jurnalistik.co.id – David Gray berpisah dengan Hibernian (Hibs) pada pekan ketiga musim ketiganya sebagai manajer tim utama, setelah rangkaian hasil yang tak kunjung membaik terus berlanjut.
Perpisahan itu disebut paling “aneh” karena tidak datang dengan euforia dari suporter. Suasana justru digambarkan seperti “more sadness than satisfaction”, dengan perasaan “more ‘thanks for the memories’ than ‘never darken our door again’”.
Setelah lebih dari satu dekade sebagai pemain—termasuk hari abadi di Hampden pada 2016—dan menempati sejumlah peran sebelum menjadi manajer utama, Gray keluar pada Rabu malam. Tidak ada permintaan untuk memecatnya saat itu, dan tidak ada rencana untuk mengejeknya sebagai sosok yang mereka panggil “Sir David Gray”.
Perjalanan yang pernah gemilang, kini tersendat
Gray memang membawa Hibs mencapai pencapaian beruntun yang jarang terjadi. Ia tercatat sebagai manajer pertama di Easter Road yang menghadirkan finis liga berturut-turut di posisi lima besar sejak Eddie Turnbull pada awal 1970-an.
Ia juga menjadi manajer Hibs yang paling spesifik dalam catatan lawatan: hanya Gray yang bisa menang di Ibrox dalam tiga musim beruntun. Selain itu, ia juga membawa Hibs menang di Celtic Park pada musim sebelumnya.
Namun, sisi negatifnya juga makin tegas. Enam kekalahan kandang beruntun di liga disebut menyamai rekor kelam klub yang bertahan sejak 1920.
Hibs sempat memiliki dua kesempatan untuk melangkah ke babak playoff European Conference League, lengkap dengan konsekuensi finansial bila target itu berhasil. Akan tetapi, peluang tersebut terbuang dengan cara yang disebut “self-harming”, sementara posisi mereka di klasemen bergerak jauh dari harapan.
Dalam enam pertandingan liga, Hibs hanya meraih enam poin dan berada di peringkat sembilan. Kekalahan telak dari tim papan bawah Kilmarnock pada Selasa, ditambah rasa seperti “drift”, disebut menjadi faktor yang mempercepat akhir tugas Gray.
Upaya menembus semifinal Piala Liga melawan Hearts tidak cukup untuk mengubah keputusan. Dengan kata lain, membuat langkah di turnamen tetap tidak sanggup menahan laju tren buruk di kompetisi liga.
Gaya permainan dinilai kehilangan energi
Dalam penilaian yang disampaikan, gaya sepak bola Hibs juga disebut tidak mudah untuk dinikmati. Kekurangan energi serta hiburan disebut sebagai problem yang terus membesar seiring berjalannya waktu.
Hibs, menurut gambaran yang sama, terlihat “stale” dan seperti “rudderless”. Sesekali mereka bisa memunculkan kilatan performa, tetapi momen-momen itu terlalu singkat.
Musim sebelumnya, Jens Berthel Askou disebut membawa “zest and enjoyment” ke Fir Park. Kini Alfred Johansson, sebagai penerus, berupaya melanjutkan fondasi tersebut, meski pada Selasa ia dan Wouter Vrancken di Hearts sama-sama mengalami malam buruk.
Berita Terkait
Ada juga ekspektasi bahwa skuad Hibs sudah cukup layak, tetapi performa yang ditampilkan dinilai belum sampai pada level yang seharusnya. Dalam konteks itu, beberapa pemain disebut ikut bertanggung jawab atas kemunduran yang berujung pada berakhirnya masa Gray.
Awal sulit Gray hingga finis tinggi
Pada musim pertama, Gray sempat menghadapi start yang berguncang. Di 14 pertandingan liga pertamanya, ia hanya meraih satu kemenangan, dan pada November ia berada di posisi terbawah klasemen.
Ketika itu, Hearts digambarkan berada di peringkat kedua dari bawah. Lebih dari sekali, Gray terlihat berada dalam masalah, tetapi ia meresponsnya dengan rangkaian kemenangan yang membuat posisinya tetap aman.
Musim pertama itu juga disebut sebagai contoh kuat: dari dasar klasemen, Hibs mampu naik hingga finis ketiga di akhir musim. Sementara musim lalu, pencapaian finis kelima dinilai wajar, meski bagi pendukung Hibs hal tersebut terasa seperti mimpi buruk ketika Hearts menggila mengejar gelar.
Lonjakan performa Hearts menambah tekanan pada siapa pun yang memegang kursi manajer Hibs. Selain itu, selama masa Gray, Hibs disebut memiliki kebiasaan buruk kebobolan gol telat yang menghentikan momentum sekaligus membuat pencarian konsistensi semakin sulit.
Polanya: gol telat yang merampas poin
Pada musim 2024-25, Hibs disebut kebobolan gol telat hingga merugikan poin saat menghadapi Kilmarnock, Ross County, Hearts, Dundee (dua kali), dan Dundee United (dua kali). Rinciannya disebut terjadi pada menit 88, 90, 90, 90, 90, 86, 90, 87, dan 90.
Pada musim lalu, kebiasaan serupa masih berulang. Hibs disebut kebobolan gol yang merusak saat menghadapi Midtjylland, Legia Warsaw, Livingston, Dunfermline, Dundee, dan Hearts (disebut terjadi tiga kali) pada menit 119, 90, 98, 90, 90, 90, 88, 90, dan 86.
Pada musim ini, Hibs juga disebut kalah dari Motherwell pada menit ke-85. Mereka juga kebobolan pada menit ke-84 dan menit ke-90 saat melawan Gent, yang membuat langkah mereka di Conference League berakhir.
Walau di hari lain mereka sempat menyelamatkan setidaknya satu poin—atau “three” sebagaimana disebut—hasil keseluruhan tetap menempatkan mereka di sisi yang salah terlalu sering. Gray disebut akan menyimpan penyesalan tentang sejumlah “what-might-have-beens”, dan pemain juga diminta menoleh ke cermin atas bagian yang bisa mereka perbaiki.
Masih ada gambaran bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan taktikal, melainkan juga “steel”, mentalitas, kepemimpinan, serta ketajaman dalam pembinaan. Gray dinilai sudah berusaha semaksimal mungkin dan terlihat benar-benar hidup dengan pekerjaan itu, hingga ketika tidak berjalan sesuai rencana ia tampak terluka.
Dalam banyak kasus manajer yang dipecat, ada keyakinan bahwa mereka bisa memperbaiki jika diberi waktu. Namun, spekulasi yang muncul adalah Gray termasuk tipe yang pernah menyelamatkan diri dari masalah di musim pertama, tetapi kali ini kesempatan itu tidak tersedia.
Dengan berakhirnya masa Gray, Hibs kini kembali ke “drawing board”, sementara Gray akan memulai lagi di tempat lain. Pengalaman pahit dalam manajemen sepak bola itu disebut diharapkan membuat ia kembali dengan bekal yang lebih kuat.












