Olahraga

Premier League Makin Gencar Menyisir Talenta Muda dari EFL

×

Premier League Makin Gencar Menyisir Talenta Muda dari EFL

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alasan Klub Premier League Gencar Berburu Talenta Muda dari EFL

jurnalistik.co.id – Premier League kian aktif berburu pemain muda dari jalur EFL dan juga kompetisi Liga Skotlandia. Strategi ini dipakai klub untuk menemukan talenta sejak dini, sebelum mereka benar-benar matang dan naik menjadi pemain senior.

Pola perekrutan tersebut terlihat dari sejumlah langkah cepat pada musim panas ini, dengan Manchester City tampil menonjol. Klub itu bergerak di bursa lewat kedatangan Jeremy Monga dari Leicester City dengan nilai 12,5 juta poundsterling atau sekitar Rp 302 miliar.

Nama Monga sebelumnya juga menjadi incaran Arsenal, terutama untuk posisi sayap. Namun pada akhirnya Manchester City yang memenangkan persaingan untuk mendapatkan pemain tersebut.

Catatan performa Monga bersama Leicester turut menjelaskan mengapa ia menarik perhatian. Ia sempat menjadi pemain termuda kedua yang tampil di Premier League untuk Leicester pada April 2025, saat berusia 15 tahun dan 271 hari.

Setelah itu, Monga juga menorehkan rekor lain dengan menjadi pemain termuda yang menjadi starter di liga. Di fase berikutnya, ia bahkan melampaui Jude Bellingham sebagai pencetak gol termuda di Championship, kasta kedua Liga Inggris.

Jalur EFL jadi jalur penguatan sejak level bawah

Minat klub Premier League pada pemain dari EFL tidak lepas dari deretan kisah sukses yang lahir dari kompetisi yang menaungi kasta kedua, ketiga, dan keempat Liga Inggris. Salah satu contoh yang sering dijadikan rujukan adalah perjalanan Antoine Semenyo.

Semenyo pernah ditolak oleh beberapa akademi sebelum akhirnya ditemukan Bristol City ketika ia bermain sepak bola di perguruan tinggi. Setelah itu, ia menjalani masa peminjaman di Newport County dan Sunderland sebelum akhirnya berkembang di Championship bersama klub-klub tersebut.

Bournemouth kemudian merekrutnya dengan biaya sekitar 10 juta poundsterling atau setara sekitar Rp 220 miliar. Perkembangan yang terus meningkat membuat Manchester City akhirnya memboyong Semenyo dengan nilai transfer 64 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,5 triliun pada Januari 2026.

Jejak serupa juga terlihat pada sejumlah nama lain yang mengikuti pola dari level akademi dan kompetisi berjenjang menuju kompetisi tertinggi. Ollie Watkins berkembang bersama Exeter City, sementara Adam Wharton meniti kariernya bersama Blackburn Rovers sebelum langkahnya mengarah lebih jauh.

Khusus konteks pemain yang pernah berproses dari akademi EFL, kisah tersebut menunjukkan bahwa rekrutmen bukan sekadar mengejar pemain yang sudah siap tempur. Klub-kota Premier League ingin menangkap pemain ketika potensi masih dapat diarahkan melalui pengalaman kompetitif dan masa transisi yang tepat.

Tren serupa juga tercermin dari perjalanan Eberechi Eze. Setelah dilepas Arsenal, Eze membangun kembali kariernya bersama Millwall dan Queens Park Rangers sebelum pada akhirnya menjadi sosok penting di level Premier League.

Selain contoh-contoh individu, riset BBC Sport juga menyebut adanya 14 pemain dari akademi EFL atau Liga Skotlandia yang direkrut untuk masuk ke skuad pengembangan klub Premier League pada musim panas ini. Angka tersebut memperlihatkan bahwa perekrutan talent muda tidak berhenti pada satu-dua kasus, melainkan menjadi arah jangka lebih panjang.

Dengan demikian, upaya Premier League menyisir pemain muda dari EFL dan Liga Skotlandia tampak sebagai kombinasi antara pencarian bakat, pengelolaan perkembangan, dan keyakinan bahwa loncatan level bisa dipercepat melalui pengalaman kompetitif yang tepat. Klub-klub besar kemudian tinggal menempatkan pemain-pemain tersebut pada jalur yang paling sesuai agar mereka siap saat waktunya tiba.

Langkah Manchester City pada bursa transfer musim panas ini juga memperlihatkan cara pikir yang lebih sistematis: mengamankan pemain dari ekosistem kompetitif yang sudah terbukti bisa membentuk karakter pertandingan, lalu menyelaraskan transisi menuju level tertinggi.

Kesamaan pada beberapa kisah yang disebutkan—mulai dari Semenyo yang sempat ditolak akademi sebelum berkembang, hingga Eze yang kembali menemukan pijakan setelah dilepas Arsenal—menekankan bahwa klub tidak hanya menilai kemampuan saat ini, tetapi juga arah perkembangan yang sedang tumbuh.

Ketika BBC Sport mencatat adanya 14 pemain dari akademi EFL atau Liga Skotlandia yang masuk ke skuad pengembangan, pola itu semakin terasa sebagai strategi jangka panjang. Perekrutan seperti ini dirancang agar potensi muda mendapat ruang belajar, dari intensitas laga sampai tuntutan adaptasi saat naik kelas.