Entertainment

Amy Hunt: atlet yang ikut menyoroti iklan taruhan kontroversial Sydney Sweeney

×

Amy Hunt: atlet yang ikut menyoroti iklan taruhan kontroversial Sydney Sweeney

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sydney Sweeney: Amy Hunt among the athletes to respond to controversial Sydney Sweeney advert

jurnalistik.co.id – Kontroversi iklan taruhan olahraga yang menampilkan aktris Sydney Sweeney terus bergulir hingga ke dunia atlet profesional. Banyak atlet perempuan merespons dengan menyoroti cara tubuh dan penampilan diposisikan, alih-alih prestasi di lintasan.

Seorang sprinter Inggris, Amy Hunt, termasuk di antara atlet yang menyampaikan keberatan tersebut. Ia mengangkat isu itu setelah tampil dalam Ultimate Championship di Budapest pada Minggu, saat ia mencatatkan waktu terbaik musimnya.

Dalam lomba nomor 200 meter, Hunt finis di urutan keempat. Catatan waktunya adalah 22,10 detik, sebuah season’s best yang ia raih dalam final.

Hunt kemudian mengaitkan momen di lintasan dengan responsnya terhadap iklan yang kini viral. Ia menanggapi iklan taruhan yang dibintangi Sweeney, yang dinilai memsexualisasi atlet perempuan dan memunculkan kritik terhadap narasi “penampilan” ketimbang “pencapaian”.

Iklan tersebut menampilkan Sydney Sweeney tanpa busana, sambil menutup bagian-bagian tubuhnya menggunakan berbagai perlengkapan olahraga. Menurut reaksi yang muncul di banyak platform, cara visual seperti itu dianggap tidak sejalan dengan penghormatan terhadap kerja keras dan disiplin olahraga yang nyata.

Setelah lomba, Hunt menjelaskan sikapnya lewat pernyataan saat wawancara usai perlombaan. Ia mengatakan, “Sydney Sweeney, this is what women in sport look like,” merujuk pada konteks yang ia gambarkan sebagai contoh perempuan dalam olahraga.

Masih dalam wawancara pascalomba, Hunt menyebut waktu pemenang yang diraih Melissa Jefferson-Wooden. Jefferson-Wooden mencatat 21,47 detik, yang disebut sebagai waktu tercepat keempat sepanjang sejarah untuk nomor 200 meter, dan Hunt menanggapi angka itu dengan kalimat, “21.4. Muscles. Hard work, blood, sweat, tears. This is a beautiful evening.”

Uraian Hunt datang di tengah periode kompetitif yang membawanya meraih pencapaian besar. Ia diketahui menjadi juara Eropa empat kali pada awal musim panas ini, sebelum akhirnya tampil di Budapest.

Selain Hunt, gelombang penolakan juga datang dari atlet lain lintas cabang olahraga. Banyak perempuan atlet yang membagikan video saat bertanding atau sedang latihan, kemudian mengungkap frustrasi serta pergulatan yang pernah mereka hadapi selama karier.

Tren respons yang menyebar luas ini disebut berawal dari pesenam asal Amerika, Gracie Kramer. Kramer memposting rangkaian momen latihan dengan caption, “I don’t know what Sydney Sweeney was doing, but this is what women in sport look like.”

Di antara figur publik olahraga yang ikut menyuarakan kritik, juara renang Olimpiade asal Australia, Ariarne Titmus, menyampaikan bahwa respons tersebut bukan sekadar soal iklan semata. Ia menegaskan bahwa hal itu terasa seperti penghinaan bagi semua perempuan yang mendedikasikan hidup mereka untuk menyempurnakan kemampuan di bidangnya, serta mempertanyakan cara dunia masih membolehkan komodifikasi tubuh perempuan dan seksualitas dalam olahraga.

Titmus menyatakan, “Not only is it a kick in the face to every woman who has dedicated her life to perfecting her craft, but every woman who enjoys sports for what it really is. “How do we live in a world where monetising a woman’s body and sexualising women’s sport is still a thing?”

Kritik serupa juga disuarakan oleh sejumlah atlet lain. Sophie Capewell, pesepeda asal Inggris yang juga merupakan juara Olimpiade, turut membagikan pandangannya, begitu pula pemain rugby Lisa Neumann dan Ellie Boatman. Dari Australia, atlet polo air Olimpiade Tilly Kearns juga ikut memposting ceritanya.

Sementara itu, Sydney Sweeney sendiri dikenal luas sebagai aktris berusia 29 tahun, yang membintangi serial Euphoria. Film-filmnya meliputi Anyone But You dan The Housemaid.

Dengan semakin banyak atlet perempuan ikut merespons, iklan taruhan yang semula hanya dianggap konten promosi kini berubah menjadi isu yang lebih besar tentang representasi di olahraga. Bagi para atlet yang bersuara, yang mereka perjuangkan bukan hanya “bentuk” perhatian publik, melainkan prinsip bahwa olahraga seharusnya dibangun di atas latihan, strategi, dan hasil yang dicapai—bukan pada cara tubuh diperlakukan sebagai komoditas.