Entertainment

Daniel Teasdale: calon penerus Prince Naseem Hamed yang tak pernah menjadi raja

×

Daniel Teasdale: calon penerus Prince Naseem Hamed yang tak pernah menjadi raja

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How the heir to Prince Naseem never became king - Daniel Teasdale's story

jurnalistik.co.id – Daniel Teasdale pernah diposisikan sebagai “calon penerus” Prince Naseem Hamed—sebuah label yang terdengar terlalu besar untuk seorang petinju muda. Namun, perjalanan yang seharusnya berujung pada ketenaran dan gelar justru berubah menjadi pelajaran keras tentang karier.

Sejak masa remaja, Teasdale mendapat sorotan yang sama intensnya dengan figur legendaris itu. Pelatih Brendan Ingle bahkan menilai Teasdale lebih unggul dibanding Naz pada usia yang sejajar: “He’s better than Naz at the same age.” Hamed sendiri meraih gelar dunia pertamanya saat berusia 21 tahun, sementara Teasdale masih bertumbuh sebagai remaja.

Dari gym Ingle di Sheffield, perhatian diarahkan layaknya “pabrik” petinju-petinju juara. Sebelum duel profesional pertamanya, Teasdale sudah lebih dulu muncul di surat kabar nasional, masuk dalam buku, dan menjadi objek dokumentasi fotografer serta pembuat film. Ia membangun reputasi lewat serangkaian gelar nasional, sehingga banyak pihak menempatkannya sebagai penantang berikutnya yang lahir dari lingkungan yang sama.

Fotografer Simon Roberts mendatangi gym pada 1997 dengan harapan mengabadikan Hamed. Namun Brendan Ingle mengubah fokusnya. “Brendan said ‘don’t worry about Naz, start photographing that kid in the corner. He’s going to be bigger than Naz’,” ujar Roberts. Ia kemudian mengikuti Teasdale, menangkap laju kenaikan yang dibayangkan bakal menjadikannya bintang.

Stuart Mitchell, yang juga menyiapkan dokumenter, menggunakan narasi serupa. Ia menggambarkan promosi karya mereka saat itu sebagai upaya mencari jawaban: “who’s the next Prince Naseem?” Mitchell juga mengingat Teasdale menjadi pusat perhatian lewat pemberitaan nasional, bahkan saat mereka hadir pada acara yang menghimpun prospek terbaik dari berbagai cabang olahraga menjelang pergantian milenium.

Amer Khan—yang pernah satu kandang dengan Teasdale—menguatkan kesan bakat besar. Ia menyebut Teasdale seperti “Oscar de la Hoya,” dan menegaskan Teasdale tampil luar biasa saat junior, sampai “stopping everyone.” Bahkan, Teasdale mengasah kemampuan dengan latihan yang tidak biasa untuk petinju, termasuk ballet dan gimnastik guna membentuk footwork dan keterampilan di atas ring.

Teasdale sendiri menggambarkan dirinya sebagai sosok yang mudah diarahkan. Ia mulai menekuni tinju sejak usia enam tahun, dan merasa mampu berkomunikasi, tampil menonjol, serta tetap punya kemampuan untuk bertarung. Ketika karier awal terlihat rapi, ekspektasi pun melebar—bahkan sebelum badai mulai terbentuk.

Perpisahan Hamed dengan Ingle pada 1998 memang telah banyak diketahui, dan Teasdale memilih mengikuti langkah serupa. Ia meninggalkan gym bersama Naz, lalu bergabung dengan Herol “Bomber” Graham—seorang penantang gelar dunia yang sudah berkali-kali merasakan panggung besar. Roberts menceritakan bahwa keputusan itu disebut digerakkan oleh ayah Teasdale, yang “essentially gave up his career” demi membantu peluang anaknya.

Menurut Roberts, pendanaan untuk langkah tersebut datang dari seorang pengusaha yang sebelumnya tidak punya pengalaman dalam tinju. Meski demikian, ia memiliki dorongan untuk ikut berada di dekat kebangkitan Teasdale. Dalam bayangan Teasdale, pengaruh Graham terasa seperti “a breath of fresh air.” Tetapi keberadaan pihak-pihak lain mulai menimbulkan gangguan.

Roberts menuturkan bahwa orang-orang “mulai mencoba mengambil keuntungan” dari Teasdale. Roberts mengaku pernah memotret sosok besar seperti Mike Tyson dan Lennox Lewis, sehingga ia melihat pola yang berulang: ketika bintang muda mulai menjadi magnet perhatian, ia mudah terdorong ke arah yang tidak selalu selaras dengan perkembangan jangka panjang. Mitchell menambahkan bahwa kedatangan Teasdale juga disandingkan dengan pemantauan terhadap Darren Sutherland yang kemudian menjadi peraih medali perunggu Olimpiade.

Mitchell menilai Teasdale mungkin lebih berbakat daripada Sutherland, tetapi menyebut problem utamanya berbeda: Teasdale “selalu sedang dipikat” dan label sebagai “calon Prince Naseem” terasa terlalu membebani. Teasdale sendiri menggambarkan dirinya seperti “catnip for cats,” ketika semua orang ingin mendapatkan bagiannya. Di saat yang sama, ia juga disebut bisa “dimanfaatkan” karena dianggap sebagai potensi besar sekaligus “scalp” yang menarik bagi pihak-pihak yang ingin melesat melewati persaingan.

Instabilitas pun menyertai kariernya. Ia mengaku menghadapi perpindahan pelatih, manajer, dan promotor yang membuat arah perkembangan tidak menentu. Debut profesionalnya bahkan berakhir buruk—pertandingannya ditinggalkan karena kerusuhan penonton. Tahun berikutnya, ia menerima ancaman kematian sebelum pertarungan, sebelum akhirnya ia kembali memenangkan laga.

Seiring berjalannya waktu, proyek dokumenter pun tersendat. Mitchell menyebut ia menghentikan dokumenternya setelah komisaris kehilangan minat. Ia juga kehilangan keyakinan setelah sesi latihan di garasi Graham; baginya tempat itu terasa terlalu kecil dan ia tidak melihat arah yang jelas. Dari sana, sejumlah keraguan muncul: apakah sosok “pretty boy” itu memang cocok untuk meniti karier yang mengandalkan ketahanan menghadapi pukulan langsung?

Teasdale kemudian mengungkap kelemahannya. Ia mengakui bahwa “women” menjadi titik lemahnya, sampai ia kehilangan ketajaman dan fokusnya tidak berada pada tempat seharusnya. Ia memutuskan mundur dari dunia tinju pada 2005 setelah mengalami kekalahan profesional pertamanya, saat ia dihentikan di ronde pertama dalam pertandingan kelas ringan-berat.

Ia kembali pada 2010 dan menyatu lagi dengan Ingle. Kali itu, Teasdale meraih kemenangan dalam laga comeback yang menjadi satu-satunya. Namun setelahnya, ia memilih menutup bab tersebut. Ia menyatakan bahwa ia tidak ingin menjadi “second best,” seolah menilai bahwa versi terbaik dirinya sudah berada di masa lain. Saat usianya 27 tahun, ia merasa seharusnya berada di posisi juara dunia dan mempertahankan gelar.

Roberts menilai ada terlalu banyak keadaan yang tidak menguntungkan sehingga Teasdale tak memenuhi potensinya. Ia menyebut adanya nasihat buruk dan banyak pihak yang menuntut sesuatu dari Teasdale—tidak selalu demi kepentingan terbaiknya. Mitchell juga melakukan “soul searching” soal perannya dalam perjalanan itu. Ia mengingat keributan perhatian yang kemudian lenyap, dan menilai situasi seperti itu pasti sulit bagi seseorang yang sejak awal diberi ekspektasi menjadi sukses dan terkenal.

Bagi Teasdale, dinamika ketika menjadi petinju profesional terasa “semuanya teracak-acak,” berbeda dengan stabilitas yang ia rasakan pada masa-masa awal. Ia mengakui manajemen yang buruk ikut berperan, tetapi juga mengaku hidup dalam kerangka mimpi dan ambisi orang lain—bukan sepenuhnya miliknya.

Meski begitu, ia tidak membawa penyesalan yang berat. Ia menegaskan kariernya membentuk dirinya. Kini, ia menikmati pekerjaan yang sama sekali berbeda sebagai pekerja pendukung, menekankan bahwa yang terpenting adalah hidup yang stabil dan menjalani pekerjaan yang ia sukai, bahkan bila profilnya tidak lagi sama seperti yang dulu diproyeksikan.