Olahraga

Penilaian pemain Inggris vs Pakistan: Robinson bersinar lagi, apakah penampilan Joe Root jadi kekhawatiran?

×

Penilaian pemain Inggris vs Pakistan: Robinson bersinar lagi, apakah penampilan Joe Root jadi kekhawatiran?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England vs Pakistan player ratings: Ollie Robinson stars again but is Joe Root's form a worry?

jurnalistik.co.id – Inggris akhirnya meraih kemenangan rangkaian di Test untuk pertama kalinya sejak 2024, usai kembali menguasai Pakistan dengan kemenangan 194 run di Test kedua. Di Lord’s, performa yang paling mencolok datang dari Ollie Robinson, sementara Joe Root tetap jadi sorotan—meski belum mengarah ke krisis.

Dalam rangkuman liputan itu, ada penekanan bahwa Robinson “His best Test for a year”, juga dengan momen “Three reds!” yang menggambarkan terobosan penting bagi Inggris. Di atas kertas, angka-angka pemain kemudian dinilai berdasarkan apa yang mereka lakukan sepanjang pertandingan.

Inggris

Ben Duckett mendapat nilai 4. Ini jadi Test yang tenang buatnya: total 18 run sepanjang laga, dengan catatan yang hanya bertambah tiga run dibanding pekan sebelumnya di Headingley. Ia nyaris tidak bisa mengubah jalannya saat tersingkir di inning pertama, dan dalam inning kedua ia melakukan pukulan drive lurus ke mid-off yang dinilai kurang bagus.

Emilio Gay memperoleh nilai 5. Ia menjadi korban berikutnya dari kondisi pitch Lord’s yang dinilai tidak bersahabat setelah mampu mencapai 31 run di inning kedua. Mengarah ke Test berikutnya, Edgbaston disebut bisa menjadi pekan penting bagi opener tersebut di Test ketiga.

Jordan Cox meraih nilai 7. Ia kembali tampil meyakinkan dengan 55 run pada inning pertama, lalu tetap tenang ketika guncangan datang dari deretan wicket di sekelilingnya. Nilainya belum cukup besar untuk sepenuhnya memaksa keputusan selektor, tetapi ia sedang membangun alasan kuat untuk tetap bertahan saat Jacob Bethell sudah fit kembali.

Joe Root bernilai 5 sebagai kapten. Ia mengumpulkan 4 dan 24 run, dan dalam kedua inning ia jatuh lbw. Dalam musim panas Test ini, tujuh dari sembilan kali pemecatannya terjadi dengan pola serupa, namun liputan menegaskan, “It is not a crisis… yet…”.

Harry Brook mendapat nilai 6. Ia tidak menampilkan sesuatu yang spektakuler dengan 15 dan 34 run, tetapi ia memilih pendekatan yang lebih terukur dibanding beberapa Test terbaru ketika kondisi terasa sulit. Dan ketika pertandingan menuntut adaptasi, strategi itu tetap bekerja meski tidak menghasilkan lonjakan besar.

Dan Lawrence dinilai 7. Setelah sempat dijatuhkan lalu terpaksa run out saat membuat 17 run di inning pertama, ia merespons dengan 54 run yang berguna di inning kedua. Penampilan itu disebut memberi sinyal bahwa ia memang memiliki kemampuan untuk peran tersebut—minimal dari sisi pukulan.

Jamie Smith memperoleh nilai 8, yang disebut sebagai penampilan terbaiknya dalam setahun. Skor 61 pada inning pertama di kondisi sulit digambarkan dimainkan dengan sangat tepat. Ia juga kembali menjaga jauh di area stumps terhadap Ollie Robinson, dan kerja di balik sarung tangan disebut naik level.

Gus Atkinson meraih nilai 5. Dari kuartet pace Inggris, ia menjadi satu-satunya yang sedang kesulitan mendapatkan wicket. Ia sempat membongkar cepat pada hari keempat, tetapi tetap hanya mengantongi satu scalp sepanjang seri. Di sisi lain, kontribusi 45 run pada inning pertama tetap dianggap berguna.

Ollie Robinson mendapat nilai 9. Ini benar-benar tampak seperti musim panas miliknya: setelah menambah delapan wicket lagi, ia kini mengoleksi 23 wicket dalam tiga Test dengan rata-rata 8.34 sejak dipanggil kembali. Angka itu menegaskan dampaknya bukan sekadar sekali dua kali, melainkan berkelanjutan.

Jofra Archer memperoleh nilai 8. Ia tampil brilian di inning pertama, namun berakhir dengan hanya tiga wicket karena faktor yang membuat hasilnya terasa kurang penuh. Pada hari keempat, bouncer-nya untuk menjatuhkan Babar Azam disebut seperti kilas balik pada debut Archer yang menakutkan di tanah yang sama.

Josh Tongue bernilai 7. Pakistan tidak benar-benar pulih setelah Tongue mengambil wicket kunci Babar Azam dan Abdullah Shafique di inning pertama. Ia juga memperbaiki skor tertinggi Test-nya menjadi 30 not out.

Pakistan

Shan Masood mendapat nilai 5. Ia berjuang di inning kedua dengan 26 run, tetapi hanya mampu membuat satu angka di inning pertama. Pergulatan itu tidak cukup mengubah arah pertandingan yang terus menekan Pakistan.

Azan Awais meraih nilai 6. Ia disebut sempat “rode his luck” saat menghadapi Archer, tetapi secara umum bermain rapi dengan 46 run di inning pertama sebelum akhirnya “Robinson’d” di inning kedua.

Abdullah Shafique bernilai 2. Ia mencatat lima run pada inning pertama namun berakhir dengan duck di inning kedua. Liputan juga mengingatkan bahwa Shafique sempat menjadi batter terbaik Pakistan di Test pertama, tetapi kali ini ia menghilang dari permainan.

Imam-ul-Haq mendapat nilai 1. Ia tidak sempat bat, tidak bowl, dan bahkan tercatat menjatuhkan satu catch. Ketiadaan kontribusi itu menjadi kontras dengan tuntutan laga yang menuntut semua pemain memberi dampak.

Babar Azam dinilai 2. Pencapaian terbaiknya disebut hanya memenangkan toss. Selebihnya, rangkaian peristiwa di lapangan tidak berpihak padanya.

Saud Shakeel mendapat nilai 7. Akhirnya ada sedikit perlawanan dari pihak Pakistan, dan ia layak atas century yang dibangunnya. Skor besar itu menjadi bagian paling jelas dari usaha bertahan Pakistan.

Muhammad Rizwan memperoleh nilai 5. Nilainya disebut terbantu oleh keeping yang dinilai mengagumkan sampai dekat stumps.

Ali Usman bernilai 4. Kondisi pertandingan disebut tidak ideal untuk seorang spinner, sehingga ia dianggap sulit untuk dinilai secara adil. Ia juga disebut bukan sosok yang diharapkan menjadi urutan Test nomor delapan dalam batting, apalagi nomor tujuh—posisi yang harus ia ambil setelah Imam mengalami cedera.

Khurram Shahzad meraih nilai 3. Ia dinilai semahal seperti di Headingley dan hanya mengambil tiga wicket, meski sebenarnya kondisi diberi label mendukung. Dengan itu, dampaknya tidak sebesar yang diharapkan dari situasi yang menguntungkan.

Muhammad Abbas memperoleh nilai 8. Ia mencatat sembilan wicket dalam pertandingan, termasuk 5-57 di inning kedua, yang membuatnya masuk papan kehormatan. Liputan juga menyebut ia banyak meningkat dibanding di Headingley dan tetap menjadi ancaman yang konstan ketika kondisi menguntungkan baginya.

Mohammad Ali bernilai 6. Ia juga disebut lebih baik ketimbang di Headingley, dengan pergerakan bola yang membuatnya “nipping the ball in and out”. Namun, ia tidak akan menemukan kondisi yang sedemikian cocok lagi bagi gaya bermainnya pada kesempatan berikutnya.

Secara keseluruhan, jika pertanyaan tentang penampilan terbaik dalam 12 bulan diarahkan pada evaluasi yang sudah dicantumkan, Jamie Smith mendapat sorotan langsung sebagai “best performance for a year”, sementara Ollie Robinson tampil dominan lewat lonjakan wicket dan rata-rata 8.34 sejak dipanggil kembali. Sementara itu, Root tetap bernilai 5 karena skor 4 dan 24 yang sama-sama berakhir lbw—tetapi penggambaran “It is not a crisis… yet…” menempatkannya pada fase yang belum dianggap darurat.