jurnalistik.co.id – New York yang dikenal tak pernah benar-benar tidur kembali diuji di US Open 2026. Sejumlah pertandingan mulai larut dan berakhir saat dini hari, sementara para pemain semifinal sudah harus berganti fokus sebelum langit benar-benar terang.
Di tengah ritme Manhattan yang bergerak keesokan hari, Ben Shelton dan Alexander Zverev menghadapi satu pertanyaan yang sama: bagaimana dampak laga larut pada kondisi fisik dan persiapan jelang semifinal.
Dalam dua pekan terakhir, tiga dari lima laga yang dimainkan Zverev berakhir lewat pukul 1:00. “I’ve been to bed as late as 6:45am in the past week so I’m kind of a bit jet-lagged,” ujar petenis Jerman itu.
Zverev merasa jadwal yang berlarut membuatnya seolah bermain “Australian Open in New York.” Ia menambahkan bahwa Jumat ini—saat semifinal melawan Karen Khachanov—menjadi momen berbeda karena pertandingan dijadwalkan pada 15:00 waktu setempat (20:00 BST), yakni pertama kalinya ia bermain pada jam siang di edisi tahun ini.
Sementara itu, Khachanov yang berstatus unggulan keempat belas dan tidak diunggulkan untuk semifinal tidak pernah bermain melewati tengah malam. Ia juga memiliki waktu persiapan yang sedikit lebih panjang setelah perempatfinal kontra Alexander Blockx berakhir tak lama sebelum pukul 19:00 waktu setempat pada Rabu.
Untuk Shelton, cerita tentang akhir pertandingan yang larut justru datang lebih ekstrem. Petenis unggulan kedelapan dari Amerika itu menyelesaikan kemenangan atas Carlos Alcaraz melalui pertandingan lima set pada pukul 3:34 pada Rabu.
Semifinal Shelton hadir pada sesi malam—melawan petenis unggulan ke-11 Frances Tiafoe—dengan jadwal 19:00 waktu setempat (00:00 BST, Sabtu). Adapun Tiafoe sendiri menuntaskan perempatfinalnya sekitar pukul 19:00 pada Selasa setelah menang atas Alex Michelsen juga melalui lima set.
Di sinilah perbedaan waktu istirahat menjadi poin yang paling mudah diperdebatkan. Menurut Matt Little, pelatih fisik yang menjadi rekan Andy Murray bertahun-tahun, keuntungan lawan yang bermain lebih awal bisa terasa besar. “The advantage of the opponent who has played earlier in the day will be big – they’ve had that full evening’s rest and a good night’s sleep,” kata Little.
Little menegaskan dampaknya bukan hanya soal satu malam yang buruk. “We can all relate to it – if you have one really bad night’s sleep, you have the knock-on effect of that for the coming days,” tambahnya.
Ia pernah melihat efek tersebut secara langsung saat Murray mengalami pertandingan yang berakhir pada pukul 4:00 di Australian Open 2023. Setelahnya, Murray hanya mendapat sekitar tiga jam tidur sebelum kembali tampil di Melbourne Park pada pukul 11:00 keesokan harinya.
Zverev, di sisi lain, memilih tetap terjaga. Ia tak tidur hingga sekitar pukul 5:00 setelah meraih tiga kemenangan pertamanya di Flushing Meadows, lalu menyaksikan Shelton menuntaskan laga malamnya saat ia sedang beristirahat.
Kalangan tim fisik kemudian menyoroti bagaimana pemain berupaya “mengunci” ritme setelah jadwal yang tidak ideal. Shelton, ketika akan menghadapi Tiafoe, menyatakan yakin kondisinya bisa diatur setelah dua hari tanpa bertanding.
Ia menegaskan bakal siap, dan Little memperkirakan mekanisme pemulihan akan berpusat pada tidur serta pengaturan asupan. “He’ll have to be napping to catch up some sleep,” katanya.
“On the nutritional side, he’ll be making sure he gets as many carbs and as much protein as he can in for that next match, and trying to get back to a bit of a routine. It’s about making sure you can optimise the hydration and get as much sleep as possible without completely going into a full slumber.”
Perdebatan ini pernah memunculkan reaksi serupa di Grand Slam lain. Murray menggambarkan situasi di Melbourne—ketika finis pada waktu yang amat larut—sebagai a “farce”. Pernyataan itu kemudian memicu perhatian luas, dan beberapa penyesuaian dilakukan untuk menekan risiko pertandingan bergeser hingga menjelang subuh.
Berita Terkait
Akibat respons terhadap kasus tersebut, Australian Open memangkas jumlah pertandingan sesi siang di lapangan utama dari tiga menjadi dua. Tujuannya jelas: mengurangi peluang pertandingan malam tertunda sampai melewati batas yang mengganggu jadwal pemain.
Selain itu, pada awal 2024 ATP dan WTA membuat aturan baru untuk tur. Aturan tersebut mencegah pertandingan yang dimainkan tiga set—bukan lima set seperti di Grand Slam—dimulai setelah pukul 23:00. Meski begitu, aturan itu tidak berlaku untuk turnamen mayor.
Di US Open 2026, persoalannya bukan sekadar teori. Pekan ini bahkan ada contoh ekstrem terkait waktu mulai pertandingan. Venus Williams bersama Sofia Kenin memulai pertandingan putaran pertama pada pukul 12:13am, yang menjadi waktu start terbaru dalam sejarah US Open.
Secara keseluruhan, dari tujuh malam pertama, tercatat tiga laga berakhir setelah pukul 2:00. Tiga pertandingan lain selesai setelah pukul 1:00, dan kemenangan Shelton atas Alcaraz menjadi catatan akhir laga paling larut dalam sejarah US Open.
Perdebatan: jadwal, televisi, dan format
Martina Navratilova menyuarakan kekhawatiran dengan nada tegas. “Something has got to give,” ujarnya. “This is not OK and it is not normal.”
Namun tidak semua pihak memandangnya sebagai masalah semata. Sebagian berpendapat momen-momen seperti ini justru menjadi “inti” US Open—sebuah cerminan gaduh dari kota yang tidak berhenti bergerak.
Bagi data yang dihimpun, jumlah laga yang berakhir pada dini hari terlihat meningkat di Flushing Meadows pada dua pekan ini. Meski begitu, pertandingan Selasa yang berakhir pada pukul 3:34am pada Rabu disebut sebagai hasil dari situasi yang tidak biasa: seluruh tiga perempatfinal sebelumnya di Arthur Ashe Stadium ditempuh hingga batas penuh.
Rangkaian tersebut mencakup kemenangan Aryna Sabalenka atas Linda Noskova, kemenangan Jessica Pegula atas Emma Navarro, dengan kemenangan Tiafoe berada di tengah urutan. Pola ini memberi gambaran bahwa pertandingan yang semakin panjang turut memperbesar peluang finis larut.
Karena itu, muncul pertanyaan solusi apa yang realistis. Salah satu usulan paling umum adalah memajukan waktu mulai sesi malam. Gagasan itu, dalam laporan ini, mendapat resistensi dari eksekutif televisi dan juga mempertimbangkan realitas kehidupan kota New York.
Banyak penggemar, menurut pertimbangan yang sama, kemungkinan besar tidak akan tiba di Flushing Meadows sebelum pukul 7 malam. Karena itu, penyesuaian jadwal tidak semata soal keputusan turnamen, melainkan juga menyangkut ekosistem penonton.
Ada pula usulan yang lebih radikal: mengurangi format best-of-five set pada kompetisi Grand Slam. Ide tersebut mendapat angin setelah Andrew Abdo—chief executive Tennis Australia yang baru menjabat—berkomentar bahwa Australian Open dapat mempertimbangkan menurunkan pertandingan putra menjadi tiga set di masa depan.
Komentar itu memantik reaksi balik, dan Tiafoe termasuk yang membela tradisi lima set. “Do I love five-setters? Absolutely not,” kata Tiafoe. “But it’s tennis, man. I grew up watching so many incredible five-setters.”
Ia menambahkan, “Novak-Rafa, Federer-Rafa, epic five-setters that go on for hours and hours. That’s the history of the game.”
Bagi Shelton dan Zverev, perdebatan besar itu akan segera bertemu kenyataan di lapangan. Dengan waktu istirahat yang tidak seragam bagi lawan, semifinal US Open 2026 tidak hanya mempertaruhkan tiket ke laga puncak, tetapi juga kemampuan pemain mengelola tubuh setelah pertandingan berakhir jauh setelah jam tidur ideal.












