jurnalistik.co.id – Andrew Benson (BBC Sport F1) menjawab sejumlah pertanyaan setelah GP Azerbaijan, membahas masa depan Christian Horner dan diskusi tentang Ferrari, perubahan jadwal balapan karena situasi Timur Tengah, alasan tidak keluarnya virtual safety car saat insiden Valtteri Bottas, hingga sinyal peningkatan Williams lewat upgrade di Baku.
Babak GP Azerbaijan sendiri menyisakan beberapa gambaran penting di klasemen. Mercedes punya momen besar lewat kemenangan perdana George Russell sejak Juni, setelah ia mampu menahan Max Verstappen. Sementara rekan Verstappen, Isack Hadjar, kembali ke podium seusai absen tiga balapan karena cedera patah tulang pergelangan tangan.
Di urutan berikutnya, Kimi Antonelli finis kelima di Baku. Itu membuat keunggulan Antonelli atas Russell menyempit menjadi 66 poin menjelang rangkaian balapan berikutnya.
Untuk akhir pekan setelahnya, Formula 1 beralih ke Malaysia. Negara itu menjadi tuan rumah GP Bahrain, yang awalnya dijadwalkan berlangsung pada April tetapi ditunda akibat perang di Timur Tengah.
Horner dan peluang ke Ferrari
Pertanyaan pertama yang muncul adalah apakah Christian Horner benar-benar punya peluang untuk menggantikan posisi tim principal di Ferrari, atau bahkan sekadar dianggap kandidat pekerjaan itu. Benson menyoroti bahwa isu tersebut menghangat belakangan, dipicu wawancara Horner dengan Times saat ia mempromosikan buku barunya.
Dari wawancara tersebut, Horner menyatakan, “At this stage in my life, there’s only one team for which I would accept non-participation in ownership.” Ketika ditanya apakah ia akan menerima pekerjaan di tim tersebut, Horner menjawab, “Would I consider Ferrari? I mean, Ferrari is the biggest brand in Formula 1. It’s the dream. And arguably it’s the sleeping giant of Formula 1.”
Benson juga mengingatkan bahwa Frederic Vasseur telah menyampaikan sikap yang cukup tegas seusai GP Azerbaijan. Vasseur mengatakan, “Mr Horner is looking for a job – that, everybody knows – everywhere.” Ia menambahkan bahwa spekulasi mengenai tim membuat Ferrari “not working in the perfect serenity”.
Namun, Benson menekankan bahwa pertanyaan utama bukan hanya “apakah Horner akan mempertimbangkan tawaran”, melainkan juga di bawah kondisi seperti apa ia bersedia, serta apakah tawaran itu benar-benar datang. Di sini, ia mengingatkan keyakinan Horner selama ini bahwa sebuah tim F1 membutuhkan “one person in charge and in overall control”.
Menurut Benson, skenario itu sulit terjadi di Ferrari karena John Elkann dan Benedetto Vigna akan tetap memiliki otoritas lebih besar dibanding posisi team principal mana pun. Bahkan, ketika Horner masih memegang kendali di Red Bull, ia tetap bertanggung jawab pada markas besar di Austria—sesuatu yang akhirnya berujung pada pemecatannya.
Benson menilai akan sangat sulit membayangkan Elkann dan Vigna menerima situasi di mana mereka kehilangan masukan atau pengaruh terhadap tim F1, sekalipun seseorang di posisi manajerial sudah diberi jaminan.
Masalah lain yang turut dipertimbangkan adalah kebutuhan tim terhadap sosok Horner. Benson menyebut Horner “comes with baggage”. Di periode terakhir di Red Bull, tim memecatnya setelah serangkaian kemerosotan performa, dengan kesimpulan internal bahwa tim tidak terlihat mampu menghentikan tren buruk di bawah kepemimpinannya.
Keputusan tersebut juga berkelindan dengan tuduhan yang pernah mengemuka. Benson menyebut adanya tuduhan “sexual harassment and coercive, controlling behaviour” yang disampaikan oleh seorang karyawan perempuan. Red Bull kemudian menolak tuduhan itu setelah dua investigasi internal yang dipimpin pengacara eksternal.
Dalam narasi Benson, kasus itu menjadi faktor yang berhubungan dengan kepergian Adrian Newey dari posisi chief technical officer. Ia juga menyinggung konflik internal yang menurut Benson membuat Newey merasa perannya dikecilkan oleh Horner. Jonathan Wheatley, sporting director yang sudah lama bekerja, lalu ikut meninggalkan peran bersama Will Courtenay.
Benson juga mengutip apa yang Horner sampaikan dalam wawancara Times tentang alasan pemecatannya. Horner menyebut justifikasi yang diterimanya adalah, “it was more Christian Horner Racing than Red Bull Racing”. Ia menambahkan, “I am a bit of a Marmite character. I know I’m not everybody’s cup of tea. It’s impossible to be.” Horner juga menyatakan, “I’m the cure and the problem.”
Untuk menutup bagian ini, Benson menambahkan satu poin lagi: pembalap Ferrari, Lewis Hamilton, menurutnya telah berulang kali menunjukkan sikap yang cenderung tidak memberi banyak ruang untuk Horner selama beberapa tahun terakhir.
Kenapa tidak ada keputusan untuk dua balapan terakhir?
Pertanyaan berikutnya mengarah pada peran FIA dan kalender balapan. Ada keterangan bahwa FIA membatalkan rangkaian balapan di World Rally Championship dan World Endurance Championship karena konflik di kawasan Timur Tengah. Karena itu, penanya bertanya mengapa belum ada kepastian untuk dua balapan terakhir F1.
Benson menjawab dengan membuat pembeda peran. Ia menegaskan bahwa yang memutuskan kalender adalah Formula 1, “as in, the commercial rights holder – not the FIA”. Menurutnya, peran FIA pada dasarnya hanya memberikan “rubber-stamp” atas keputusan F1.
Berita Terkait
Benson menyebut saat ini F1 tetap merencanakan menutup musim sesuai kalender awal: Las Vegas, lalu Qatar, kemudian Abu Dhabi—dengan dua pekan terakhir bulan November dan satu pekan pertama bulan Desember.
Walau konflik antara AS/Israel dan Iran terus berlangsung, Benson menyatakan saran yang diperoleh F1 menilai situasi di dua negara itu “stable”, dengan risiko serangan terhadap infrastruktur sipil tidak dinilai tinggi. Ia mencontohkan panduan UK Foreign Office yang tidak menyarankan pelarangan perjalanan ke Qatar dan Abu Dhabi.
Namun, Benson juga mencantumkan nuansa peringatan. UK Foreign Office menyebut situasinya “remains unpredictable” serta ada “risk of more attacks and unforeseen escalation in the region”, sementara dua negara itu sendiri mengklaim siap untuk bisnis.
Meski begitu, Benson menegaskan ada rencana cadangan. Imola di Italia dipersiapkan menjadi tuan rumah balapan pada akhir pekan yang sama dengan Abu Dhabi. Apabila dua balapan di Timur Tengah tidak bisa berlangsung akibat eskalasi situasi di Teluk, maka balapan penutup musim akan dipindahkan menjadi 4-6 Desember di Imola.
Artinya, selama skenario itu tidak terjadi, tidak ada perubahan yang dikonfirmasi karena “there are currently no changes”.
Kenapa VSC tidak dipanggil saat Bottas berhenti di akhir lomba?
Bagian berikutnya membahas insiden Valtteri Bottas. Pertanyaan muncul: mengapa virtual safety car tidak dipanggil ketika Bottas mengalami kecelakaan tepat menjelang akhir balapan di Azerbaijan.
Benson mengingatkan bahwa insiden itu memang berbahaya. Mobil Bottas berada di penghalang (barrier) pada kondisi yang memerlukan perhatian serius. Bottas menabrak di Tikungan 15 pada lap penultimate, sehingga mobilnya tersangkut di penghalang ketika George Russell dan Max Verstappen melewati putaran terakhir kurang dari satu detik terpisah.
Pada sirkuit jalanan, Benson menyebut, kondisi mobil di penghalang biasanya berarti minimal ada virtual safety car. Namun, menurut juru bicara FIA, race control memutuskan situasi cukup aman untuk tetap membiarkan para pemimpin “race to the line”.
FIA menyatakan bahwa para pembalap dapat memotong apex di T15 karena itu “relatively slow corner”. FIA juga menyebut insiden Bottas “successfully managed by localised double yellows”.
Meski demikian, Benson menilai keputusan itu tetap layak diperdebatkan—termasuk apakah race control mempertimbangkan agar balapan tidak berakhir di bawah caution. Satu sisi, pembalapan jadi lebih menarik sampai akhir. Di sisi lain, perlambatan untuk insiden memberi dampak teknis pada mobil Mercedes Russell.
Russell menjelaskan efeknya secara langsung: “I lifted off the power and when I went back, I had no turbo, so then I had no power,” lalu menambahkan, “Max almost got me at the line.” Benson menyatakan Russell masih bisa mengurangi kerugian itu karena itu lap terakhir, sehingga baterai bisa digunakan habis hingga bendera finis, tanpa perlu menyimpannya untuk lap berikutnya.
Meski demikian, Russell tetap bertahan dengan jarak kurang dari 0,2 detik. Benson menegaskan bahwa jika ia tidak berhasil, keputusan race control akan mendapat sorotan lebih besar dibanding yang terjadi saat ini.
Upgrade Williams: apakah lonjakannya sudah terbaca?
Pertanyaan terakhir yang dijawab Benson adalah permintaan analisis data tentang “jump” yang Williams tunjukkan setelah upgrade. Penanya menilai perubahannya tampak lebih signifikan dibanding narasi yang banyak dibahas terkait peningkatan Aston Martin.
Benson mengawali dengan mengakui topik ini kompleks. Ia menyatakan peningkatan yang diperkenalkan Williams di Baku, baik chassis yang lebih ringan maupun upgrade aerodinamika, “marked a step forward”. Ia juga menambahkan, performa kualifikasi Williams di Baku menjadi yang terbaik musim ini dalam hal posisi, walaupun secara persentase mereka sebenarnya sedikit lebih dekat ke barisan depan saat Miami pada bulan Mei.
Meski begitu, Benson menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menghakimi upgrade Williams sepenuhnya. Ia mengaitkannya dengan contoh Aston Martin: tahun ini ada dinamika kompetisi yang berubah berdasarkan jenis sirkuit.
Benson menilai Williams tetap sudah memperkirakan Baku akan menjadi salah satu lintasan yang kuat untuk mobil mereka karena karakter tikungan durasi pendek dan lintasan lurus panjang. Namun, tantangan Williams berada pada tikungan berdurasi panjang, sehingga mereka perlu menguji peningkatan itu pada akhir pekan berikutnya di Malaysia—tempat sirkuit Sepang memiliki banyak tipe tikungan tersebut.
Benson juga menyebut pola yang sama berlaku pada Aston Martin. Upgrade aerodinamika Aston Martin di Hungaria, menurutnya, meningkatkan performa chassis sekitar “two seconds a lap”.












