jurnalistik.co.id – Penonton The Hundred pada 2026 mencatat penurunan dibanding musim sebelumnya, dengan penjualan tiket yang turun tipis namun nyata. Meski liga tetap mengusung identitas yang ramah keluarga, angka kehadiran tidak lagi menunjukkan tren kenaikan seperti pada tahun-tahun tertentu.
ECB (England and Wales Cricket Board) menyampaikan penjualan tiket 2026 turun justru lebih dari 5% dibanding 2025. Realisasinya mencapai 550.000 tiket, lebih rendah dari 580.000 pada tahun sebelumnya.
Federasi juga mengakui adanya prediksi ketidakstabilan, mengingat perubahan yang dilakukan dalam skala besar. Musim 2026 menjadi edisi pertama setelah ECB menjual kepemilikan saham seluruh delapan tim kepada berbagai pemegang saham privat, yang menghasilkan pendapatan sekitar ÂŁ975 juta.
Dalam penilaiannya, penjualan pada 2026 tidak bisa dilepaskan dari konteks pergantian format kepemilikan dan perubahan yang menyertainya. Selain itu, ECB menunjuk bahwa dua tahun dengan penjualan tiket tertinggi—2023 dan 2025—kebetulan bertepatan dengan momen besar kalender kriket, yakni rangkaian Ashes serta tur India tim putra.
Pendekatan demografis penonton, pada saat yang sama, disebut masih relatif sejalan dengan pola tahun lalu. Proporsi tiket untuk junior mencapai 22%, keluarga 40%, dan 28% diisi oleh penonton perempuan.
Dengan demikian, pesan promosi turnamen tetap berjalan positif dan percaya diri meski keramaian menurun. Namun, memasuki edisi keenam, The Hundred tidak lagi dipandang sebagai “produk baru” seperti pada awal kemunculannya, meski nama tim, kit, dan wajah kepemilikan sudah diperbarui.
Perbedaan respons di tiap venue
Dari sisi perjalanan turnamen, pola kehadiran tahun ini digambarkan bergerak lambat sejak awal sebelum berangsur membaik menjelang akhir. Perbedaan tingkat perubahan pada masing-masing tim tampak tercermin dalam angka di delapan stadion penyelenggara.
Di Headingley dan Old Trafford—dua lokasi yang terhubung dengan rebranding total—penjualan dan kehadiran dilaporkan turun. Sementara itu, Stadion Utilita Bowl di Southampton justru menunjukkan pemulihan setelah awal yang lebih berat bagi Southern Brave.
Southern Brave sendiri mengalami kontras pada pertandingan pria pertama mereka: tercatat 8.452 penonton, dibandingkan 12.549 pada pertandingan setara di 2025. Meski begitu, ada catatan bahwa laga tahun ini berlangsung pada hari terakhir masa sekolah, sehingga faktor kalender dapat memengaruhi angka.
Di Cardiff, Stadion Sophia Gardens yang menjadi tuan rumah untuk Welsh Fire menampilkan hasil berbeda. Untuk pertandingan tim putra maupun putri, jumlah penonton disebut mencapai rekor, termasuk 11.796 penonton pada laga Fire melawan MI London.
Waktu pertandingan juga berperan ketika menilai tiap laga. Cardiff tercatat menjalani dua jadwal mulai pukul 11:30 BST pada hari kerja untuk tim putri, sedangkan rekor keramaian justru muncul pada malam Sabtu.
Di ibu kota, dua tim London menduduki posisi atas klasemen, dan daya tarik derby turut menyumbang angka besar. Pertandingan antara Spirit dan MI London tercatat dihadiri 27.721 penonton—angka yang menjadi rekor untuk laga fase grup dalam sejarah turnamen.
Berita Terkait
Namun, situasi di The Oval pada Jumat tidak menunjukkan penjualan mendekati kapasitas penuh. Karena tidak ada tim London yang tampil di Eliminator baik untuk kategori putra maupun putri, stadion tidak terjual habis, dengan angka 10.271 penonton untuk laga putri dan 20.124 untuk laga putra.
Pandangan penyelenggara: kualitas dan keterlibatan
Turnamen tetap mendapat penilaian positif dari penyelenggara. Direktur turnamen Vikram Banerjee menilai 2026 menghasilkan edisi yang “lebih baik” dibanding tahun lalu dan termasuk “salah satu yang terbaik” dalam sejarah The Hundred.
Banerjee menyebut kualitas permainan sekarang berada di urutan kedua setelah IPL, baik pada laga putra maupun putri. Ia juga mengaitkan optimisme pada performa siaran serta pertumbuhan audiens daring, sambil menekankan adanya peningkatan keterlibatan penggemar.
Ia menambahkan bahwa angka keramaian hanyalah satu ukuran, dan karena itu penyelenggara mengarahkan fokus pada pembangunan “fandom” serta metrik engagement. Menurut Banerjee, musim 2026 menjadi musim yang paling banyak ditonton pada kanal media sosial resmi The Hundred.
Harga tiket dan perubahan model kepemilikan
Selain faktor pasar dan jadwal, penyesuaian kebijakan tiket juga menjadi perhatian. Penjualan tim kepada pemilik baru membuat setiap tim kini bertanggung jawab atas pemasaran serta harga dan penjualan tiketnya sendiri, berbeda dari sebelumnya ketika seluruhnya dijalankan secara terpusat oleh ECB.
Di beberapa venue, harga tiket disebut meningkat, termasuk harga tertinggi ÂŁ55 untuk sejumlah tiket dewasa di The Oval pada hari yang sama untuk pertandingan putri dan putra. Meski begitu, di lokasi lain harga untuk tiket pemesanan awal berada pada kisaran ÂŁ20 hingga ÂŁ30.
Sementara itu, ketentuan harga tiket junior tetap seragam: ECB menetapkan tiket junior seharga ÂŁ5 di seluruh stadion.
ECB Chief Executive Richard Gould juga menilai perubahan kepemilikan berpotensi memperkuat ikatan penggemar terhadap tim. Ia menyampaikan bahwa penggemar dapat memiliki keterikatan yang lebih besar karena kepemilikan tim kini berada pada klub dan investor, bukan sepenuhnya berada di bawah kepengurusan terpusat ECB.
Meski demikian, Gould menerima bahwa jumlah penonton perlu membaik. Ia berharap lebih banyak orang hadir ke stadion, karena pada musim-musim terakhir kehadiran cenderung “datar”. Menurutnya, musim ini berjalan lebih lambat di awal lalu membaik menjelang akhir, dengan cuaca yang disebut ideal namun kondisi ekonomi tidak terlalu kuat.
Gould menambahkan bahwa perubahan merek dan nama tim memang memunculkan momen penyesuaian. Tetapi ia menyatakan yakin bahwa The Hundred berada pada posisi yang kuat, dengan dasar keterikatan yang lebih dekat antara penggemar dan tim yang kini dimiliki oleh klub.
Dengan penurunan tiket pada angka 550.000 dan berbagai respons yang tidak seragam di tiap venue, 2026 tampak menjadi fase transisi lanjutan. Namun, penyelenggara tetap memandang kualitas kompetisi, pertumbuhan audiens, dan strategi keterlibatan sebagai indikator yang bisa mengangkat performa turnamen ke depan.












