jurnalistik.co.id – Northern Ireland meraih kemenangan bersejarah di laga perdana Nations League Grup B, ketika menundukkan Georgia di Tbilisi pada Jumat malam. Pertandingan B Grup 2 itu akhirnya ditentukan pada menit-menit akhir, dengan Shea Charles menjadi pembeda di injury time.
Nama Pierce Charles lebih dulu menjadi sorotan. Di babak kedua, kiper berusia 21 tahun tersebut melakukan penyelamatan penalti dari Khvicha Kvaratskhelia, Ballon d’Or nominee, sehingga memastikan kendali penting bagi timnya.
Hasilnya, Northern Ireland tetap menjaga gawang dalam laga tandang tersebut—sebuah pencapaian yang membuat mereka meraih clean sheet kompetitif di luar kandang untuk pertama kalinya sejak penampilan internasional Pierce pada 2024 melawan Belarus.
Sejak jeda, Georgia terlihat meningkatkan tempo. Namun, Northern Ireland tetap bisa bertahan dengan rapi, termasuk melalui sejumlah penyelamatan cerdas lainnya dari Pierce yang menjaga ritme permainan tetap berpihak pada tim tamu.
Masih dalam situasi yang tampak berjalan ketat hingga fase akhir, pertandingan justru berubah total ketika waktu menunjukkan menit ke-99. Shea Charles muncul dan mencetak gol penentu, sekaligus menjadi gol terbaru (terakhir) yang pernah dibukukan Northern Ireland di kompetisi tersebut.
Bagi Pierce, momen kakak-adik itu terasa seperti bagian dari “kebiasaan” persaingan saudara. Ia pun sempat berkelakar saat ditanya apakah Shea mencuri sorotan, menyebut “Classic Shea”.
Yang jelas, malam di Tbilisi itu memperlihatkan dua peran yang sama-sama menentukan. Kiper Pierce menyediakan fondasi lewat penolakan penalti dan disiplin bertahan, sedangkan Shea membawa hasil akhir ke sisi Northern Ireland lewat golnya yang datang ketika laga hampir berakhir.
Pelatih Michael O’Neill menilai kedua pemainnya tampil luar biasa. O’Neill menyebut “dua anak itu brilian”, seraya menekankan kualitas permainan Pierce bukan hanya dari distribusi bola, tetapi juga dari penyelamatan besar di babak kedua.
Menurut O’Neill, Pierce memberikan variasi kontrol karena cara mengoper dan mengatur alur permainan. Ia juga menilai back three menjadi lebih aman karena para pemain bertahan tahu mereka bisa kembali ke posisi tersebut.
Untuk Shea, O’Neill juga memberikan pujian yang sangat spesifik. Ia menilai Shea tampil “kolosal” baik ketika menguasai bola maupun dalam kemampuannya menembus duel, termasuk kecakapan untuk melewati lawan.
O’Neill juga menyoroti banyaknya pelanggaran yang diterima Shea. Ia merasa wasit tidak menampilkan kartu meski pelanggaran cukup sering terjadi, dan menilai aspek itu tidak mengurangi dampak permainan Shea yang tetap “fabulous”.
Berita Terkait
Menariknya, penghargaan pemain terbaik pertandingan justru jatuh kepada Pierce, bukan kepada pencetak gol. Shea memang memastikan kemenangan lewat gol menit ke-99, tetapi Pierce tampil sebagai tokoh utama lewat penyelamatan penalti Kvaratskhelia dan beberapa aksi penting lain yang mempertahankan peluang kemenangan timnya.
Dalam penjelasannya, Pierce mengaitkan keberhasilannya dengan riset sebelum pertandingan. Ia menilai upayanya menggagalkan tembakan Kvaratskhelia dari titik penalti menjadi kunci, sekaligus bagian dari rangkaian penyelamatan yang ia lakukan sepanjang laga.
Sementara Shea memandang momen penting itu datang berkat kepercayaan kepada kakaknya. Ia mengatakan selalu mendukung Pierce, dan menyatakan penyelamatan itu serta beberapa penyelamatan lain yang dilakukan Pierce patut diakui sebagai kontribusi besar terhadap kemenangan.
Shea juga menilai setelah penalti berhasil ditepis, tim mereka mampu menyatu dan mulai mengendalikan permainan. Ia percaya kontrol itulah yang membuat Northern Ireland akhirnya bisa pulang dengan poin penuh.
Di sisi lain, Shea juga menggambarkan bahwa dirinya datang dengan bentuk permainan yang terus membaik di level klub. Ia adalah gelandang Fulham berusia 22 tahun yang mencetak gol penentu dan menyebut performanya di lini tengah sebagai bagian dari konsistensi yang ia tunjukkan selama ini.
Sejak musim panas pindah dari Southampton ke Craven Cottage, Shea telah menghadapi nama-nama besar. Ia menyebut sudah berhadapan dengan Liverpool, Manchester United, dan Chelsea, sehingga transisi ke panggung tertinggi terasa semakin familiar.
Pengalaman bertemu pemain-pemain seperti Rodri, Sandro Tonali, dan Christian Eriksen dalam karier internasional turut ia anggap membantu peralihan ke intensitas sepak bola papan atas. Shea menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya lebih siap menghadapi ritme pertandingan yang menuntut kecepatan keputusan.
Ia juga menyinggung pertandingan melawan Spanyol pada Juni 2024. Saat itu, Shea merasa lawan-lawan yang dihadapi mirip dengan tipe pemain yang biasa ditemui di Premier League, sehingga laga tersebut memberinya pengalaman berharga.
Menjelang agenda berikutnya, Northern Ireland tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Usai terbang pulang pada dini hari Sabtu, mereka akan bertemu Hongaria di Windsor Park pada Senin malam sebagai bagian dari rangkaian empat laga dalam window internasional kali ini.
Laga melawan Hongaria menjadi pertemuan kedua dari empat pertandingan yang dijadwalkan. Sebelumnya, Northern Ireland juga akan kembali ke kandang mereka di Belfast, yang menjadi pertandingan pertama di sana sejak November dan akan disiarkan langsung melalui BBC.
Shea menyatakan kemenangan tandang ini memberi dorongan besar menjelang laga kontra Hongaria. Ia mengatakan semua orang sedang bersemangat dan menantikan kepulangan ke Belfast untuk berusaha meraih kemenangan di depan pendukung sendiri.












