Olahraga

Oktagon 94: Christian Eckerlin, Bantuan untuk Brighton dan Duel di Frankfurt dengan Hampir 60.000 Penonton

×

Oktagon 94: Christian Eckerlin, Bantuan untuk Brighton dan Duel di Frankfurt dengan Hampir 60.000 Penonton

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Oktagon 94: The MMA fighter helping Brighton and filling stadiums in Frankfurt

jurnalistik.co.id – Christian Eckerlin kembali ke Frankfurt akhir pekan ini, sekaligus membawa pengalamannya di Oktagon 94 untuk laga yang diprediksi disaksikan hampir 60.000 penonton.

Menyusul perjalanannya sebagai petarung MMA, nama Eckerlin juga sempat menjadi bagian dari cerita Brighton. Musim lalu, pemain berusia 39 tahun itu didatangkan Premier League club tersebut untuk membantu latihan set-piece.

Menurut Eckerlin, kontribusinya bukan soal strategi sepak bola semata. Ia menyebut ia mengajarkan “wrestling, head control, hip control, dan how to push back against opponents” kepada para pemain Brighton.

Ia menilai suasana kompetisi juga menjadi pembeda besar. “The Premier League is more physical, more aggressive, and they don’t know how to use their body,” ujarnya kepada BBC Sport.

Dalam sesi itu, Brighton mengirimkan video cara mereka bertahan, lalu Eckerlin menekankan penerapan yang lebih tegas terhadap kontrol tubuh. “Brighton sent me videos of how they defend, and they did nothing with their hips and arms,” kata Eckerlin.

Proses latihannya ia uraikan bertahap. “I taught them first in the weightlifting room, then the pitch, and it worked. This is what I did, I opened doors for them.”

Beberapa hari sebelum wawancara ini, Brighton naik ke peringkat ketiga setelah mengalahkan juara bertahan Arsenal 3-0. Eckerlin memilih merendah saat diminta menilai dampak arah latihannya, tetapi tetap mengakui pekerjaannya “opened doors”.

Ia menceritakan bahwa klub mengundangnya untuk berbagi pendekatan latihan, lalu hasilnya terlihat ketika para pemain menerapkan kontrol yang lebih baik di lapangan. “I cannot tell you in words what this means to me,” demikian ia kemudian menggambarkan arti momen berikutnya di kandang impiannya.

Dari lapangan sepak bola ke Oktagon di Frankfurt

Sebelum menjadi petarung, Eckerlin pernah bermain sepak bola profesional antara 2005 hingga 2009. Ia memperkuat SV Darmstadt di kasta ketiga sepak bola Jerman ketika kariernya berada pada puncak.

Impian besarnya sederhana namun kuat: bermain untuk klub yang ia dukung, Eintracht Frankfurt. Ia sempat mengira mimpinya sudah berhenti ketika ia meninggalkan dunia sepak bola.

Namun ia kemudian menemukan cara baru untuk mewujudkannya lewat MMA—khususnya lewat promosi Eropa Oktagon. Pada 2024, Eckerlin mengalahkan petarung Jerman Christian Jungwirth di Deutsche Bank Park, Frankfurt, di depan hampir 60.000 penonton.

Kemenangan itu terjadi dalam acara MMA yang disebut sebagai yang paling ramai sepanjang tahun. Kini, pada Sabtu ini, ia kembali ke stadion yang juga dikenal sebagai Waldstadion untuk menghadapi petarung asal Republik Ceko, David Kozma, pada Oktagon 94.

Duel tersebut juga diperkirakan ditonton lagi oleh hampir 60.000 penonton. “It was my first dream, when I was in the Waldstadion when I was six or seven with my uncle. It was the dream for me to play there but I thought the fire went out,” kata Eckerlin.

Ia menambahkan, “I cannot tell you in words what this means to me. The biggest thing in my career. And now for the second time… crazy.”

Ia juga menyinggung posisi kariernya yang mendekati akhir. “I’m at the end of my career, I’m 39, so this is maybe my last fight. There’s no better way to stop fighting in my backyard, you know.”

Erbach, masa muda, dan hubungan dengan Brighton

Eckerlin tumbuh di sebuah kota kecil di luar Frankfurt bernama Erbach. Ia menyebut sepak bola sebagai “football was his first passion”.

Dalam masa muda, ia pernah menghadapi bintang-bintang seperti Bastian Schweinsteiger dan Mats Hummels. Pada usia 20 tahun, ia akhirnya meninggalkan sepak bola setelah berselisih dengan pelatih.

Ia menggambarkan keputusan itu dengan nada reflektif. “I got a little bit crazy and partied with friends. But my popularity went down with the coaches,” ujarnya.

Menurutnya, para pelatih menilai ia tidak bisa menjalani kebiasaan tersebut. “They said ‘you cannot do this’. But I was young, nobody was on my side to say ‘calm down and do your thing’. So I said ‘OK, I’m going’.”

Di lapangan, ia bermain di posisi bek kiri, tetapi mengakui ia “wasn’t a technical guy”. Ia bercanda bahwa dirinya lebih mirip “a fighter on the pitch”.

Ia juga punya jalur koneksi ke Brighton melalui hubungan personal. Eckerlin mengatakan ia mengenal manajer Brighton, Fabian Hurzeler, lewat seorang teman yang pernah bermain dengannya di Munich.

Hurzeler kemudian mengundangnya ke Brighton, dan Eckerlin menghabiskan tiga hari bersama para pemain. Ia menyebut semua pemain mendapat manfaat saat mempelajari teknik-teknik MMA yang ia ajarkan.

Di antara mereka, Eckerlin menilai Danny Welbeck, James Milner, dan Lewis Dunk “had the feeling for it”. Menurutnya, ada respon yang membuat latihan terasa nyambung secara insting dan eksekusi.

Eckerlin juga melihat perubahan basis penggemar setelah hijrah ke MMA. Ia mengatakan sepak bola tetap olahraga paling populer di Jerman, tetapi setelah beralih ke MMA ia membantu membesarkan dukungannya melalui kanal YouTube.

Tentang atmosfer Frankfurt, ia menggambarkan sambutan yang ekstrem. “The fanfare in Frankfurt is ‘crazy’, with fans always wanting to take pictures with him,” katanya, sembari menambahkan bahwa ia juga dikenal luas di kota besar lain seperti Berlin dan Hamburg.

Dengan hampir 60.000 penonton diperkirakan hadir lagi, Eckerlin berharap acara Sabtu ini kembali menjadi salah satu pertunjukan MMA yang paling ramai di tahun tersebut.

Sebelum laga yang ia sebut kemungkinan menjadi yang terakhir dari total 26 pertarungannya, ia sempat menilai dampak yang ia anggap sudah ia beri bagi MMA di Jerman. “I love this sport, and I push the sport more than everybody or anybody before in this country,” ucapnya.

Ia menambahkan, “After my career, when I look back, I think then I will realise, what I do for the sport, or for MMA in Germany. But now I’m fully focused, and there’s no time to think about the things in the past.”