jurnalistik.co.id – Elena Rybakina memastikan tempat di final US Open 2026 setelah tampil gigih melawan Coco Gauff, lalu akan berhadapan dengan Aryna Sabalenka di laga penentuan gelar. Pertarungan dua unggulan teratas itu menjanjikan laga besar, sekaligus menjadi panggung bagi perubahan peta peringkat.
Rybakina dijamin mengakhiri catatan Sabalenka sebagai petenis nomor satu dunia yang bertahan selama 99 pekan. Saat peringkat diperbarui pada Senin, petenis asal Kazakhstan itu akan menggantikan posisi Sabalenka di puncak klasemen.
Di sisi lain, Sabalenka datang dengan modal kuat setelah mengirimkan peringatan kepada para pesaingnya. Ia mengalahkan harapan tuan rumah, Jessica Pegula, dengan skor 7-5, 6-2 untuk menjaga peluangnya meraih gelar US Open untuk kali ketiga secara beruntun.
Bangkit untuk mengunci tiket final
Rybakina memulai laga semifinal dengan langkah yang tidak mudah. Ia harus tertinggal 3-6 pada set pertama sebelum akhirnya melakukan perlawanan yang lebih solid hingga mampu menutup pertandingan dengan kemenangan 3-6, 6-4, 6-4 atas Gauff.
Bagi Rybakina, hasil ini juga terasa spesial karena sebelumnya ia tidak pernah melaju melewati babak keempat di US Open. Kali ini, ia mampu mematahkan hambatan itu dan menundukkan Gauff di hadapan kerumunan yang lebih banyak berpihak kepada petenis Amerika.
Saat ditanya tentang kuncinya, Rybakina menyampaikan, “I took a deep breath and just told myself I needed to fight and show good tennis,”.
Dengan kemenangan tersebut, Rybakina juga meneruskan perburuan gelar Grand Slam ketiganya. Petenis berusia 27 tahun itu sebelumnya memenangi Wimbledon pada 2022, serta pernah mengalahkan Sabalenka pada final Australian Open Januari lalu.
Final nanti akan menghadirkan pertemuan yang sudah lama tidak terjadi: dua unggulan teratas pada nomor tunggal putri saling berhadapan di final US Open untuk pertama kalinya sejak Serena Williams mengalahkan Victoria Azarenka pada partai puncak 2013.
Sabalenka menguat, Pegula terpukul
Berita Terkait
Sebagai lawan Rybakina, Sabalenka memperlihatkan ketajaman sejak awal pertandingan melawan Pegula. Menjelang set pertama, permainan sempat berlangsung ketat: Pegula lebih cepat menemukan ritme dan memukul bola dengan bersih, sementara Sabalenka diwarnai frustrasi akibat sejumlah kesalahan sendiri yang muncul lebih awal.
Kendati demikian, Sabalenka kemudian mengubah jalannya permainan. Setelah memegang keunggulan pada kedudukan 6-5 untuk merebut set pertama, ia meningkatkan daya serang dan membuat Pegula kesulitan mengikuti tempo.
Di set kedua, Sabalenka melaju lebih dominan. Ia mencatat 29 winners sementara Pegula hanya mengumpulkan 12 winners, sebelum akhirnya menutup kemenangan dengan skor akhir 7-5, 6-2.
Keberhasilan itu sekaligus memperpanjang rekor Sabalenka. Ia kini mematahkan catatan era Open untuk jumlah final Grand Slam hard-court beruntun terbanyak, dengan mencapai setiap final mayor di permukaan favoritnya sejak Australian Open 2023.
Bagi Pegula yang berusia 32 tahun, hasil ini menjadi kekalahan lain di US Open dari rival yang sudah lama bersaing dengannya. Pegula juga menjadi satu-satunya semifinalis yang belum pernah meraih gelar Grand Slam.
Sepanjang pertemuan mereka, Pegula pernah beberapa kali berhadapan dengan Sabalenka di momen-momen penting. Sabalenka menahan peluang Pegula meraih gelar mayor pertamanya pada final 2024, serta mengungguli Pegula pada semifinal tahun lalu.
Meskipun begitu, pertemuan terakhir mereka sebelum turnamen ini terjadi pada Berlin Open Juni, saat Pegula keluar sebagai pemenang. Sabalenka tetap datang ke final dengan statistik yang kuat di New York, sebab ia tidak merasakan kekalahan di ajang tersebut sejak kalah pada final 2023 melawan Gauff.
“I was super desperate,” kata Sabalenka setelah kemenangan atas Pegula. “It feels for me, talking about Grand Slams, like a last push of the season. I wanted it badly to go to the finals, and of course, I want to go all the way.”
Ia juga menegaskan latar belakang performanya sepanjang musim. Setelah awal yang kuat dengan meraih “Sunshine Double” di Indian Wells dan Miami pada Maret, Sabalenka sempat mengalami hambatan, termasuk kekalahan perempat final di Roland Garros dan tersingkir di babak keempat Wimbledon. Namun, menjelang final, ia hanya kehilangan satu set di sepanjang perjalanan turnamen.
Meski kalah, Pegula ikut menilai penampilan Sabalenka dengan nada yang jujur. “I do think she probably would have beaten 99% of people,” ujar Pegula. “Probably the best match she’s played this year.”












