Olahraga

Iraola Soroti Liverpool: “Reds tak bisa mempertahankan level yang kami mau”

×

Iraola Soroti Liverpool: “Reds tak bisa mempertahankan level yang kami mau”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Liverpool: Reds 'cannot sustain level', says Andoni Iraola

jurnalistik.co.id – Andoni Iraola memulai laga kandang pertamanya sebagai pelatih Liverpool di Anfield dengan atmosfer yang penuh harapan. Di tengah stadion yang terisi penuh dan terasa “habis-habisan” menyambut era baru, timnya justru kembali kesulitan menjaga keunggulan seperti yang terjadi pada pertandingan sebelumnya.

Untuk pertandingan kedua beruntun, Liverpool harus melihat keunggulan dua gol mereka lepas. Iraola menilai masalah utamanya bukan hanya soal jalannya permainan, melainkan kemampuan skuad untuk mempertahankan intensitas dan kualitas sepanjang durasi laga.

Usai pertandingan, Iraola menghubungkan kemiripan masalah yang mereka hadapi dengan pertandingan sebelumnya. Ia mengatakan, “It was quite similar to the game we played against Leeds ,” dan melanjutkan penilaiannya bahwa Liverpool sempat tampil baik, terutama pada fase awal.

Menurut Iraola, timnya menguasai jalannya laga pada babak pertama, termasuk sekitar 30 menit terbaik. Namun, ia menegaskan bahwa setelah itu mereka tidak lagi bisa mempertahankan standar seperti yang dibutuhkan untuk bermain dengan level yang sama.

Iraola menjelaskan, “Right now we probably don’t have much more, in terms of the levels required to play like this.” Ia juga menilai lawan pantas bangkit, karena Liverpool tidak mampu menjaga ritme permainan sampai akhir.

Ia menambahkan, “They deserved to turn around the game.” Dari sudut pandangnya, momentum itu muncul karena perbedaan kemampuan untuk mempertahankan performa setelah terjadi perubahan pemain.

Dalam rangkuman evaluasinya atas dua laga pramusim terakhir, Iraola menyebut bahwa awal pramusim Liverpool berjalan bagus, tetapi fase berikutnya menjadi titik berat pekerjaan. “We won the first two pre-season games, but the last two we cannot sustain the level we want for all of the game,” ujarnya.

Iraola menyatakan bahwa setiap kali mereka melakukan rotasi, tubuh pemain mulai merasakan kelelahan sehingga standar permainan tidak bisa dipertahankan. Ia menekankan, “As soon as we made some changes, players start to get tired and we cannot sustain that level. So, we have work to do.”

Selain hasil, pramusim juga menjadi panggung untuk meramu komposisi tim menjelang kompetisi. Liverpool masih menyisakan dua pertandingan pramusim, yakni double-header melawan Como pada 16 Agustus, sebelum memulai Premier League.

Setelah jeda pramusim tersebut, Liverpool akan mengawali musim dengan laga tandang ke Newcastle sekitar dua pekan kemudian. Pada fase itu, pertanyaan besar tetap berkaitan dengan siapa yang akan menjadi pasangan Virgil van Dijk di jantung pertahanan.

Van Dijk kembali merasakan laga setelah istirahat panjang seusai Piala Dunia. Ia tampil saat Liverpool menghadapi Monaco, dengan Cody Gakpo dan Alisson menjadi bagian dari komposisi yang mengikuti kembalinya sang kapten.

Di pertandingan tersebut, Van Dijk memulai laga dengan Ifeanyi Ndukwe yang baru berusia 18 tahun. Iraola dan tim tampaknya memandang Ndukwe sebagai talenta menjanjikan, tetapi Ndukwe kemungkinan harus menjalani peminjaman musim ini karena isu izin kerja.

Namun, gambaran kedalaman skuad juga terlihat dari perubahan yang terjadi dalam pertandingan. Liverpool menutup laga dengan Luke Chambers dan Wataru Endo berada di posisi bek tengah, sebuah sinyal bahwa komposisi bertahan bisa bergeser sesuai kebutuhan.

Ronald Araujo, 27 tahun, juga masuk dalam rencana pramusim. Pemain asal Barcelona itu disebut telah menyelesaikan medical pada hari Minggu, dengan kepindahan berupa pinjaman semusim sekaligus opsi pembelian sekitar £47.2m yang menuju penyelesaian akhir.

Sementara itu, Jeremy Jacquet, 21 tahun, masih belum ikut dalam sesi latihan penuh. Jacquet baru menjalani masa transisi setelah pindah dari Rennes, dan ia juga sempat mengalami masalah kebugaran.

Jacquet mengalami cedera bahu pada Februari, dan belakangan ia kembali bergulat dengan masalah kecil di lutut. Meski demikian, Liverpool masih optimistis ia bisa tampil pada akhir pekan berikutnya saat menghadapi Como.

Iraola menambahkan penjelasan soal status Jacquet terkait pemilihan skuat. Ia berkata, “Jeremy Jacquet, we were in doubt whether to put him in,” lalu menjelaskan keputusan mereka pada pertandingan tersebut.

Menurut Iraola, mereka memutuskan tidak memasukkan Jacquet saat itu, tetapi menilai kondisi pemain akan lebih siap untuk laga berikutnya. “We decided not to, but he should be fine for the next one. It’s taking a bit more time than we were expecting.”

Di sisi lain, pramusim juga menjadi ajang untuk melihat tanda-tanda gaya permainan yang mulai dibangun. Meski Liverpool kalah dari Monaco, penampilan Florian Wirtz dan Alexander Isak memberi sinyal positif untuk musim mendatang.

Wirtz dan Isak dipandang sebagai investasi besar yang didatangkan lewat transfer bernilai gabungan £225m pada musim panas lalu. Iraola dan pendukungnya menilai kombinasi keduanya bisa menjadi fondasi awal bagi rencana permainan tim.

Dalam pertandingan tersebut, mereka bekerja bersama dengan pola yang saling melengkapi. Wirtz beroperasi di belakang Isak pada peran nomor 10, sementara Isak tampil menonjol sebagai pencetak gol pertama dengan penyelesaian kaki kanan yang rapi.

Setelah mengemas gol pekan lalu saat melawan Leeds di Chicago, Wirtz sempat terlihat seperti berpotensi mencetak gol kedua juga. Akan tetapi, Isak memberi klarifikasi setelah laga terkait siapa yang menyentuh bola terakhir.

Isak menyampaikan, “I think we agreed that me and Flo [Florian Wirtz], we both got a touch on the ball, but honestly I don’t know who got the first one or the last one,” dan ia menuturkan hal itu kepada LFC TV.

Isak juga mengaku menikmati proses bekerja di bawah arahan Iraola. Ia berkata, “Really good. I feel like the spirit is good in the group and we’re all working hard to make things work. We’re going to make sure that we’re ready for the start.”

Dalam catatan programnya, Iraola menekankan niat untuk memberikan tim yang bisa diidentifikasi oleh pendukung dan membuat mereka bangga. Menurutnya, pertandingan persahabatan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut, sekaligus langkah menuju konsistensi yang ingin mereka capai.