jurnalistik.co.id – Keluarga yang ditinggal setelah kebakaran rumah di Bootle mengaku berada dalam duka yang sulit dibayangkan. Mereka menyebut kehilangan itu sebagai “unimaginable” dan mengatakan kesedihan tersebut akan terus dirasakan.
Peristiwa itu menimpa Elisha Brabin (36) serta tiga anaknya: Leo (16), Ellis (8), dan Prudence (7). Keempatnya meninggal setelah api “spread rapidly” di dalam sebuah rumah di Stone Square, Bootle.
Kebakaran terjadi pada dini hari Selasa. Menurut keterangan keluarga, api menyebar dengan cepat hingga situasi tak memberi banyak waktu bagi upaya penyelamatan.
Dalam pernyataan yang disampaikan kepada pihak terdekat, keluarga menyatakan mereka “heartbroken” atas musibah yang menimpa Elisha dan anak-anaknya. Mereka juga menegaskan bahwa kehilangan tersebut “felt forever”, karena dampaknya akan terus melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Di bagian lain dari ungkapan duka, pihak keluarga menuturkan, “Elisha was a devoted and loving mother” dan menambahkan bahwa “our beautiful babies, Leo, Ellis and Prudence, were loved beyond measure”. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana perhatian dan kasih sayang Elisha berpusat pada ketiga anaknya.
Keluarga juga menegaskan bahwa seluruh lingkaran terdekat kini dalam keadaan terpukul. Mereka menyampaikan, “Our whole family is devastated by the loss of Elisha, Leo, Ellis and Prudence.” Kalimat tersebut menegaskan bahwa bukan hanya orang tua atau pasangan yang terdampak, melainkan keluarga besar secara keseluruhan.
Berita Terkait
Elisha digambarkan sebagai sosok yang sangat berarti dalam banyak peran. Dalam pernyataan tersebut, disebutkan: “Elisha was our beloved daughter, wife, mother, sister, aunty, niece and cousin.” Dengan kata lain, kehilangan ini dirasakan di berbagai hubungan keluarga yang selama ini saling menguatkan.
Keluarga memusatkan gambaran tentang kepribadian dan keseharian Elisha pada kedekatannya dengan anak-anak. Mereka mengatakan, “She was a devoted and loving mother who lived for her children. They were her whole world, and she meant everything to us.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa rutinitas kasih sayang Elisha bukan sekadar tanggung jawab, melainkan bagian dari identitasnya.
Hingga kini, keluarga tetap memaknai peristiwa tersebut sebagai kehilangan yang tak tergantikan. Dengan menyebut duka sebagai “heartbroken” dan menyatakan bahwa semuanya “felt forever”, mereka menempatkan musibah Selasa dini hari itu sebagai luka yang akan terus dikenang, seiring ingatan pada Elisha Brabin dan tiga anaknya—Leo, Ellis, dan Prudence—yang berpulang setelah kebakaran di Stone Square, Bootle.
Hingga saat ini, kabar kebakaran tersebut masih meninggalkan keluarga dalam keadaan terpuruk. Mereka menggambarkan momen setelah kejadian sebagai sesuatu yang sangat sulit dipahami, karena setiap hari akan terus dihadapkan pada kenyataan bahwa rumah di Stone Square, Bootle tidak lagi menjadi tempat pulang seperti sebelumnya.
Bagi keluarga, yang paling menonjol adalah sosok Elisha yang selama ini hadir dalam berbagai hubungan sekaligus. Ia disebut sebagai pasangan, ibu, sekaligus anggota keluarga yang dekat—baik sebagai anak, saudari, maupun kerabat yang selalu memberikan perhatian. Perhatian itu kemudian tampak paling nyata pada tiga anaknya, Leo, Ellis, dan Prudence, yang menurut keluarga menjadi pusat dunia Elisha.
Elisha juga dikenang lewat cara ia mencurahkan kasih secara penuh, sehingga kehilangan yang dialami bukan hanya dirasakan oleh orang-orang tertentu, melainkan menjalar ke lingkaran terdekat secara menyeluruh. Dalam ungkapan duka yang berulang, keluarga menegaskan bahwa cinta dan keterikatan itu akan terus tinggal dalam ingatan, membuat mereka merasa kehilangan tersebut berlangsung lama dan terasa dalam rutinitas sehari-hari.












