dan setelah ia menanyakan langsung, pemain tersebut tetap meyakinkan bahwa rutinitasnya cocok dengan gaya hidupnya.

Pulis menambahkan, meski pemain itu paham tempat makan terbaik di kota, penampilannya di lapangan tetap berkualitas tinggi.

Ia menutup dengan pandangan bahwa pemain seperti itu mungkin sempat terisolasi dari skuad di awal, namun pada akhirnya tetap bisa terintegrasi jika diberi waktu yang layak.