Olahraga

Javon Walton: dari akar tinju ke bintang Euphoria, siap duel Henry Cejudo di Miami

×

Javon Walton: dari akar tinju ke bintang Euphoria, siap duel Henry Cejudo di Miami

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Javon Walton: The boxer who accidentally became an actor

jurnalistik.co.id – MIAMI — Menjelang duel Misfits Boxing di Miami akhir pekan ini, bintang serial Euphoria, Javon Walton, mengulas perjalanan tak terduga dari dunia tinju menuju karier akting, sekaligus menatap debut tinju profesionalnya melawan Henry Cejudo.

Walton, yang berusia 20 tahun, selama bertahun-tahun terbiasa tampil di bawah sorot lampu. Di satu sisi ia menghadapi penonton dan kamera, di sisi lain ia berlatih menghadapi lawan yang berusaha “membalas” di atas ring.

Dalam dunia hiburan, namanya dikenal luas sebagai Ashtray—tokoh remaja pengedar narkoba yang mencuri perhatian dalam HBO. Namun, saat berbicara soal olahraga pertamanya, Walton menegaskan bahwa ia tidak melangkah ke akting dari niat awal semata.

Walton menyebut dirinya memiliki “zero interest in acting” ketika masih kecil. Bagi keluarga, tinju justru menjadi daya tarik pertama yang menuntunnya: “My parents were boxing fans and when it was on HBO on Saturdays, I would watch it with them.” Ia lalu “practically begged” ayahnya untuk membawanya ke gym. “I practically begged my dad to take me to a gym and when I was four years old he finally took me.”

Sejak saat itu, ia meniti jalur kompetisi dengan intensitas tinggi. Hingga kini, Walton sudah mengumpulkan 85 pertarungan amatir, meraih dua kali medali perak pada Junior Olympics, dan tetap tidak terkalahkan sebagai petinju profesional dengan tiga kemenangan serta satu hasil seri.

Di sisi profesional, Walton juga tercatat masuk dalam naungan Most Valuable Promotions, yang dipimpin Jake Paul dan Nakisa Bidarian.

Dari gym sampai sorot layar

Walton tidak hanya bertahan dalam satu disiplin olahraga. Ia sempat berkompetisi pada level tinggi di cabang gimnastik setelah mengikuti jejak kakaknya. Meski begitu, tinju tetap menjadi fokus yang paling ia kejar.

Perubahan besar justru datang lewat perhatian yang ia peroleh di televisi saat masih sangat muda. Pada usia 11 tahun, Walton muncul di acara TV Steve Harvey untuk menampilkan kemampuannya di tinju: ia memperagakan rangkaian pukulan di atas pad sekaligus menunjukkan kemampuan gimnastik dengan gerakan backflip.

Menurut cerita Walton, casting director Jennifer Venditti kemudian melihat penampilannya dan menghubungi keluarganya terkait audisi untuk Euphoria. Walton merespons dengan kalimat sederhana yang membuka pintu berikutnya: “I was like, ‘OK, why not?’”

Ketika peluang berawal dari momen seperti itu, karier aktingnya berkembang dari “sekadar kebetulan” menjadi rangkaian kesempatan yang lebih besar. Walton kemudian tampil dalam drama Amazon, Utopia, dan serial Netflix, The Umbrella Academy. Ia juga sempat bekerja bersama Sylvester Stallone dalam film Samaritan.

Walton memandang ruang akting sebagai tempat untuk menyalurkan emosi yang tidak bisa ia lakukan sepenuhnya di ring: “I found my love in that space,” katanya. “I look at that as an outlet where I can tap into my emotions because you can’t do that in boxing.”

Dua karier, satu fokus: Cejudo

Namun, menjaga ritme antara dua dunia tidaklah mudah. Walton menyebut aktivitas syuting dapat menyita waktunya hingga enam bulan, sementara persiapan bertanding membutuhkan kamp latihan selama delapan minggu dan menuntut fokus penuh.

Ia mengatakan, targetnya adalah mengukur seberapa baik ia bisa menyeimbangkan keduanya, meski pengucapan itu juga mengandung pengakuan bahwa rencana sering kali lebih rumit dari perkiraan: “My goal is to see how well I can balance both but that’s easier said than done.”

Menurut Walton, konsekuensi dari jadwal yang padat membuatnya harus menentukan prioritas. “I kind of have to pick one to focus on.” Untuk sementara, pilihan itu jatuh pada Cejudo.

Henry Cejudo, yang berusia 39 tahun, datang dengan rekam jejak berbeda. Ia pernah meraih medali emas gulat gaya bebas Olimpiade pada 2008, lalu menjadi juara UFC di dua divisi kelas berbeda. Sabtu nanti, ia menjalani debut tinju profesional.

Duel tersebut diterima Walton dengan pemberitahuan yang singkat—kurang dari dua minggu—setelah lawan Cejudo yang semula dijadwalkan mundur. Pertarungan ini juga telah disahkan oleh Florida State Commission dan akan masuk ke catatan resmi rekor profesional mereka.

Hormati lawan, hadapi “wilayah” sendiri

Walton menekankan sikap hormat, sekaligus membedakan cara pandang antara pengalaman di matras dan pengalaman di ring. Ia berkata, “You have to have a level of respect,” lalu menambahkan, “But at the same time he’s stepping into unmarked territory – my field and something I’ve done my whole life.”

Ia melanjutkan dengan kalimat penegasan soal konteks: “On the mat it would be a different story, but this is the ring.”

Di sudut pelatihannya, Walton tidak lepas dari sosok yang lebih dulu membawanya ke gym pada usia empat tahun: ayah sekaligus pelatihnya, DJ.

Bagi Walton, perjalanan itu punya makna ganda karena tumbuh bersama dalam proses yang sama. “What was beautiful about our journey was we got to grow together,” ujarnya. Ia menambahkan, “While I was learning how to be a fighter at a young age, he was learning the coaching side. The way I look at it is we’re the pilot and co-pilot. He’s a head coach who happens to be my dad. I want to do right by us and not just for me.”