jurnalistik.co.id – Final US Open 2026 mempertemukan Aryna Sabalenka dan Elena Rybakina dengan beban emosional yang berbeda namun sama-sama tajam. Sabalenka datang membawa misi mengamankan puncak dunia yang sudah mulai lepas, sementara Rybakina memiliki kesempatan memperbesar dampaknya setelah menyalip posisi nomor satu.
Sabalenka memahami bahwa ia hanya punya peluang menghentikan Rybakina menjadi peringkat dunia nomor satu bila berhasil keluar sebagai juara US Open. Bahkan skenario itu pun tidak otomatis menjamin segalanya, karena posisi teratas memang sudah berada di jalur Rybakina bila atlet asal Kazakhstan tersebut mencapai semifinal.
Rybakina sendiri dipastikan menggantikan Sabalenka di peringkat dunia. Kepastian itu datang setelah Rybakina menembus tahap yang diperlukan, sekaligus menegaskan bahwa duel puncak kali ini bukan sekadar memperebutkan trofi, tetapi juga menentukan narasi musim.
Tambahan motivasi juga muncul karena Rybakina membawa momentum yang beririsan dengan targetnya. Setelah mengalahkan Sabalenka untuk meraih gelar Australian Open tahun ini, ia kini berpeluang menambah “kerusakan” lebih jauh di New York. Situasi itulah yang membuat Sabalenka punya alasan ekstra untuk tidak membiarkan kemenangan ini terlalu mudah bagi lawannya.
Annabel Croft, mantan nomor satu Inggris, menggambarkan keadaan tersebut dengan analogi yang menggarisbawahi rasa frustrasi yang mungkin dirasakan Rybakina. “It is going to be red rag to a bull for her – she is not going to be happy,” kata Croft di BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan bahwa Sabalenka memiliki peluang untuk menutup tahun dengan hasil yang tinggi, sebagai respons terhadap persaingan yang tidak berjalan sesuai rencana.
Untuk Sabalenka, duel final juga memiliki lapisan sejarah. Ia menargetkan pencapaian langka: menjadi hanya pemain putri ketiga di era Open yang mampu memenangkan gelar tunggal US Open tiga tahun berturut-turut. Ia sudah meraih dua gelar sebelumnya, sehingga trofi ketiga bukan hanya soal menjaga ritme, melainkan sekaligus memahat tempatnya di catatan turnamen.
Namun, perjalanan ke final memperlihatkan bentuk permainan yang sempat naik turun. Di semifinal, Sabalenka mengalahkan petenis Amerika, unggulan ketiga Jessica Pegula. Dalam pertandingan itu, Sabalenka tampil sebagai penampilan terbaiknya dalam beberapa bulan terakhir, dengan kombinasi permainan yang terasa menyala dan bebas, sesuatu yang sebelumnya sempat hilang dari ritme kompetitifnya.
Menariknya, Sabalenka pernah menyepelekan arti kehilangan peringkat dunia saat diwawancarai setelah pertandingan-pertandingan penting, bahkan sempat bercanda seolah ia tidak terlalu mempedulikan status tersebut. Tetapi, semua tanda menunjukkan bahwa ia tetap merasakannya sebagai bagian yang penting dan relevan untuk masa depan performanya.
Anton Dubrov, pelatih Sabalenka, menyebut hal itu secara terang ketika membahas bagaimana isu peringkat dunia menggantung di kepala atletnya. “I actually like this [losing the ranking] happened. It’s ended and it’s extra fuel,” ujar Dubrov. Ia melanjutkan bahwa setelah masalah itu selesai, energinya tidak lagi terkuras oleh kepikiran yang berulang. “There is no more extra draining [of mental energy] or thinking about it. ‘There’s a next chapter right now’. You have to chase again. It’s extra motivation for you. Just go and get it.”
Di sisi lain, ada kekhawatiran yang lebih mengarah pada permainan dan mental Sabalenka sebelum US Open bergulir. Dalam lima bulan terakhir, ia beberapa kali kehilangan pertandingan ketika berada dalam posisi yang seharusnya menguntungkan. Salah satu momen yang paling menonjol terjadi pada perempat final French Open.
Berita Terkait
Pada pertandingan tersebut, Sabalenka sempat memegang kendali: ia memiliki satu set yang dominan sekaligus memimpin dengan dua break melawan petenis unggulan 25, Diana Shnaider. Tetapi pertandingan berbalik, hingga Sabalenka akhirnya harus menerima kekalahan dengan skor 3-6, 7-5, 6-0.
Ia juga mengalami situasi yang hampir serupa dalam fase awal musim lapangan tanah liat. Di Madrid, Sabalenka gagal memanfaatkan enam match point melawan Hailey Baptiste. Lalu di Roma, ia sempat memiliki keunggulan pada set pertama atas Sorana Cirstea, namun kemudian membiarkan momentum lepas.
Rentang peralihan ke lapangan keras Amerika Utara juga tetap menunjukkan adanya kerentanan tertentu. Di Cincinnati, Sabalenka sempat menampilkan keunggulan yang jelas atas lawan berusia 20 tahun, Sara Bejlek, sebelum akhirnya tumbang dengan hasil straight sets. Meski begitu, timnya tidak memasukkan momen-momen itu sebagai alasan panik.
Jason Stacy, pelatih performa tinggi Sabalenka, menjelaskan cara tim memandang situasi tersebut. “We all understand that this is just part of the thing,” katanya. Menurut Stacy, tim memberi ruang agar Sabalenka bisa menjadi dirinya sendiri, sekaligus membantu menemukan apa yang mungkin bekerja untuk kondisi saat ini. “Giving her that freedom, but also knowing that she has the guidance of all of us, I think that just gives her a power that few are lucky enough to have.”
Rybakina pun bukan datang tanpa keraguan. Sejumlah masalah fisik sempat mengancam partisipasinya. Di perempat final Cincinnati, ia terjatuh dan memutar pergelangan kakinya, hingga tak mampu berjalan selama beberapa hari. Kondisi itu membuat peluang untuk bahkan tampil di Flushing Meadows sempat dipertanyakan.
Tetapi, juara Wimbledon 2022 tersebut tetap bisa bermain, lalu membuktikan bahwa ia sanggup menemukan ritme cepat. Rybakina melaju melalui empat pertandingan pertamanya dengan lancar, didukung oleh permainan servis yang sangat kuat. Servisnya jarang memberi ruang bagi lawan untuk masuk ke poin-poin penting.
Kemenangan-kemenangan berikutnya juga menjadi sinyal ketahanan. Rybakina mengalahkan Zheng Qinwen dari China dan kemudian Coco Gauff, yang bermain sebagai favorit tuan rumah. Dua hasil itu menunjukkan bahwa ia siap menghadapi tekanan, baik dalam reli baseline maupun benturan fisik dalam duel yang keras.
Croft menambahkan konteks yang memperkuat narasi kebugaran Rybakina. “She wasn’t even hitting balls three weeks ago,” ujarnya. Ia menilai bahwa yang menarik adalah Rybakina mengatakan ia melakukan pekerjaan lain bersama timnya, melakukan banyak hal tanpa menyentuh bola tenis. Croft menyimpulkan bahwa kemungkinan itu berkaitan dengan persiapan mental, dan bahwa ia membawa kesegaran ke turnamen ini.
Dengan kedua pemain yang sama-sama berhasil mengatasi keraguan sebelum US Open, keduanya menegaskan posisi mereka sebagai dua figur paling menonjol di tur WTA. Final yang mempertemukan Sabalenka dan Rybakina sekaligus menutup rangkaian Grand Slam musim seperti awalnya: ketika mereka bertemu di pentas Australian Open.
Menjelang laga pamungkas, Sabalenka menekankan bahwa sepanjang musim ini ia merasakan dorongan besar yang tersisa menjelang penutup tahun. “Talking about Grand Slams, it feels like a last push of the season,” katanya. Ia menambahkan, “The mentality is just ‘I’m ready’. I’m ready for whatever it’s going to take to get the win.”
Target Sabalenka tahun ini juga jelas. Ia berupaya meraih gelar mayor pertamanya di tahun 2026, dan final US Open 2026 memberi kesempatan untuk mewujudkan ambisi itu sekaligus membalik dinamika yang sempat mengubah peta peringkat dunia.












