Olahraga

Rencana Investasi Turki Alalshikh untuk Derby County Batal

×

Rencana Investasi Turki Alalshikh untuk Derby County Batal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Derby County investment: Deal off as Turki Alalshikh shelves plans

jurnalistik.co.id – Investasi yang direncanakan Turki Alalshikh untuk Derby County akhirnya batal. Pejabat pemerintah Arab Saudi tersebut disebut tidak lagi melanjutkan rencana pengambilalihan saham klub Championship itu.

Kabar perubahan rencana ini disampaikan Derby County melalui pernyataan klub. Derby menyebut, demi menghindari keraguan, klub kini “off the market” setelah Alalshikh menghentikan rencana pembelian sahamnya.

Dalam pernyataan tersebut, Derby juga menegaskan klub akan terus beroperasi dengan dukungan “Clowes Developments”. Artinya, rencana yang sebelumnya dibayangkan sebagai langkah baru bagi klub tidak akan diteruskan oleh pihak yang direncanakan masuk sebagai investor.

Alalshikh sendiri dikenal sebagai salah satu figur penting di industri promosi tinju. Di masa lalu, ia tercatat sebagai co-founder perusahaan promosi Zuffa. Namun kali ini, keterlibatannya dikaitkan dengan skema investasi di sepak bola Inggris melalui proyek yang menggunakan nama Lion Sport.

Menurut informasi yang menyertai proses tersebut, kesepakatan sebelumnya telah mendapatkan lampu hijau dari English Football League (EFL) serta Independent Football Regulator. Dengan adanya persetujuan regulator dan otoritas terkait, rencana pengambilalihan saham sempat terlihat akan berjalan.

Meski demikian, Derby mendapat pemberitahuan pada hari Senin bahwa Alalshikh tidak ingin melanjutkan proses pembelian. Dari titik itu, rencana investasi dinyatakan berhenti, dan klub kembali pada posisi tanpa pasar untuk tawaran investasi tersebut.

Skema yang sempat dibahas melibatkan rencana Alalshikh mengambil saham di klub Championship. Investasi ini dikaitkan dengan proses regulatori yang berjalan sejak bulan Mei, ketika kesepakatan awal berada dalam pembahasan dengan regulator independen sepak bola Inggris.

Di luar aspek bisnis dan regulasi olahraga, rencana investasi itu juga menjadi sorotan dari kalangan aktivis dan organisasi hak asasi manusia. Kekhawatannya mencuat pada saat perhatian publik menilai bagaimana regulator independen seharusnya bersikap terhadap investasi tersebut.

Amnesty International tercatat pernah menyatakan bahwa regulator independen menghadapi “defining test” atau ujian penentu dalam menghadapi investasi ini. Pernyataan itu muncul pada bulan lalu, ketika perdebatan soal kesesuaian investasi terus bergulir di ruang publik.

Alalshikh disebut menjabat sebagai ketua General Entertainment Authority Arab Saudi. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang dekat dengan figur yang dianggap penguasa de facto Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Karena kedekatan posisi tersebut, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengkritik perannya dalam isu yang disebut “sportswashing”.

Istilah “sportswashing” merujuk pada tuduhan bahwa negara menggunakan olahraga untuk memperbaiki citra di dunia internasional, dengan tujuan mengalihkan perhatian dari catatan hak asasi manusia. Dalam konteks yang disebut dalam laporan tersebut, tuduhan itu diarahkan pada berbagai hal, termasuk perlakuan terhadap perempuan, penggunaan hukuman mati, serta sikap yang anti-LGBT.

Perdebatan tidak muncul tanpa jejak keterlibatan di klub sepak bola. Sebelumnya, Alalshikh disebut pernah menjadi pemilik klub Pyramids di Mesir pada periode 2018 hingga 2019.

Ia juga disebut pernah memiliki klub Spanyol, Almeria. Namun, kepemilikan tersebut telah berakhir; laporan menyebut bahwa Almeria dijual kepada kelompok investasi dari Arab Saudi pada bulan Mei tahun lalu.

Posisi Derby setelah kesepakatan dihentikan Dengan batalnya rencana investasi, Derby kini kembali menata arah klub tanpa melibatkan pihak yang semula disebut ingin masuk melalui Lion Sport. Pernyataan klub menekankan keberlanjutan operasional bersama dukungan Clowes Developments.

Bagi Derby, kondisi ini sekaligus menutup tahapan yang sebelumnya telah melibatkan persetujuan regulasi dari EFL dan Independent Football Regulator. Meski tahapan itu sempat memberi sinyal kesepakatan akan terealisasi, keputusan akhir dinyatakan berubah karena Alalshikh tidak lagi ingin melanjutkan pembelian saham.

Perubahan rencana ini juga memperlihatkan bahwa dinamika investasi besar di sepak bola tidak selalu berhenti pada proses persetujuan regulatori. Ketika pihak yang semula berencana menjadi investor memilih mengurungkan niat, rencana yang telah berjalan bisa berakhir sebelum transaksi tuntas.

Di sisi lain, perhatian publik tetap melekat pada bagaimana isu-isu etika dan penilaian regulator akan dipahami. Pernyataan Amnesty International pada bulan lalu menempatkan regulator independen sebagai pihak yang akan diuji dalam menghadapi investasi seperti yang direncanakan, sehingga pembatalan rencana ini turut mempengaruhi lanskap perbincangan yang sebelumnya sudah terbentuk.

Meski investasi Turki Alalshikh pada Derby County dinyatakan batal, jejak kritik dan konteks keterlibatan Alalshikh di dunia olahraga tetap menjadi bagian dari cerita yang menyertai rencana tersebut. Keputusan “off the market” membuat Derby bergerak dengan kerangka dukungan yang telah disebutkan dalam pernyataan klub.

Sampai detail rencana baru disampaikan, Derby berada pada fase menata keberlanjutan klub tanpa paket investasi yang sempat diantisipasi sebelumnya. Kesepakatan yang menjadi sorotan, baik dari aspek bisnis maupun dari sudut pandang hak asasi manusia, kini berakhir sebelum benar-benar menjadi transaksi kepemilikan.