Olahraga

US Open 2026: Elena Rybakina Juara Setelah Cedera Kaki Pra-Turnamen, Kalahkan Aryna Sabalenka

×

US Open 2026: Elena Rybakina Juara Setelah Cedera Kaki Pra-Turnamen, Kalahkan Aryna Sabalenka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US Open 2026 results: Elena Rybakina on title win after pre-tournament injury

jurnalistik.co.id – Elena Rybakina menuntaskan US Open 2026 dengan cara yang jauh dari mudah. Ia datang ke New York dalam kondisi sulit berjalan tanpa nyeri, namun keluar sebagai juara sekaligus peraih peringkat dunia nomor satu baru.

Rybakina mengalahkan unggulan dua Aryna Sabalenka pada final Sabtu dengan skor 6-4, 5-7, 6-2. Kemenangan itu sekaligus mengulang keberhasilan Rybakina saat menjuarai Australian Open melawan pemain yang sama pada Januari.

Perjalanan Rybakina diawali dengan masalah kaki yang ia alami tepat sebelum turnamen besar dimulai. Cedera tersebut memaksanya menghadapi pekan awal US Open dalam situasi yang menyesakkan, karena rasa sakitnya muncul saat melangkah.

Ia juga sempat melakukan pemeriksaan MRI ketika tiba di New York. Dari hasil tersebut, kondisinya dinilai tidak terlalu baik, dan beberapa hari setelahnya ia belum bisa berjalan tanpa rasa nyeri.

Rybakina sebelumnya telah memperparah cedera kaki pada perempat final Cincinnati melawan Iga Swiatek, sebulan sebelumnya. Kejadiannya terjadi hanya sekitar sepekan lebih sebelum Grand Slam terakhir dalam kalender tahun itu dimulai.

Ia memilih tetap bermain meski ada risiko terhadap sisa musim. Dengan ambisi untuk merebut puncak peringkat yang ada di genggamannya, ia memutuskan untuk mencoba bertarung di turnamen paling bergengsi.

Dalam refleksinya usai pertandingan, Rybakina menyinggung sulitnya fase menjelang kompetisi. “I was so upset. I didn’t know actually how it was going to be day by day,” katanya.

Ia menambahkan, “We arrived in New York and did an MRI. It didn’t look that great.” Menurutnya, proses pemulihan menjadi penentu, karena ia bahkan “couldn’t even walk for the next few days without pain.”

Meski begitu, Rybakina mengaku terbantu oleh penanganan dokter yang ia sebut sangat baik di Australia. Ia juga menyebut adanya komunikasi yang intens dengan tim dan dokter selama proses penyusunan rencana pemulihan.

Untuk mempersiapkan final, Rybakina tidak menjalani latihan di lapangan selama sepekan. Sebagai gantinya, ia melakukan sesi pemulihan harian di gym, sambil tetap menjaga ritme melalui aktivitas lain seperti makan malam dan menonton bioskop untuk “switch the mind.”

Performa Rybakina di Flushing Meadows menjadi sorotan sejak awal. Ia memenangkan empat pertandingan pertamanya tanpa kehilangan satu set pun, termasuk saat menaklukkan Naomi Osaka.

Kemudian, ia melaju dengan mengatasi tantangan di babak berikutnya. Di perempat final, ia mengalahkan Zheng Qinwen yang berstatus juara Olimpiade. Ia lalu melewati semifinal dengan menundukkan Coco Gauff, yang datang sebagai unggulan tiga.

Di final, dinamika pertandingan berjalan ketat sejak set pertama. Rybakina lebih dulu mengambil kendali saat unggahan servisnya sempat tidak berjalan ideal.

Pada set pembuka, Rybakina hanya mendaratkan 27% servis pertama. Namun ia tetap mampu mengungguli Sabalenka dengan memenangkan 22 dari 30 poin yang diperebutkan melalui servis tersebut, serta tidak menghadapi satu pun peluang break point saat mengambil keunggulan.

Sabalenka kemudian menemukan jalan untuk mengubah arah laga. Pada game ke-12 set kedua, ia berhasil mematahkan permainan Rybakina sehingga pertandingan memaksa mereka bertarung lebih jauh hingga menentukan pemenang di set penentuan.

Ketika set ketiga bergulir, Rybakina tampil lebih dominan. Sabalenka yang mulai terlihat makin frustrasi, tidak mampu menahan ritme permainan Rybakina, dan akhirnya pertandingan berakhir untuk keunggulan Rybakina dengan skor 6-2.

Secara mental, Rybakina menunjukkan ketenangan yang menonjol. Annabel Croft, mantan petenis nomor satu Inggris, menilai cara Rybakina mengendalikan situasi di lapangan.

“The way she [Rybakina] quietly walks around, she doesn’t really lift her head up and she gives no emotion away whatsoever,” ujar Croft. Ia melanjutkan, “Rybakina is like a machine out there. You never know what’s going on in her head.”

Meski terlihat tenang, momen tekanan juga muncul ketika Rybakina melayani untuk memastikan gelar. Ia melakukan dua double fault ketika pertandingan berada pada posisi 40-30, tepat di titik yang bisa saja mengguncang momentum.

Namun, alih-alih goyah, Rybakina tetap dingin. Ia mengirim ace ke-12 dalam pertandingan untuk mengunci kemenangan, sekaligus meraih gelar Grand Slam ketiganya.

Perayaan Sabtu menjadi yang terbesar dalam catatan tiga kemenangan Grand Slam Rybakina. Ia tersenyum dan mengangkat kedua lengannya saat menerima sorak, setelah pertarungan panjang yang penuh ketegangan.

Dengan hasil ini, Rybakina kini memenangi dua dari tiga final Grand Slamnya melawan Sabalenka. Semua pertemuan penting tersebut terjadi di lapangan keras (hard courts) yang menjadi kanvas utama bagi kekuatan mereka.

Rybakina juga menegaskan bahwa ia sempat membawa beban besar dari cedera tersebut. “I was so unlucky with the injury, but I’m very proud,” katanya. “I still can’t believe it.”

Selain titel, final ini juga menentukan status ranking. Pada Senin, Rybakina akan menjadi petenis wanita ke-30 yang menempati posisi nomor satu dunia.

Croft memandang pergantian peringkat itu tidak akan membuat Rybakina goyah. “I actually think she has the right personality to deal with it,” kata Croft.

Ia menambahkan bahwa akan ada banyak pesaing yang mengintip peluang dari dekat, tetapi Rybakina pernah membuktikan kemampuannya saat momen paling menentukan datang. “There are going to be a lot of players around her nipping at her heels. She can fluctuate with her levels, but when it really matters, we’ve seen her be able to bring it to the table.”

Croft juga menilai bahwa mempertahankan posisi puncak tidak akan mudah, namun situasi tenis putri saat ini justru sedang menarik. “It’s not going to be easy to hang onto it. I think women’s tennis is really exciting right now.”

Dalam perjalanan kariernya, Rybakina baru menyelesaikan tiga bagian dari career Grand Slam, dengan satu kemenangan lagi yang belum masuk koleksinya: French Open. Setelah meraih Wimbledon pada 2022, ia baru menambah gelar mayor kedua pada Australian Open Januari, dan kini menutup siklus dengan gelar ketiga di New York.

Ia juga pernah berakhir lebih cepat di Roland Garros maupun Wimbledon pada tahun ini. Meski demikian, catatan ketangguhan Rybakina di turnamen hard court tetap menjadi pembeda yang membuat penampilan di US Open semakin meyakinkan.

Laura Robson, mantan petenis nomor satu Inggris, turut menilai karakter Rybakina sebagai pemain yang kuat di berbagai permukaan. “She is an all-surface player – clay is the worst one, but when you get her on something that’s quite lively or quick, she’s unplayable at times.”

Robson juga menyatakan keyakinannya terhadap masa depan Rybakina di level Grand Slam. “I genuinely think she will win many more Slams. I just don’t see, when her serve and return are on, how pretty much anyone can beat her on a hard court.”

Dengan demikian, kemenangan Rybakina di US Open 2026 bukan hanya soal titel. Ia juga menjadi bukti bahwa ketika cedera menggerus langkah di awal, strategi pemulihan, disiplin permainan, dan ketenangan saat tekanan memuncak tetap bisa mengantarkan gelar ke genggaman.