Olahraga

Rocky Flintoff Unjuk Gigi di One-Day Cup: ‘fast-tracked’ ke Kriket Internasional, lalu apa langkah berikutnya?

×

Rocky Flintoff Unjuk Gigi di One-Day Cup: ‘fast-tracked’ ke Kriket Internasional, lalu apa langkah berikutnya?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rocky Flintoff: Teenager pushes case in One-Day Cup so what next for son of England legend?

jurnalistik.co.id – LANCASHIRE — Rocky Flintoff terus menarik perhatian sejak penampilan pertamanya di level senior. Namun, rangkaian laga One-Day Cup yang baru berakhir menyisakan pertanyaan besar: langkah berikutnya untuk remaja berbakat ini, terutama menuju kriket internasional?

Di musim One-Day Cup, Flintoff mencatat jejak yang sulit diabaikan. Setelah memukau pada Selasa dengan mencetak abad pertama level senior, perjalanan Lancashire di turnamen itu berakhir saat mereka kalah dari Durham pada tahap knock-out, dengan Flintoff menyumbang 22 angka.

Secara keseluruhan, One-Day Cup-nya diisi delapan pertandingan dengan total 315 run dan rata-rata 63. Rekam jejak tersebut membuat banyak orang melihat Flintoff bukan sekadar “nama keluarga”, melainkan pemain yang sudah menunjukkan daya saing nyata di level pertandingan yang lebih tinggi.

Pelatih Lancashire, Steven Croft, menilai perkembangan Flintoff sejalan dengan karakter yang dibutuhkan saat sorotan semakin menguat. Croft menyebut bahwa tekanan adalah bagian dari perjalanan, terutama karena nama belakangnya.

Ia mengatakan, “Naturally pressure will follow him, unfortunately, because of his surname, but he has been up to the task so far,” dan menambahkan, “The way he has carried himself in this competition has been brilliant.”

Selain pencapaian di lapangan, perhatian publik juga ditopang oleh hubungan Flintoff dengan ayahnya, Andrew—yang dikenal sebagai “Freddie”. Pengaruh itu terlihat dari cara Flintoff beradaptasi di arena kriket senior. Croft juga menyinggung peran yang pernah dijalankan ayahnya dalam lingkungan pengembangan pemain, meski mantan all-rounder ikonik tersebut sudah mundur dari posisi kepala pelatih lebih awal bulan ini.

Cerita “fast-tracked” dan harapan yang mengikuti

Nama Flintoff makin sering dikaitkan dengan percepatan masuk tim nasional. David “Bumble” Lloyd—mantan pemain dan pelatih yang pernah terlibat bersama Inggris dan Lancashire, serta menjadi mentor awal bagi Flintoff senior—berbicara soal kebutuhan untuk membawa Flintoff lebih cepat ke level internasional penuh.

Lloyd menyampaikan, “He’s got everything,” lalu menegaskan, “I think he’s an international cricketer.” Dalam pandangannya, Inggris sudah terbiasa mengidentifikasi talenta, lalu mendorong mereka maju melalui tahapan yang tepat.

Seruan “fast tracked” itu muncul bukan tanpa dasar. Saat berusia 16 tahun, Flintoff menjadi pemain Lancashire termuda, sekaligus centurion termuda bagi England Under-19s dan England Lions. Pencapaian itu diraih melawan Cricket Australia XI yang dihuni pemain lebih dari 10 tahun lebih senior, sekaligus membawa catatan Lions dari ayahnya.

Meski begitu, perjalanan Flintoff tidak berjalan mulus seperti yang sering dibayangkan orang dari luar. Cedera dan pilihan jadwal membuatnya tidak tampil sama sekali untuk tim utama Lancashire sepanjang 2025. Preferensi untuk bermain bersama England Under-19s pada musim panas lalu ikut memengaruhi absensinya di level tim pertama.

Di County Championship, Flintoff juga belum tampil sejak mencatat rata-rata 12.42 dalam empat pertandingan saat Lancashire mengalami degradasi pada 2024. Ia juga belum merasakan The Hundred, padahal pernah terpilih sebagai wildcard untuk Northern Superchargers—di mana ayahnya bertindak sebagai pelatih musim panas lalu—serta belum tampil di T20 Blast.

Form bagus, tapi ujian berikutnya berubah

Dalam konteks yang lebih terbaru, performa Flintoff menunjukkan bahwa momentum yang terbangun bukan sekadar kilat. Ia mencatat 61 not out melawan Warwickshire, serta kontribusi minimal 33 angka—termasuk melawan Leicestershire, Kent, dan Northamptonshire.

Croft menilai abad pertama melawan Somerset menjadi momen penting dalam karier Flintoff. Ia menegaskan, “That first hundred for him [against Somerset] is massive,” dan menjelaskan, “To get his first one… I won’t say out of the way… but now he knows he can do it at this level.”

Bagi Croft, tahap berikutnya adalah membuktikan kematangan di level kelas pertama. Ia menambahkan, “The next for him is to do it at first-class level. He is a very fast learner.”

Menurut Croft, kembali ke skuad County Championship XI Lancashire bisa menjadi langkah yang mendekatkan Flintoff pada tantangan kualitas pukulan dan serangan bowling yang lebih tinggi. Croft juga menyebut bahwa serangan di One-Day Cup saat ini berkurang ketajamannya dibanding skema yang “kehabisan” pemain dari Hundred.

Untuk jadwal, Lancashire akan menjamu Northamptonshire ketika kompetisi bola merah dibuka kembali pada Kamis. Setelah itu, mereka akan bertandang ke Worcestershire pada pekan berikutnya. Di saat yang sama, ada horizon keputusan lain karena Inggris dijadwalkan memainkan lima youth one-day internationals melawan Pakistan mulai 2 September.

Di luar pemilihan kompetisi, pengambilan keputusan Flintoff juga dipengaruhi peran keluarga. Ia tercatat sebagai all-rounder seperti ayahnya, serta seperti kakak laki-lakinya yang berusia 20 tahun, Corey, yang saat ini berada di Kent’s second XI.

Garis cedera dan peluang perubahan menjelang musim berikutnya

Di tengah semua sorotan, ada hambatan fisik yang masih membatasi jenis permainan Flintoff. Bone stress issues di punggung dan panggul membuat Flintoff tidak bisa membalut peran bowling seam-nya pada pertandingan kompetitif sejak masa Under-16.

Namun, masih ada harapan yang dijaga secara perlahan—agar perubahan itu bisa terjadi menjelang musim berikutnya. Harapan tersebut bergantung pada kelancaran Flintoff menuntaskan sisa musim dan menjalani musim dingin tanpa gangguan cedera.

Dalam laga knock-out di Old Trafford, Flintoff berhadapan dengan skuad Durham yang menampilkan Ben Stokes. Prospek Flintoff menggantikan Stokes sebagai all-rounder Inggris memang terasa menggoda, tetapi pada tahap ini masih terlalu dini untuk dipastikan.

Pada kenyataannya, beberapa rekan seusia Under-19 Inggris turut berkembang ketika Flintoff lebih sering berhadapan dengan kendala tampil di tim utama dan persoalan kebugaran. Contoh yang disebut adalah momen Flintoff di Taunton yang berakhir setelah ia ditangkap oleh Archie Vaughan—spin-bowling all-rounder yang menjadi pemain reguler Somerset, berusia 20 tahun, serta putra dari mantan kapten Inggris, Michael.

Di tempat lain, Joe Moores (rekan Flintoff di Lancashire), Thomas Rew (penjaga gawang Somerset), Caleb Falconer (all-rounder Middlesex), dan Manny Lumsden (bowler pace Hampshire) tampil di The Hundred dalam pekan-pekan terakhir. Sementara itu, batters Ben Dawkins dan Ben Mayes—masing-masing dari Kent dan Hampshire—serta all-rounder spin Ralphie Albert dari Surrey juga tampil di County Championship musim ini.

Dengan Rew, Dawkins, dan Mayes yang sudah lebih dulu mencetak century di first-class, muncul anggapan bahwa kelompok usia muda ini merupakan salah satu yang terbaik untuk satu generasi. Meski perhatian publik kepada Flintoff begitu besar, Croft tidak merasa itu akan mengganggu fokusnya.

Ia berkata, “I don’t think he is one of them that will do some mindless scrolling,” sebelum menambahkan, “He is level-headed really.” Croft juga menilai tantangan perhatian modern memang sulit dihindari, tetapi Flintoff punya landasan yang cukup kuat untuk menghadapinya.

Croft menutup penilaiannya dengan, “It is always going to be a bit of a challenge, it is the way of the world these days. But he has a good head on his shoulders, is a level kid and hopefully takes it all in his stride.”

Dengan rentang pertandingan berikutnya yang sudah menunggu, serta keputusan terkait jalur karier yang mendekat—termasuk youth one-day internationals mulai 2 September—pertanyaan “fast-tracked” itu kemungkinan akan bergeser menjadi rencana yang lebih konkret. Bukan hanya soal reputasi keluarga, melainkan seberapa cepat Flintoff bisa memetakan langkah berikutnya sesuai tantangan level yang lebih tinggi.